CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 163 Tidak Berangkat ke Perusahaan



Beberapa saat Stevie tidur dalam pelukan Alexander, dan sekitar tiga jam kemudian gadis itu terjaga dari dalam tidurnya. Stevie merasa bingung, karena ada sepasang tangan yang kuat tengah merengkuhnya, dengan hembusan nafas yang membuat bulu kuduknya berdiri. Kehangatan dada Alexander juga terasa dekat sekali dengan lehernya. Stevie menengadahkan wajah, dan kepalanya terantuk dengan dagu Alexander.


"Kenapa aku bisa berada dalam pelukan kak Alex.., bukannya aku tadi hanya berniat untuk merebahkan tubuhku sesaat saja ya. Tapi kak Alex sudah berada dalam satu ranjang denganku.." Stevie bingung, dan karena merasa takut dengan kenyamanan berada dalam pelukan laki-laki itu, Stevie berusaha melepaskan diri dari pelukan Alexander.


Tetapi tangan Alexander terasa sulit untuk dilepaskan, dan hembusan nafasnya semakin terasa menggelitik kulit dan perasaan Stevie. Gelenyar-gelenyar aneh mulai muncul, dan membuat sesak nafas Stevie.


"Aku tidak mau terlalu jauh masuk dalam lingkaran perasaan dengan kak Alex.. Aku tidak tahu, apakah kak Alex benar-benar menyayangiku, ataukah hanya menjalankan tugas dari kak Andre untuk menjagaku." dalam hati, Stevie berusaha menguatkan tekadnya,


Gadis itu kembali berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Alexander. beberapa saat berusaha, ternyata gerakannya itu membangunkan Alexander. Mata laki-laki itu akhirnya terbuka, dan karena masih bangun tidur, terlihat Alexander belum menguasai diri sepenuhnya. Stevie segera mengeluarkan tubuhnya dengan membuka tangan laki-laki itu,


"Kamu sudah bangun Stevie.., tidurlah lagi jika masih mengantuk. Aku sudah memberi tahu tuan muda, jika tidak pergi ke perusahaan kali ini. Juga melaporkan padanya, jika kamu aman sudah bersamaku.." ternyata Alexander mengetahui Stevie berusaha melepaskan diri darinya.


"Hmm.. iya kak Alex.. Stevie haus dan perut merasa lapar." Stevie menggunakan alasan lapar, untuk melepaskan diri dari laki-laki itu.


"Minuman coklatmu aku masukkan ke tumbler, jika di bawah empat jam, aku pastikan minumanmu masih panas." sembari membangunkan tubuhnya dari atas bed, Alexander menanggapi kata-kata Stevie.


"Ya kak.."


Alexander segera mengambil ponsel, ternyata laki-laki itu mengintruksikan pada ART untuk menyiapkan makanan di meja makan. Setelah selesai, laki-laki itu menyusul Stevie yang membawa tumbler keluar dan menikmati pemandangan kota Bogor dari balkon kamar Alexander. Stevie tampak antusias mengamati pemandangan dari atas balkon itu, sambil beberapa kali meneguk minuman coklat dari dalam tumblernya. Udara dingin di kota itu, memang sangat cocok dengan minuman panas yang berada di tangan Stevie.


"Stevie.. aku akan mandi dulu. Beberapa saat lagi, kita akan menuju ke meja makan untuk menikmati sarapan pagi yang sudah terlambat. Yah.. kita anggap saja sebagai makan siang kita. Untuk selanjutnya terserah padamu, jika kamu masih merasa nyaman dengan tempat ini, maka kamu bisa menginap dan tinggal di rumahku untuk beberapa hari. Tapi jika mau kembali ke Pant House, aku juga akan ikut kesana." Alexander menyampaikan beberapa kalimat pada Stevie, kemudian meninggalkan gadis itu sendirian.


"Hmm.. sangat nyaman dan cocok tinggal di rumah ini. Sepi, tidak bising, dan udaranya sejuk. Tapi aku tidak mau membuat kak Sandra khawatir.., aku harus kembali dulu ke Pant House, baru minta kak Alex untuk mengijinkanku menginap di tempat ini.." Stevie merasa cocok dengan rumah ini.


