
Nyonya Dhini ditemani dengan adik Cassandra yang bernama Armand, kebetulan belum tidur. Mereka masih melihat televisi sehingga mereka mendengar ketika ada orang yang mengetuk pintu utama. Nyonya Dhini segera membukakan pintu, dan sangat terkejut ketika melihat siapa tamu yang datang di malam itu.
"Nak Andre.. nak Alex.. mari masuk ke dalam. Kenapa malam-malam begini, kalian berkunjung ke rumah ini, tidak tadi sore atau siang.." Nyonya Dhini segera masuk ke dalam, dan mempersilakan kedua tamunya untuk segera masuk.
"Iya tante.. kebetulan saja, tadi saya dan tuan muda melintas di Jalan Solo setelah dari Prambanan, Kebetulan tuan muda ada meeting di pagelaran candi, sehingga memutuskan untuk mampir, ketika berada di daerah Kalasan." dengan pintar, karena tidak melihat tanda-tanda keberadaan Cassandra, Alexander mengarang cerita.
"Syukurlah kalian masih mengingat tante nak.... bagaimana dengan kabar kalian semua. Semuanya sehat dan baik bukan.." sambil mengambil botol air mineral kemudian menyuguhkan pada kedua tamunya, Nyonya Dhini menanyakan tentang kabar mereka.
"Kami selalu baik dan sehat tante.. semoga juga dengan keadaan tante." Alexander yang terus menangggapi perkataan Nyonya Dhini. Sejak tadi Andreas Jonathan lebih banyak diam, laki-laki itu mengedarkan pandangan ke sekeliling berusaha mencari tahu keberadaan Cassandra,
"Baguslah kalau begitu, lha ini putri tante kenapa tidak ikut bersama dengan kalian. Padahal tante sudah sangat merinduka gadis itu. Tetapi sudah hampir sembilan bulan, Sandra tidak pernah kirim kabar, hanya uangĀ saja yang selalu dikirimkannya. Padahal jujur nak, tante lebih menyukai mendapatkan kiriman kabar dari putri tante, daripada uang saja yang dikirimkannya." Nyonya Dhini tidak menyadari, jika kebutuhan hidupnya selama ini dijamin dan ditanggung oleh Andreas Jonathan. Hanya Alexander dan bendahara keuangan di perusahaan yang mengetahuinya, jika setiap bulan ANdreas Jonathan memerintahkan untuk mengirimkan sejumlah uang.
Suasana kembali terasa hening, tampak kekecewaan di wajah Andreas Jonathan mendengar kata-kata yang diucapkan Nyonya Dhini. Tiba-tiba saja, laki-laki itu merasa lelah untuk mencari tahu keberadaan Cassandra, dan kehamilan yang sedang dialami oleh gadis itu. Ketika Alexander dan Nyonya Dhini berbincang, laki-laki muda itu hanya menjadi pendengar, dan sesekali turut tersenyum jika ada yang lucu.
"Baik Tante.. malam sudah semakin larut, kita harus kembali ke hotel, Juga merasa khawatir akan mengganggu waktu istirahat tante dan dhik Armand. Nanti akan kami sampaikan pada Cassandra jika tante dan Armand kangen kepadanya, dan semoga gadis itu segera memberi kabar pada tante.." Alexander menutupi kepergian Cassandra, takut akan menimbulkan rasa khawatir pada diri perempuan paruh baya itu.
"Ya nak.. terima kasih sudah mampir ke gubug tantem dan masih mengingat tante.." Nyonya Dhini mengantarkan kedua tamunya sampai di depan rumah.
Bahkan sampai mobil yang membawa Andreas Jonathan dan Alexander keluar dari dalam halaman, perempuan itu masih melihatinya. Namun sebagai perempuan dewasa, perempuan itu bisa melihat jika ada kekalutan di dalam diri Andreas Jonathan, dan tidak tahu mengapa seketika pikiran perempuan itu lari pada keadaan putrinya.
"Sandra.. dimanapun kamu berada nak.. semoga Allah selalu menjagamu nak.." gumam lirih perempuan itu perlahan. Kemudian dengan langkah letih, perempuan itu kembali masuk ke dalam dan menutup pintu dengan menguncinya.
