
Inter Laken Swiizerland
Stevie berdiri di depan mansion kakak kandungnya, gadis itu menghirup udara bersih. Matanya tampak berbinar melihat pemandangan alam yang tampak memanjakan matanya. Gugusan gunung terlihat jelas di depan matanya, dengan pepohonan yang hijau seakan membentuk sebuah lukisan Tuhan. Berbeda dengan kondisi yang dilihat Stevie di kota Zurich, yang banyak didominasi oleh bangunan rumah dan gedung berkonsep modern. Tetapi tempat dimana gadis muda itu berdiri, terlihat sangat sepi dengan jarak antara rumah satu dengan rumah lainnya, relatif masih jauh.
"Kak Andre memang sangat cerdas memilih tempat tinggal... Hunian ini benar-benar sangat nyaman, begitu sampai ke rumah, sudah seperti relaksasi. Hanya menahan udara dingin saja, yang harus ditahan di tempat ini. Untuk skala 1 - 10, aku memberikan nilai 9.9.." Stevie bergumam,
"Apakah kamu masih meragukan siapa suamiku Stevie...,?" ternyata tanpa Stevie sadari, berdiri di belakangnya dan melihatnya sejak tadi, Cassandra sambil tersenyum merespon perkataannya.
"Meskipun casing kakakmu itu terlihat cool, dan beberapa orang mengatakan sebagai orang yang arogan. Tetapi kak Andre itu orang yang lembut, dan sangat romantis terutama kepadaku, maupun kepada orang-orang yang sangat disayanginya. Selama kak Sandra menikah dengan kak Andre, belum sekalipun kakakmu itu berbicara keras kepadamu. Padahal ketika masih sebagai bawahan di PT. Indotrex. Tbk, kata-kata judes menjadi makanan kak Sandra sehari-hari. Tetapi semua menjadi bertolak belakang setelah kita menikah.." sambil tersenyum, Cassandra memuji-muji suaminya,
"Iya kak... Stevie paham karena kak Alex banyak menceritakan kehidupan kalian berdua. Selain itu, Stevie juga sudah melihatnya sendiri kak. Jika bukan karena bantuan kak Sandra, mungkin Stevie dan kak Alex sudah diusir keluar dari negara ini kak... Stevie melihat sendiri bagaimana melelehnya hati kak Andre, jika sudah bersama dengan kak Sandra.." Stevie mengiyakan kata-kata yang diucapkan kakak iparnya itu.
Kedua perempuan yang sama-sama sangat menyukai petualangan itu, melihat ke depan. Tampak puncak gunung Harder Kulm terlihat tertutup salju di atasnya, menantang orang-orang yang melihatnya untuk bertualang ke atas gunung tersebut. Tampak kekaguman dan keinginan dari dua perempuan muda untuk melihat lebih dekat ke puncak gunung tersebut, tetapi mengingat siapa posisi dirinya saat ini, kedua perempuan muda itu hanya bisa tersenyum kecut.
"Kak Sandra... ketika hanya berdua dengan Altezz di kota ini tanpa kak Andre, hal apa yang kalian berdua lakukan disini kak, Apakah kakak dan Altezz berjalan-jalan ke objek wisata di kota ini kak..?" dengan rasa ingin tahu, Stevie tampak menanyakan aktivitas yang dilakukan oleh kakak iparnya itu.
"Tidak Stevie..., bersama dengan Altezz setiap pagi, kami hanya berjalan-jalan di sekitar tempat ini saja Stevie.. Pernah juga sekali jalan ke kota, ke shopping mall dengan seorang teman. Objek wisata danau Brienz tidak jauh dari tempat ini, pernah kami datangi sekali bersama dengan Altezzl diantarkan oleh kak Andre. Itu saja Stevie.." Cassandra menceritakan aktivitasnya selama ini. Namun sama sekali tidak terlihat ada kekecewaan di wajahnya, meskipun tidak banyak namun terlihat Cassandra tetap menikmati dan bersyukur.
