
Dengan rambut masih basah, Andreas Jonathan menuju ke meja makan dengan pakaian santai. Laki-laki itu jengkel melihat keberadaan Jennifer bersama dengan kedua orang tuanya. Tanpa menghiraukan keberadaan gadis itu, Andreas Jonathan duduk di samping papanya. Nyonya Besar Sandrina mengusap punggung gadis itu, untuk menenangkan perasaannya atas sikap putranya.
"Jam berapa pa.. sampai disini.." dengan basa basi, Andreas Jonathan bertanya pada papanya. Laki-laki itu menuang hot black coffee ke dalam cangkir yang sudah tersiapkan di atas meja oleh ART.
"Hmm.. jadi kamu tidak tahu siapa yang membantumu membawa ke dalam kamar, dan membaringkanmu di bed.. Sadar Andre.., ingat usia, sudah saatnya kamu berpikir tentang masa depanmu. Segera nikahi Jennifer, agar ada perempuan yang mengurus hidupmu.. Papa dan mama ingin segera menimang cucu.." dengan perasaan jengkel, Wijaya menanggapi pertanyaan dari putranya itu.
"Ups.. papa ya, yang membawa Andre masuk. Sorry pa.. sekali-sekali boleh kan, masa laki-laki tidak boleh mencicipi minuman keras.." sambil memasukkan sandwich ke dalam mulutnya, Andre menjawab perkataan papanya dengan santai.
Laki-laki paruh baya itu geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putranya yang tidak berubah. Easy going, arogan, keras kepala merupakan karakter khas yang dimiliki Andreas Jonathan.
"Andreas.. ingat berapa usiamu sekarang. Sebentar lagi, usiamu sudah akan memasuki 30 tahun. Jangan gantung perempuan, hanya untuk menunggu kepastian darimu. Usia Jennifer juga terus bertambah, tidak mungkin dia hanya menghabiskan usianya untuk menunggumu.." dengan nada tinggi, Nyonya Besar Sandrina memberi komentar.
"Mam.., pap.., bisa tidak jika kita berkumpul, setelah sekian lama kita tidak berjumpa, kita bicara wajar antara orang tua dan anak. Jujur mam.., pap.. Andre bosan mendengar pembicaraan-pembicaraan yang itu-itu terus. Memang siapa yang menjalin hubungan dengan Jennifer, papa atau mama bisa bertanya sendiri pada gadis itu. Apakah memang ada hubungan kekasih antara kami berdua.." suara Andreas Jonathan menggema di ruang makan.
Jennifer terkejut dengan keterus terangan laki-laki itu, yang sedikitpun tidak menghargai perasaannya sebagai seorang perempuan. Gadis menundukkan kepala, dan tanpa sadar air mata menetes melewati sudut matanya. Tuan besar Wijaya lebih terkejut lagi, karena selama ini setahunya putranya memiliki hubungan kedekatan dengan Jennifer, artis papan atas ibukota.
"Apa maksud perkataanmu Andre.. jelaskan pada papa. Jangan ada kebohongan di dalam rumah ini, sebandel-bandelnya kamu, jangan pernah mempermainkan perasaan seorang perempuan.." Tuan besar Wijaya tersulut kemarahan mendengar jawaban dari Andreas Jonathan,
"Papa.. apakah Andre harus mengulang kata-kata yang tadi sudah Andre ucapkan. Antara Andre dan Jennifer tidak pernah ada hubungan apapun antara kami berdua, kecuali dia butuh dukungan sumberdaya untuk karirnya, dan sebagai laki-laki, papa tahu sendiri apa yang Andre butuhkan.." tanpa menghiraukan perasaan Jennifer, Andreas Jonathan mempertegas perkataannya.
"Kamu keterlaluan Andreas, apa dengan cara begitu papa dan mama selama ini mengajarimu." dengan ekspresi marah, Nyonya besar Sandrina ikut terpancing kemarahannya.
"Seingat Andreas.. papa dan mama mengajari Andre sejak kecil untuk mendewakan uang. Dan saat ini, apakah salah jika Andreas memanfaatkan uang yang sudah Andre kumpulkan papa, mama.." dengan tersenyum smirk. Andreas menanggapi perkataan mamanya.
