CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 191 Kesialan



Di sebuah markas yang ada di sebuah gunung, terlihat Thanom sedang duduk dengan banyak makanan ada di depannya. Armansyah dan Sandrina juga terlihat berada di dalam ruangan itu, dan mereka duduk dengan saling berhadapan. Sedangkan Jennifer tidak terlihat, karena gadis itu merasa sedih dan terpuruk, karena menyesali apa yang sudah dilakukannya, yang akhirnya menghantarkan sampai ke tempat itu. Belum lagi, banyak laki-laki di markas itu, yang selalu melecehkan dan berusaha mendekati gadis itu.


"Aku mendapat kabar dari anak buahku yang masih banyak berada di Jakarta, pagi ini sepertinya Wijaya menyelenggarakan akad nikah untuk putrinya. Bagaimanapun aku memiliki kedekatan emosional dengan Stevie, yang akan menikah hari ini. Aku memegang gadis itu, ketika pertama kali dia terlahir di dunia ini, jadi aku tidak membuat gerakan apapun, dan membiarkan pernikahan hari ini tetap terselenggara." Armansyah tanpa sadar menceritakan kabar dari Jakarta.


"Hmm.. begitu rapuhnya dirimu kak Arman..., seharusnya melalui Stevie, kamu bisa menggunakannya sebagai alat untuk balas dendam. Pasti akan banyak tamu undangan yang akan hadir bukan, kamu bisa memerintahkan orang-orangmu untuk menyusup ke dalam. Tidak akan terdeteksi, karena tidak mungkin Andreas Jonathan ataupun Wijaya akan mampu melakukan screening pada tamu-tamu mereka." Sandrina berkomentar pada ucapan Armansyah.


Laki-laki tua itu tersenyum sinis, dan menatap ke arah Sandrina dengan pandangan tajam.


"Ternyata nurani keibuanmu sudah mati Sandrina.., bukankah kamu sudah pernah merasakan menggendong Andreas Jonathan ketika anak muda itu masih kecil. Aku memegang tubuh Stevie ketika bayi itu terlahir dari rahim Sheilla, dan melihat bagaimana tali pusar bayi kecil itu masih berada di pusatnya. Aku masih mengingat semua itu Sandrina, dan meskipun gadis itu bukan darah dagingku, meskipun dengan semua keterbatasanku, aku tetap menganggap Stevie sebagai putriku.." dengan nada keras, Armansyah menukas ucapan Sandrina,


Sandrina terdiam, perempuan itu selalu menggunakan suster pengasuh untuk mengawasi dan merawat Andreas Jonathan, dan tidak pernah benar-benar bisa menyayangi anak kecil itu ketika pertama kali bertemu dengannya. Jadi, mendengar apa yang diucapkan oleh Armansyah, tidak ada gelitik di dalam sanubarinya.


"Sudahlah.. abaikan saja kabar dari Jakarta. Kita harus fokus pada target siapa yang akan kita bidik selanjutnya. Aku mendengar dari orangku yang ada di bandara, pernah melihat private jet yang membawa istri dari laki-laki putra Wijaya itu beserta anaknya pergi dari bandara Halim perdana Kusumah, Tetapi orangku belum bisa mengetahui kemana arah tujuan dari pesawat itu, bahkan pihak bandara tidak bisa menembus informasi itu.." Thanom kembali mengembalikan fokus pembicaraan mereka.


"Benar Thanom, aku sepakat dengan apa yang kamu katakan. Kita akan biarkan anak tiriku Stevie menikah dulu dengan laki-laki pilihannya, baru kita akan kembali berurusan dengan keluarganya. Untuk kelanjutan menembus informasi, dimana Cassandra dan Altezza disembunyikan, siapa yang bisa mendapatkan informasinya.." Armansyah menimpali perkataan Thanom.


Sandrina mengambil nafas panjang, akhirnya perempuan itu terdiam tidak lagi mengusulkan kata-kata. Meskipun dalam hati, perempuan itu masih dongkol dan ingin mengacaukan proses akad nikah itu. Namun kata-kata dari saudaranya, dan juga Thanom yang sudah menikah dengannya, tidak bisa dia bantah lagi.