Tiba-tiba Cassandra melihat ada dua orang laki-laki yang tampak sejak tadi melihat ke arah mereka berdiri, karena dengan berdiri di teras mansion, mereka bisa melihat situasi yang ada di jalan depan mansion tersebut. Cassandra sedikit curiga, karena dua orang laki-laki itu terlihat sejak tadi seperti mondar mandir seakan mencari tahu alamat seseorang. Tetapi mengingat dimana keberadaannya saat ini, akhirnya Cassandra berusaha menepis rasa curiganya itu.
*************
Andreas Jonathan tampak sedang duduk saling berhadapan dengan adik iparnya Alexander. Kedua laki-laki muda itu tampak sedang serius membicarakan hal yang serius. Terlihat di meja depan keduanya, beberapa kertas dan pulpen seperti tempat menggambarkan sketsa strategi yang diambil oleh keduanya. Meskipun mereka sedang tidak berada di perusahaan, namun keduanya masih memikirkan bagaimana agar perusahaan di Jakarta masih tetap berjalan. Beberapa perusahaan milik Andreas Jonathan yang berada di luar negeri, yang selama ini tidak begitu diperhatikan, saat ini mulai sering diperhatikan dan dipikirkan oleh suami Cassandra itu.
"Bagaimana pendapat kak Andre.. dengan perusahaan start up, subsidiary dari Indotrex yang berada di negara Swedia.. Sudah tiga bulan, pengelola di perusahaan itu belum bisa meningkatkan omzet penjualan kak.. Apakah akan kita tutup saja perusahaan itu, ataukan akan kita suntikkan dana untuk pengembangannya.." dengan hati-hati, Alexander bertanya tentang perusahaan baru mereka.
Andreas Jonathan terdiam sebentar, dan beberapa saat kemudian setelah berpikir beberapa saat...
"Waktu di bawah tiga tahun masih bisa dikatakan sebagai batas waktu yang wajar untuk kita mengevaluasi sebuah perusahaan Alex... Jangan tergesa dan jangan terburu, kita akan lihat beberapa saat lagi. Jika perlu, ambil salah satu tim marketing kita dari Jakarta, perbantukan salah satu dari mereka untuk back up dan memberikan training pada orang-orang di Swedia.." tiba-tiba muncul ide dari papanya Altezza,
"Benar juga ide dari kak Andre... atau bagaimana jika mencoba untuk menggunakan Herlambang, laki-laki yang juga menjadi sahabat dari Cassandra. Aku melihat anak muda itu memiliki jiwa pantang menyerah, dan suka melihat sesuatu yang baru. Herlambang sangat berpotensi kak.." Alexander berpikir tentang Herlambang.
"Bagus juga idemu Alex.. segera eksekusi. Kemudian kemungkinan kita memasuki pasar di timur tengah, apakah kamu ada pertanyaan atau ide baru. Dubai, Abu Dhabi... Qatar saat ini baru menjadi ikonik, dan negara-negara itu sedang menjadi sorotan negara-negara di dunia, karena sikap fenomenal mereka terhadap LGBT pada piala Dunia beberapa waktu lalu.. Aku sangat tertarik untuk masukkan produk, atau bermain di pasar negara-negara itu.." tiba-tiba dengan tatapan serius, Andreas Jonathan bermaksud mengembangkan perusahaan di negara-negara timur tengah.
"Jika hanya mendirikan perusahaan distributor saja, tidak akan menjadi masalah untuk perusahaan kita kak.. Tetapi untuk mendirikan perusahaan baru di negara itu, menggunakan produk kita yang sudah ada, sepertinya tidak mungkin. Kita akan kesulitan mendapatkan akses bahan baku, ataupun jika tetap memaksakan diri maka perusahaan itu hanya akan menjadi cost center saja, Akan menyedot profit yang sudah dihasilkan oleh perusahaan kita yang lainnya.." Alexander menyampaikan hasil analisis sementara.
"Hmm.. benar juga Alex.., tetapi jangan pantang menyerah. Mau mendirikan perusahaan distributor atau apapun, kita harus tetap melakukannya. Aku punya mimpi bisa menjadi DANONE atau Coca Cola yang bisa menguasai pasar di seluruh dunia.. Kita buktikan jika produk dari negara kita Indonesia, juga bisa seperti produk-produk itu Alex.." dengan bersemangat Andreas Jonathan menyampaikan mimpi dan keinginannya.
*********