Jennifer berdiri, gadis itu sudah tidak kuat mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Andreas Jonathan. Sedikitpun laki-laki itu, tidak menganggapnya sebagai seorang perempuan yang memiliki hati, perasaan, dan harga diri. Di hadapan kedua orang tua laki-laki itu, Andreas Jonathan telah menginjak-injaknya.
"Cukup Andre.. tutup mulutmu, dan hentikan kata-kata kotormu.." dengan wajah merah padam, Nyonya Besar Sandrina membentak putranya, kemudian perempuan itu berlari mengejar Jennifer ke depan rumah,
********
"Jarwo.. yang satu box kamu ambil ya.. Aku sengaja membelinya untuk kamu makan siang.." Cassandra mengambil satu packing food dan memberikan pada laki-laki muda itu.
"Terima kasih ya non Sandra.." dengan mata berbinar, Jarwo menerima bungkusan box makanan itu. Cassandra tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Non.. sudah dengar berita belum.. Tadi pagi sempat ada keributan di lobby perusahaan, karena security yang berjaga di lobby tiba-tiba terkulai lemas seperti pingsan. Tim kesehatan sudah memeriksa kondisinya, dan katanya ditemukan kandungan obat penenang dalam dosis besar pada makanan yang dikonsumsi Samsul." tanpa diminta, Jarwo bercerita tentang keadaan yang terjadi di depan.
"Obat penenang, apakah selama ini Samsul memiliki perilaku aneh. Untuk apa, anak muda itu mengkonsumsi obat penenang..?" merasa dekat dengan security lobby, Cassandra dengan antusias mencari tahu penyebab insiden yang dialamu oleh laki-laki itu.
"Itulah non.. yang dicari tahu sama teman-temannya. Samsul itu selama ini tidak pernah aneh-aneh anaknya, perilakunya lurus, santun.. tetapi kenapa ditemukan obat penenang dosis tinggi di dalam makanannya. Tim Investigasi keamanan perusahan, sedang memeriksa dan mencari tahu hal yang menjadi penyebabnya." Jarwo terus bercerita.
"Baik Jarwo.., terima kasih informasi tentang kondisi Samsul. Nanti selepas istirahat, aku akan ke ruang kesehatan, untuk mencari tahu bagaimana keadaan Samsul yang sebenarnya. Kamu bisa kembali ke ruangan Jarwo.., aku juga akan makan siang terlebih dahulu.." tanpa bermaksud mengusir laki-laki itu, Cassandra meminta Jarwo untuk kembali ke ruang kerjanya.
"Siap Non.." Jarwo segera berbalik badan, kemudian melangkahkan kaki meninggalkan ruang kerja Cassandra.
Tidak mau menunggu lama, Cassandra segera membuka box makan siangnya. Untuk mencukupi kebutuhan nutrisinya, gadis itu memesan bento untuk makan siang, karena sudah include salad sayur, dan juga buah. Gadis itun mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya, dan tiba-tiba tanpa disadarinya ada tangan laki-laki yang mencomot tofu crispy dari bento box nya.
"Tuan muda.." Cassandra terkejut ketika menengadahkan wajahnya ke atas, ternyata CEO perusahaan yang mengambil tofu crispy dari packing box nya.
"Kamu hanya mikir perutmu sendiri, tidak peduli siapa yang ada di ruang kerjamu." sambil terus mengambil potongan lauk dari food box Cassandra, Andreas Jonathan terus bicara.
"Menu box ini punya Sandra tuan muda.. silakan tuan muda menunggu di dalam ruangan. Sandra akan pesankan makanan untuk tuan muda dan tuan Alexa juga.." gadis itu memandang tuan mudanya yang tanpa memiliki perasaan malah mengangkat food box dari atas mejanya. Tanpa merasa risih sedikitpun, Andreas Jonathan menggunakan sumpit yang sudah dipergunakan oleh Cassandra. Dengan perasaan tertindas, Cassandra tidak berkedip menatap tuan mudanya yang dengan lahap menghabiskan makanan yang masih banyak itu.
***********