*******
Di perusahaan tempat Herlambang bekerja
Mata Herlambang terpaku menatap email yang dikirimkan Cassandra kepadanya. Gadis muda itu memutuskan untuk pergi dan berpamitan dengannya, tanpa memberi tahu dimana keberadaannya saat ini. Berkali-kali laki-laki itu mencoba menghubungi nomor ponsel gadis itu, namun ada pemberi tahuan jika nomor ponsel yang terakhir digunakan sudah tidak aktif. Tampak kekhawatiran dan ketakutan di mata laki-laki itu.
"Aku sudah cukup merasa senang dan bahagia melihat hidupmu tentram, bahagia, bisa melupakan semua masalahmu. Aku tidak menginginkan yang lain, bahkan persaudaraan dengan menganggapku hanya sebagai seorang kakak saja, sudah cukup untukku.." laki-laki muda itu tampak terpuruk, dan berkali-kali mengacak-acak rambutnya.
Beberapa rekan kerja Herlambang, menatap bingung dengan perubahan sikap anak muda itu. Sejak pagi mereka melihat sesuatu yang wajar pada diri anak muda itu, tetapi ketika siang hari, hanya berada di depan komputer, tiba-tiba Herlambang bersikap demikian,
Herlambang meluruskan kaki, dan menurunkan kursi kerjanya ke bawah. Sambil menutup wajah menggunakan kedua tangan, laki-laki itu menyandarkan punggung dan kepalanya pada sandaran kursi. Merasa khawatir dengan keadaan yang sedang dihadapi anak muda itu, Totok rekan kerja satu tim Herlambang, memberanikan diri menghampiri laki-laki muda itu.
"Herlam.. Herlam.. apakah kamu baik-baik saja guys.. What happend.." dengan suara lirih, Totok mencoba mengajak anak muda itu bicara.
Perlahan Herlambang membuka kedua tangannya, dan matanya yang terlihat sayu itu menatap wajah temannya yang tampak sedang menatapnya.
"Aku kalut Totok.. tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku panik, takut dan khawatir.." tanpa sadar titik air mata lolos dari sudut mata laki-laki itu. Melihat hal itu, Totok menjadi terhenyak dan kaget, sampai memundurkan tubuhnya ke belakang. Batas kesabaran seorang laki-laki dapat dilihat dari air mata yang menetes, yang menandakan beratnya masalah yang sedang dihadapinya saat ini.
"Herlam.. listen to me.. please. Aku tidak akan bertanya ada masalah apa yang sedang menghimpitmu saat ini. Namun.. kamu ini laki-laki guys.. harus kuat dan sabar. Jika kamu memang sudah tidak mampu menghadapinya, cari waktu untuk memikirkan, atau bahkan melupakan semua itu. Aku yakin, kamu kuat bro... kuat.., karena kamu adalah laki-laki." Totok menepuk bahu Herlambang sebanyak tiga kali.
"Terima kasih Tok.." sahut Herlambang singkat.
Melihat Herlambang sudah bisa menguasai emosinya, Totok kembali menuju ke meja kerjanya. Laki-laki itu tidak akan memaksa herlambang agar menceritakan masalahnya, karena bisa jadi masalah yang sedang dihadapi laki-laki itu memang tidak untuk diceritakan kepada orang lainnya.
Beberapa saat kemudian, Herlambang berdiri kemudian melangkahkan kaki meninggalkan ruang kerjanya. Rekan kerja dalam satu ruangan hanya menatap laki-laki itu dengan pandangan prihatin. Ternyata Herlambang berjalan menuju ke rest room, dan di depan cermin laki-laki itu membasuh wajahnya di atas wastafel.
"Sandra.. aku akan mencari keberadaanmu Sandra, Kamu tidak bisa pergi jauh dariku, karena saat ini kamu sedang membutuhkan bantuan.." sambil memandang ke arah cermin, Herlambang berbicara pada dirinya sendiri. Laki-laki itu menggosok wajahnya beberapa kali sampai terlihat agak berwarna merah. Dan setelah merasa bisa menguasai kembali emosinya, akhirnya Herlambang menghentikan gerakannya, kemudian perlahan berjalan keluar dari dalam kamar mandi.
**********