
Ternyata kereta api Taksaka Luxury pada pukul 04.35 menit sudah berhenti di stasuin Gambir, Jakarta Pusat. Karena tidak membawa banyak barang, hanya satu back pack dan tas selempang, Stevie segera bersiap untuk turun. Kedua penumpang di belakangnya masih tertidur, dan Stevie juga tidak bertindak untuk membangunkan mereka. Mendapatkan pesan dari Alexander, merupakan warning baginya untuk mengantisipasi tindakan kekerasan dari orang lain.
"Aku berdiri di depan pintu langsung saja, begitu pintu membuka aku akan dapat langsung bisa melompat keluar dari kereta.." setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Stevie segera berdiri dan mendekat ke pintu kereta api. Tidak lama kemudian, akhirnya pintu di depan terbuka, dan karena kereta sudah berhenti Stevie langsung melompat turun. Tiba-tiba gadis itu merasakan tubuhnya langsung didekap oleh seseorang, dan Stevie tidak bisa melihat siapa orang itu. Gadis itu berontak, dan dengan menggunakan lututnya melakukan serangan..
"Aduh... gadis sialan kamu Stevie.. ini aku Alexander.." terdengar suara Alex, dan pegangan di mulut Stevie perlahan melonggar.
"Maaf kak Alex.., kakak sih membuat Stevie terkejut, jadinya seperti ini. Please kak..." Stevie membalikkan badan, dan langsung melihat ke wajah laki-laki itu.
Melihat Alexander tersenyum, Stevie tiba-tiba merasa lega. Namun dari belakang Alexander, ada laki-laki yang tampak mencurigakan sedang menuju ke arah mereka. Benar saja, laki-laki itu tiba-tiba saja mengeluarkan pisau belati dari arah belakang Alexander, namun kaki Alexander dengan tangan memeluk Stevi berputar cepat, dan..
"Clang..." pisau belati terlempar ke lantai dan menimbulkan bunyi kencang.
Orang-orang yang semula sibuk mencari arah jalan keluar tiba-tiba berlarian, dan petugas security stasiun segera mendatangi tempat dimana Alexander langsung menghajar anak muda itu. Tidak lama kemudian, pemuda segera diringkus oleh security stasiun. Stevie terdiam dan merasa cemas, ternyata kekhawatiran sejak laki-laki yang pagi ini dalam pelukannya itu tidak main-main. Keselamatan dan keamanannya terancam.
"Tuan Alex... bagaimana ini, apakah dari pihak security stasiun yang akan meneruskan kasus ini ke Polresta, atau pihak Tuan Alex yang akan menanganinya..?" security itu ternyata sudah terlihat akrab pada Alexander.
"Bawa saja dulu ke base camp kalian, anak buahku akan mengambil dan akan menginterograsinya. Terima kasih sebelumnya, aku harus segera membawa kekasihku pergi dari stasiun ini.." Alexander segera memberikan arahan pada laki-laki itu.
"Siap tuan Alex.."
Alexander segera mengambil alih back pack di punggung Stevie, kemudian menggendong di punggungnya. Setelah itu dengan tangan kanannya, laki-laki itu merangkul Stevie dan tanpa bicara segera keluar dari stasiun untuk mengambil mobil yang masih ditinggalkan di lobby stasiun, Seharusnya pengunjung dan semua penumpang harus melewati terminal kedatangan untuk dapat meninggalkan lokasi stasiun, namun dengan menunjukkan kartu, dengan lancar Alexander bisa membawa Stevie keluar dari pintu khusus pekerja stasiun.
Tidak lama kemudian, Alexander sudah membawa Stevie menuju ke mobil dan meminta gadis itu segera masuk ke dalam mobil. Melihat stand mobile penjual hot coffee.., Alexander segera mendatangi. Tidak lama kemudian, dua paper glass sudah berisi dua minuman panas berbau kopi. Melihat kedua tangan laki-laki itu penuh, Stevie membukakan pintu mobil, kemudian menerima paper bag dari tangan laki-laki itu. Setelah kedua anak muda itu menikmati minuman kopi, tidak lama kemudian laki-laki itu sudah menginjak pedal gas, dan mobil mewah itu sudah membelah jalanan di kota Jakarta.