"Sandrina.. mungkin kamu bisa bertanya pada Jennifer, gadis itu akhir-akhir ini hanya bersembunyi di dalam kamar saja. Dalam circle pergaulannya di masa lalu, ketika perempuan itu masih menjadi artis muda, apakah tidak memiliki pertemanan, atau orang yang bisa dipercaya untuk menembus informasi di bandara, Hanya untuk melacak, dimana Andreas Jonathan menyembunyikan anak dan istrinya.." Armansyah tiba-tiba bertanya pada Sandrina.


"Aku akan menanyainya sebentar lagi, sepertinya gadis itu sangat tertekan dengan keberadaan kita di tempat ini. Aku akan menunggunya ketika gadis itu bangun dan membuka pintu.." Sandrina menyanggupi instruksi dari Armansyah.


********


Jennifer yang memejamkan matanya sejak tadi tiba-tiba mende**sah, dan merasakan kenikmatan. Dalam tidurnya, gadis itu merasa ada seorang laki-laki itu yang sedang menggerayangi tubuhnya, dan memberinya ciuman juga hisapan di beberapa titik-titik sensitif di tubuhnya. Beberapa saat gadis itu merasa tidak sadar, tetapi semakin lama Jennifer merasakan jika yang terjadi padanya seperti menunjukkan sesuatu yang nyata. Hisapan pada dua niple di bukit kembarnya, membuat gadis itu melayang dan matanya mulai berkabut. Tetapi beberapa saat kemudian...


"Aaaawww... siapa kamu, kenapa bisa masuk ke kamarku. Pergi.. pergi.., aku tidak mau bermain denganmu, kamu terlalu menjijikkan.." tiba-tiba Jennifer berteriak dan menampar laki-laki nyata yang ternyata sudah menindih tubuhnya, ketika gadis itu masih tertidur.


"Hmmm... janganlah jual mahal di tengah hutan seperti ini Jenni, apalagi kamu sudah tidak berada lagi di negaramu Indonesia. Menyerah dan bersikaplan manislah denganku, aku akan bisa mewujudkan impianmu.. Tetapi jika kamu berani menolakku, tidak akan ada yang akan berani memberikan pertolongan denganmu. Termasuk perempuan tua yang datang bersamamu.. ayolah Jenni..." laki-laki yang ternyata masih keponakan Thanom yang bernama Arron itu melihatnya dengan pandangan penuh naf**su.


"Kamu menjijikkan Aroon.. pergilah dari kamarku..." Jennifer terus menjerit, dan berusaha untuk mengusir Arron pergi dari kamarnya. Gadis itu memundurkan tubuhnya sampai merapat ke dinding kayu yang ada di belakangnya, dengan Arron yang tersenyum dengan smirk menatapnya.


Arron berjalan mendekati Jennifer yang duduk di atas ranjang, dengan merapat dinding sambil menutup bagian dadanya dengan menggunakan kedua tangannya. Laki-laki itu tidak melepaskan pandangannya dari gadis itu, dan malah sambil tersenyum terus berusaha mendekati gadis itu.


"Ayolah Jenni.. kita lakukan atas dasar suka sama suka, dan saling membutuhkan. Aku akan meratukanmu jika kamu mau melakukan apa yang aku inginkan sayang, dan bahkan jika kamu bersedia, aku akan mengajakmu untuk menikah seperti yang dilakukan pamanku Thanom dengan perempuan tua yang datang denganmu.." Arron terus mendesak ke arah Jennifer.


Gadis itu terus merasa ketakutan, dan ketika Jennifer akan kembali berteriak, tangan Arron sudah menutup mulut Jennifer dan langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Jennifer merasa tidak berdaya, karena dari posisi dan segi tubuh, ada kesenjangan dengan laki-laki yang tampak bernaf**su itu. Laki-laki muda itu langsung menarik pakaian yang dikenakan oleh Jennifer, dan tidak lama kemudian tubuh mulus gadis itu sudah tersingkap.


"Hmm.. sangat mulus sekali ternyata tubuhmu Jenni.. kamu harus menjadi milikku.." tanpa memberikan kesempatan pada Jennifer untuk berbicara, Arron sudah merebahkan gadis itu di atas ranjang, dan masih dengan posisi berdiri laki-laki itu melepaskan pakaian yang dikenakannya.


Tidak lama kemudian, dengan air mata berlinang akhirnya Jennifer dengan tidak berdaya, melayani naf**su bejat Arron, keponakan dari Thanom. Hanya isakan tangis mengiringi percintaan yang tidak imbang antara pasangan laki-laki dan perempuan itu.


********