
Akhirnya pada saat jam istirahat, bersama dengan Andreas Jonathan dan Alexander, Cassandra menemani kedua laki-laki itu makan siang di ruang kerja CEO. Sebenarnya gadis itu merasa malu, karena menu makanan yang dimasaknya tadi pagi, tidak sebanding dengan level kedua pimpinannya. Tetapi kedua laki-laki itu tampak menikmati makanan, dan tidak ada protes terhadap rasa dari makanan yang dimasak Cassandra. Bahkan terlihat, keduanya menghabiskan semua makanan yang tersisa.
"Ternyata masakanmu enak Sandra.. dari mana kamu belajar.." pertanyaan yang terdengar seperti pujian keluar dari bibir Alexander.
"Mana sempat belajar tuan Alex, itu hasil belajar otodidak karena terpaksa saja. Maklum hidup sendiri di Yogyakarta, harus pandai berhemat tuan. Mengandalkan uang bantuan beasiswa, dan kerja free lance memaksa saya harus menghemat pengeluaran. Jadilah.. setiap hari saya memasak sendiri untuk memenuhi kebutuhan konsumsi." Cassandra merasa malu, menceritakan kisah masa kuliahnya.
"Hebat itu namanya Sandra, bisa memanfaatkan peluang dan meminimalisir resiko keuangan. Makanya, terkadang aku mengagumi pola pikirmu dalam penyelesaian masalah. Ternyata sudah sejak sekolah kamu sudah terlatih untuk menyelesaikan masalahmu sendiri. By the way.. dimana kedua orang tuamu, apakah mereka menghentikan dukungan terhadap studimu?" tidak diduga, perkataan Alexander menyinggung orang tua gadis itu.
Hati Cassandra tersentak mendengar perkataan bosnya itu. Seketika gadis itu masuk dalam lamunan, mengingat kembali wajah mamanya yang sudah empat tahunan, tidak lagi pernah dikunjunginya. Sikap saudara tiri bawaan dari suami mamanya, dan juga sikap suami mamanya yang membuat gadis itu enggan berhubungan lagi dengan mamanya. Perasaan takut kehilangan keluarga baru, menjadikan mama Cassandra sering menyalahkan anak gadisnya sendiri.
"Lupakan Sandra pertanyaanku barusan, wajahmu jadi terlihat sedih setelah mendengar pertanyaanku. Abaikan saja." merasa tidak enak dengan pertanyaan barusan, Alexander menganulir pertanyaannya. Andreas Jonathan mengangkat wajahnya dan turut menatap wajah gadis itu.
"Tidak masalah tuan Alex, saya jadi teringat mama saya. Jujur tuan.. sudah empat tahun lebih, Sandra belum pernah bertemu lagi dengan mama, dan bagaimana keadaanya saya juga tidak tahu.." sambil tersenyum kecut, Cassandra menjelaskan pada laki-laki itu.
Alexander tidak menanggapi perkataan gadis itu, tetapi kening laki-laki itu berkerut. Begitu juga dengan Andreas Jonathan yang selalu memiliki hubungan yang buruk dengan mamanya, ikut memperhatikan perubahan wajah Cassandra.
"Kenapa kamu tidak pernah menemuinya, apakah kalian ada pertengkaran sehingga memutuskan tali silaturahmi?" dengan hati-hati, Alexander bertanya pada gadis itu dengan penuh simpati.
Cassandra mengambil nafas dalam, kemudian menghembuskan lagi secara perlahan.
"Mama menikah lagi tuan, dengan seorang duda yang memiliki anak laki-laki lebih tua dari saya. Tetapi perlakuan mereka kepada saya sangat kasar, dan bahkan tidak segan untuk mengusir saya dari rumah kala itu. Melihat hal itu, tidak ada yang dilakukan mama untuk membela saya, dimana mungkin mama terlalu tidak mau lagi kehilangan pendamping hidup. Untungnya selepas SMA, saya mendapatkan beasiswa Bidik Misi, sehingga saya bisa menyelesaikan studi saya di UGM tanpa biaya sepeserpun." ucap Cassandra pelan. Gadis itu tiba-tiba merasa berjalan ke jalur waktu di masa lalu. Suka dukanya kala itu, seakan tergambar lagi dengan jelas di depannya.