***********
"Kak Alex.. kenapa tidak bangunkan Stevie.. Wow.. indah banget kak Alex, ada dimana kita sekarang..?" mata Stevie tampak mengerjap melihat keindahan sun rise di ufuk timur. Gadis itu terlihat takjub mengamati keindahan alam di pagi ini, yang tidak pernah dibayangkannya, saat ini terlihat di depan matanya langsung. Angin dingin bertiup kencang, dan sepertinya saking takjubnya Stevie tidak merasakannya.
Alexander berjalan mendekati gadis itu, kemudian memeluk tubuh Stevie dari belakang. Dagu laki-laki itu diletakkan di atas pundak Stevie, dan sepertinya Stevie tanpa sadar meskipun rasa hangat dari kulit Alexander sudah menjalar ke arah tubuhnya.
"Apakah kamu menyukainya Stevie..?" suara lembut Alexander membuat Stevie terkejut. Ketika gadis itu menoleh, bibir Alexander sudah meraup bibirnya, dan pasangan itu melakukan ciuman bibir yang sangat bergairah. Padahal mereka bukan pasangan kekasih yang sudah saling berkomitmen maupun juga bukan merupakan pasangan suami istri. Beberapa saat ciuman hangat antara dua pasang anak manusia itu terjadi, namun tidak lama kemudian Stevie menghentikan ciuman. Dengan wajah merah merasa malu, gadis itu mencoba melepaskan diri dari pelukan Alexander, kemudian menaikkan ke dua tangannya berusaha menghadang sinar matahari yang mulau mengeluarkan sinarnya.
"Ternyata sangat indah sekali siluet alam pagi ini.." Stevie segera mengeluarkan ponsel, gadis itu sepertinya tidak mau kehilangan moment keindahan alam yang sangat menakjubkan itu.
Dari belakang, Alexander hanya tersenyum menatap kebahagiaan Stevie yang hanya menatap keindahan alam itu. Laki-laki itu kemudian mengeluarkan ponsel, dan juga mengambil beberapa gambar gadis itu, dan mengambil beberapa gambar secara candid. Tidak lama kemudian, ketika matahari sudah mulai agak panas, Alexander segera mengajak Stevie untuk kembali,
"Stevie.. panas sudah mulai datang, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Kamu bisa membersihkan tubuhmu disana, baru kita pulang ke hotel untuk bertemu dengan keluargamu."
Stevie menoleh, akhirnya tanpa bicara, gadis itu mengikuti ajakan Alexander. Keduanya segera masuk kembali ke dalam mobil, dan tampaknya Stevie masih terbuai dengan pemandangan alam yang ada di sekitarnya. Meskipun Alexander sudah menjalankan mobilnya, kaca disamping tempat gadis itu duduk, masih dibiarkannya terbuka, dan Stevie masih melihat ke luar kaca.
"Stevie.. arahkan pandangan ke depan, aku akan menutup kaca mobilnya. Udara sangat dingin, aku akan menyalakan heater.." suara Alexander memperingatkan gadis itu.
"Ya kak.." akhirnya Stevie melihat ke arah Alexander, yang tidak tahu kenapa pagi ini melihat laki-laki itu seperti menimbulkan rasa senang dan bahagia dalam hatinya.
Tidak lama kemudian, kaca mobil mulai menutup, dan tidak lama kemudian mobil sudah melaju kencang menuruni jalanan yang berkelok-kelok, tetapi ALexander seperti sudah menguasai medan yang dilaluinya. Kurang lebih dua puluh menit perjalanan, sudah berada di bawah bukit.., meskipun masih lebih tinggi dibandingkan dengan tempat di bawahnya, Alexander membelokkan arah mobil. Di depan pintu gerbang, mobil itu menunggu, namun beberapa saat sesudahnya, pintu gerbang itu membuka sendiri. Alexander membawa mobil itu masuk ke dalam gerbang, dan pintu gerbang itu kemudian menutup dengan sendirinya.
***************