
Stevie menatap tidak percaya, dan tanpa sadar gadis itu malah tidak melakukan apa-apa. Baginya, berita yang baru saja disampaikan oleh laki-laki muda di depannya itu, seakan merupakan berita yang sangat menggembirakan, Impian dan harapan dari mamanya, yang selama ini tidak pernah terwujud, karena papanya Armansyah dengan kekuatannya, bisa menghalangi petugas yang melakukan pengurusan. Bahkan dirinya dan mamanya yang akan berakhir menjadi korban penyiksaan dari laki-laki kejam itu.
"Ayolah sayang.. apakah kamu tidak percaya. Aku tidak berbohong, dengan kekuatan kakak iparmu, hal ini hanya menjadi pekerjaan kecil. Kita tinggal datang ke catatan sipil, tidak akan ada upaya perdamaian, akta cerai sudah disiapkan oleh mereka. Ayolah Stevie.. temani aku.." dengan suara yang sudah diturunkan intonasinya, Alexander berusaha meluluhkan hati gadis itu.
"Beberapa saat kemudian, tanpa menjawab Stevie sudah berdiri. Dengan santainya, Alexander meletakkan tangan di sisi bahu Stevie, dan laki-laki itu berjalan sambil merangkul gadis yang menurutnya sangat unik dan menarik itu. Entah karena tidak sadar, atau untuk menghargai Alexander, Stevie hanya mendiamkan tingkah dan perilaku laki-laki muda itu. Hingga akhirnya mereka sampai di tempat parkir mobil, dan terlihat pengawal segera menyambut kedatangan mereka dengan membukakan pintu mobil. Alexander segera membawa Stevie untuk duduk di kursi tengah, dan pengawal segera menjalankan mobilnya.
"Tidak bisakah kamu dan kakakku pergi tanpa melibatkan pengawal..?" melihat keberadaan pengawal yang selalu berada di sekelilingnya, Stevie merasa risih. Dalam hati, gadis itu berpikir jika kakak yang baru ditemukannya itu, dan juga laki-laki di depannya itu terlalu memperalat para pengawal.
"Apakah kamu tidak sadar Stevie.., jika aku atau kakakmu tuan muda Alexander memecat para pengawal itu, siapa yang akan memberinya penghasilan pada mereka. Dengan keberadaan mereka, semua menjadi lebih praktis, bukankah demikian. Lihatlah dari dua sudut pandang, jangan hanya melihat sesuatu dari kelihatannya saja." melihat ekspresi dari Stevie yang tidak enak dilihat, dengan suara pelan Alexander menjelaskan pada gadis itu.
"Hmm terserah kalian saja jika begitu.. bisa-bisa ketika kak Alex dan kak Sandra sedang melakukan honeymoon, di sekelilingnya juga didampingi para pengawal.." dengan nada sarkasme, tiba-tiba gadis itu membuat pernyataan.
"Ha.. apa yang kamu katakan sayang. Aku ingin mendengarnya lagi.." Alexander kaget mendengar perkataan Stevie, dan laki-laki muda itu sontak menoleh ke wajah gadis itu., Tidak sengaja, ternyata gadis itu juga sedang menatapnya, dan kedua anak muda itu menjadi bertatapan.
"Busyet... ternyata matanya berbinar sangat indah sekali.." melihat sinar mata Stevie, ALexander mengagumi, dan membatin sendiri.
Laki-laki itu masih terus memandang mata Stevie, dan sampai akhirnya gadis itu seperti tersadarkan jika menjadi objek pandangan laki-laki di depannya. Gadis itu perlahan mengalihakan pandangan, dan ketika akan menundukkan wajah, tangan Alexander sudah berada di dagu gadis itu dan menahan wajah Stevie untuk tetap berada dalam garis pandangannya. Tiba-tiba saja, jantung Stevie berdegup kencang, dan tanpa ada yang menyadarinya, wajah Alexander tiba-tiba menunduk ke bawah, dan tanpa aba-aba bibir laki-laki itu sudah menyambar bibir Stevie. Keduanya tanpa ada yang memulai, saling berpagutan dan berciuman untuk beberapa saat.
"Aakh... kak.." tanpa sadar, bibir Stevie mende**sah pelan, dan beberapa saat sepertinya gadis itu menjadi tersadarkan. Kedua tangannya mendorong dengan kencang dada Alexander ke depan, dan Stevie segera menggeser tempat duduknya merapat ke arah pintu.