"Okay.., okay.. tidak perlu lagi kamu lanjutkan ceritamu Sandra. Saat ini kamu sudah bekerja di perusahaan ini, dan memiliki senjata untuk kamu banggakan pada keluarga baru mamamu. Hanya saja aku berpesan, sekali tempo kunjungi mamamu. Jangan putuskan silaturahmi dengan orang tua ya, terutama mama.." Alexander mengakhiri rasa penasarannya.
"Terima kasih tuan, akan Sandra pikirkan." sahut gadis itu pelan.
**********
"Hanya hari ini saja kan pak, antar saya pulang ke apartemen." dalam perjalanan, Cassandra bertanya pada driver.
"Tidak non.. saya sudah diperintah oleh tuan muda, jika mulai hari ini urusan antar jemput dari apartemen ke perusahaan, begitu juga kembalinya sudah menjadi tanggung jawab saya. Saya harap, non Sandra juga membantu pekerjaan saya non, mohon untuk bekerja sama. Karena jika tidak, saya akan terkena punishment dari perusahaan." driver yang bernama Rahman itu menjelaskan.
"Tidak begitu juga sih pak.. Masa tuan muda akan melakukan pengecekan sampai sejauh itu. Kita kan bisa bekerja sama pak, saya akan mengaku jika pak Rahman selalu on time melakukan antar jemput saya setiap hari. Tapi ijinkan, jika pagi saya tak berangkat jalan kaki ya pak, sekalian untuk olah raga." Cassandra berusaha merayu laki-laki itu.
"Maaf non Sandra, saya tidak berani. Tuan muda memiliki banyak mata-mata, pengawal. Hanya saja mereka tidak terlihat non.., kita harus berhati-hati dengan tuan muda. Tetapi meskipun demikian, sebenarnya tuan muda itu berhati baik non, suka menolong karyawan yang lemah." ucapan Rahman terkesan menyanjung Andreas Jonathan,
"Mmm.. baiklah pak. Saya ikut saja, tapi jujur pak. Sebenarnya dengan seperti ini, saya merasa kebebasan saya seperti terampas." sahut Cassandra akhirnya sambil tersenyum kecut.
"Sabar non.., padahal seharusnya nona Cassandra ini bersyukur lho. Miss Cathy dan beberapa manajer divisi saja ditolak permohonan mereka untuk mendapatkan fasilitas antar jemput. Karena mereka terbukti menggunakan sarana perusahaan untuk kepentingan pribadi, dan diketahui langsung oleh Tuan Alex. Akhirnya semua fasilitas dihentikan untuk Miss Cathy." Rahman malah tidak sadar menceritakan keburukan manajer divisi SDM.
"Out of topic saja pak, saya turun di depan pintu lobby saja ya. Apartemen saya sudah terlihat di depan.." malas menanggapi gunjingan Rahman, Cassandra mengalihkan pembicaraan.
"Siap non Sandra.." laki-laki itu segera mengarahkan mobil memasuki gerbang apartemen.
Tidak beberapa lama kemudian, Rahman menghentikan mobil tepat di depan pintu lobby apartemen. Security apartemen bergegas membuka pintu mobil.
"Terima kasih pak Rahman.. saya langsung masuk ya." Cassandra tidak lupa berpamitan pada laki-laki yang telah mengantarnya itu. Setelah itu, gadis itu kemudian turun dari dalam mobil.
"Iya non.. sama-sama." sahut Rahman, dan ketika melihat Cassandra sudah keluar dari mobil, driver itu kembali menjalankan mobil yang dibawanya.
Tanpa melihat lagi ke belakang, Cassandra segera memasuki apartemen, dan langsung menuju ke pintu lift. Tidak lama kemudian gadis itu sudah naik menuju ke kamarnya.
***********