Setelah menghabiskan minuman coklat di dalam tumbler, dan mengambil dua potong singkong goreng, Stevie kemudian berjalan keluar dari dalam kamar Alexander. Selalu berada di dekat laki-laki itu, sudah hilang rasa risih, atau tidak nyaman berada di samping laki-laki itu. Yang ada hanya perasaan selalu dijaga dan dilindungi olehnya, yang selama ini tidak pernah dirasakan selama tinggal di Singapura dengan mama Sheilla,


********


PT Indotrex. Tbk


"Selamat pagi tuan muda Andreas, dan nona muda Cassandra.." beberapa karyawan yang berpapasan dengan pasangan suami istri itu menyapa keduanya dengan bersemangat.


"Selamat pagi juga.. mari Tyas, Rara.. dan Rahman.." dengan suara merdunya, Cassandra menjawab sapaan itu, untuk menghormati karyawan suaminya.


Para karyawan itu terlihat sangat senang, karena istri dari CEO perusahaan menjawab sapaan mereka. Namun sepertinya, Andreas Jonathan tidak berkenan. Laki-laki itu langsung menggandeng tangan istrinya kemudian membawanya masuk ke dalam lift yang sudah dijaga oleh security lobby.


"Kak Andre.. bersikap ramahlah sedikit saja dengan para karyawan. Hal itu bisa menambah mood mereka dalam bekerja, merasa diperhatikan oleh atasan mereka. Jangan malah diam saja, bahkan terkadang cemberut ketika berjalan di depan mereka." di dalam lift, Cassandra mencoba menasehati suaminya.


"Hmm.. mereka sudah hafal dengan sikap dan karakterku honey.. Tidak perlu khawatir dan meributkan mereka." Andreas Jonathan malah memeluk dan mendekap Cassandra, dan ketika pintu lift berhenti laki-laki masih dengan memeluk gadis itu membawa Cassandra keluar.


Cassandra hanya mengambil nafas panjang, tidak berkomentar dengan apa yang dilakukan suaminya. Beberapa langkah menuju ruang kerja suaminya, tiba-tiba terlihat Herlambang sedang berbicara dengan miss Cathy dan langsung berhenti ketika melihat Andreas Jonathan dan Cassandra sedang melintas.


"Selamat pagi tuan muda, nona muda.." hampir bersamaan miss Cathy dan Herlambang memberi sapaan pada atasan mereka.


"Selamat pagi, kak Herlam.. memangnya dimana ruang kerjanya. Pagi-pagi sudah sampai di ruang kerja Miss Cathy.." dengan polosnya, Cassandra menanyakan ruang kerja Herlambang.


Cassandra sama sekali tidak sadar, jika pertanyaannya itu membuat suaminya Andreas Jonathan merasa cemburu. belum sampai herlambang menyampaikan jawaban, laki-laki CEO perusahaan itu, sudah membawa istrinya masuk ke dalam ruang kerja.


"Hmm.. sangat sensitif dan cemburu sekali tuan muda, aku benar-benar tidak menyangka laki-laki seperti itu yang menjadi suami dari adik angkatku.." Herlambang bergumam.,


"Hush.. jaga bicaramu Herlam.. Kamu tidak berhak berkomentar atas hubungan mereka. Sikap dan karakter tuan muda itu, jika kamu mau tahu selalu menjadi pembicaraan kami kaum perempuan,. Semua memimpikan bisa memiliki suami sekaliber tuan muda.." dari sebelahnya, Miss Cathy membela tuan muda.


"Sampai sebegitukan obsesi kalian para perempuan. Sebagai sesama laki-laki, sangat murahan sekali sikap tuan muda itu, tidak mau berbagi dengan orang lain, seakan-akan ingin menguasai sendiri wanitanya." kembali Herlambang berkomentar.


Tapi laki-laki itu kemudian berpikir sendiri, jika dirinya yang berada di posisi laki-laki itu, mungkin dirinya juga akan sangat over protective menjaga Cassandra. Akhirnya laki-laki itu hanya bisa tersenyum kecut, mentertawakan dirinya sendiri.


**********