Dari depan, wajah pengawal menjadi merah menahan malu, melihat ada kejadian intim di belakangnya. Namun sebagai seorang pengawal yang harus selalu menjaga rahasia pihak yang menyewanya, laki-laki muda itu hanya terdiam sambil menahan gejolak dalam hatinya.
*********
Sesampainya di hotel, dengan perasaan canggung Alexander berjalan pelan memberikan pengawalan pada Stevie di belakangnya, Gadis itu juga tidak berbicara apa-apa, langsung berjalan meninggalkan Alexander, ketika mobil sudah berhenti di tempat parkir hotel, Alexander juga tidak mampu untuk menahan kepergian Stevie, dan hanya berjalan mengikutinya.
"Mama.., kakak..." melihat keberadaan mamanya Sheilla, dan kedua kakaknya yang sedang berada di ruang tengah, Stevie langsung menghampiri mereka.
"Jangan khawatir mam.. semua urusan jika sudah diurus oleh kak Alex.. semua pasti sudah akan berjalan dengan lancar. Kak Alex sangat bisa diandalkan untuk mengurus semuanya." Cassandra menimpali, dan sengaja memuji laki-laki muda itu di depan mama mertuanya.
Andreas Jonathan kaget mendengar Cassandra istrinya berani memuji laki-laki lain di depannya. Laki-laki muda itu, dengan sigap menarik tubuh Cassandra untuk lebih mendekati tubuhnya, kemudian tanpa merasa malu memeluk Cassandra di depan anggota keluarganya.
"Honey berani memuji laki-laki lain di depanku.." dengan tatapan mata mengandung peringatan, Andreas Jonathan berbicara lirih pada istrinya.
"What..., itu kak Alex.. kak.." dengan tidak berdaya, Cassandra berusaha untuk membela diri. Stevie dan Nyonya Sheilla terkejut mendengar kata-kata Andreas Jonathan. Sedangkan ALexander, yang sudah terbiasa hanya senyum-senyum melihat pasangan suami istri itu. Tidak hanya kali ini saja, Alexander melihat penyebab tuan mudanya cemburu kepadanya. Padahal sejak awal mereka mengenal Cassandra, dialah yang terlebih dulu berhubungan akrab dengan gadis itu.
"Apa honey pikir, Alexander itu bukan laki-laki..? Laki-laki itu bisa saja ge er, dan berpikiran buruk tentangmu.." dengan tidak berdaya, Alexander harus mau menjadi pelampiasan tuduhan dari tuan mudanya.
Cassandra geleng-geleng kepala, dan tidak mau berpanjang ribut dengan suaminya, di depan orang-orang itu Cassandra mencium dengan cepat bibir Andreas Jonathan. Laki-laki muda itu terkejut dengan sikap impulsive istrinya, dan baru kali ini di depan orang-orang, Cassandra bisa memiliki inisiatif untuk memberikannya ciuman. Mata Andreas Jonathan, dan dengan senyum smirk di wajahnya, laki-laki muda itu tanpa peringatan, langsung mengangkat tubuh Cassandra dan membawanya pergi dari ruang tengah itu.
"Kak.. lepaskan Sandra... kita mau kemana..?" Cassandra berteriak mencegah suaminya membawanya pergi.
Namun bibir Andreas Jonathan sudah menutup bibir gadis itu, sambil memagutnya sambil berjalan menuju ke dalam kamar.
Di belakang mereka, Stevie sampai kaget dan tidak bisa menutup mulutnya melihat sikap barbar kakak kandungnya. Pipinya memerah menahan malu, dan hal itu dilihat oleh Alexander.
"Tante Sheilla.. ijinkan Stevie untuk segera menikah dengan Alex.. ya tante. Lihatlah.. melihat kemesraan tuan muda dan nona muda Cassandra, muncul rasa ingin dalam hati Stevie. Lihatlah pipi Stevie tante.." tidak diduga, Alexander menggunakan kesempatan itu untuk menggoda Stevie.
"Apa sih yang kamu bicarakan..., bisa-bisanya bicara ngaco dengan mama. Jangan didengarkan laki-laki gila ini mam.. sama saja dengan kak Andre.. ternyata setali tiga uang.." mendengar kata-kata tidak tahu malu Alexander, Stevie berusaha mengabaikannya.
Nyonya Sheilla hanya tersenyum, dan geleng-geleng kepala melihat sikap menantu, dan anak muda yang ada di depannya itu. Kebahagiaan mulai datang dan mengaliri sudut hati perempuan paruh baya itu, kebahagiaan yang sudah lama hilang dan terenggut dari hidupnya.
********