CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 201 Rasa Rindu



Semua peserta rapat pemegang saham mayoritas yang tergabung dalam Board of Directors memandang ke arah tuan Burhan, dan laki-laki itu seperti merasa tersudut. Banyak kecaman yang diarahkan pada laki-laki tua itu, dan Alexander serta Andreas Jonathan sengaja membiarkannya, tetapi mereka tidak berkomentar sedikitpun. Kedua anak muda itu berpikir, jika berani menggiring bola liar, maka mereka sendiri yang harus mengarahkan dan mengendalikan bola itu kembali ke gawang. Tetapi semakin lama, suasana rapat menjadi semakin tidak terkendali..


"Tok.. tok.. tok.., mohon perhatian semuanya.." merasa bising dan berisik, akhirnya Andreas Jonathan memukul meja, meminta para orang-orang yang terhormat itu untuk diam.


Semua peserta rapat terdiam, dan mereka fokus melihat ke arah Andreas Jonathan yang tampak tajam melihat ke arah mereka. Setelah semuanya terdiam, akhirnya ..


"Tuan Burhan.. sejak tadi saya dan Aexander diam mengamati apa yang kalian bicarakan disitu. Tetapi otak kami berpikir, dan bisa mengambil inti dari apa yang dibicarakan hari ini. Saya hanya sekali saja bertanya tuan Burhan, hal apa yang mendasari sampai tuan Burhan memiliki usulan seperti tadi. Apakah itu murni  dari buah pikiran tuan Burhan, atau ada yang mengusulkannya..?" sambil tersenyum smirk, Andreas Jonathan bertanya pada Burhan. Semua yang ada di meeting room ikut mengarahkan pandangan pada laki-laki itu, dan terlihat Burhan semakin gugup.


"Itu hanya usulan dari saya saja tuan muda.., jika dikabulkan dan disetujui, okay. Tetapi jika semua tidak setuju, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.." akhirnya tuan Burhan mengucapkan beberapa patah kata.


"Hmm... atau begini saja ALexander. Agar aku tidak dikatakan sebagai pemimpin rapat yang berat sebelah, bagaimana jika kita lakukan voting tertutup. Jika memang ada yang menyetujui konsep yang diusulkan tuan Burhan, kalian bisa melingkari pilihan, demikian pula sebaliknya.." untuk tidak menimbulkan kesan egois, Andreas Jonathan menawarkan voting dalam penetapan hasil akhir rapat.


Beberapa dari mereka terdiam, tetapi kemudian mereka berkasak-kusuk. Tetapi hampir sebagian besar dari mereka tidak setuju dengan usulan dari tuan Burhan.


"Alexander.. siapkan peralatan. Kita tidak bisa, hanya duduk diam di tempat ini saja. Setuju atau tidak setuju, bukan dilakukan dengan saling berkasak kusuk. Namun tunjukkan dengan pilihan jawaban kalian.." suara tegas Andreas Jonathan memenuhi ruangan rapat. Tidak ada yang berani membantah kata-kata dari laki-laki muda itu.


Alexander berdiri kemudian keluar dari ruang rapat sebentar. Tidak lama kemudian, laki-laki muda itu kembali datang ke ruang rapat, kemudian membagikan potongan kertas pada tujuh orang Board of Director, tetapi tidak memberikan pada pendamping dari para pemegang saham itu.


"Kepada para pemegang saham semuanya, segera isi potongan kertas yang sudah diberikan pada kalian semuanya. Kami berikan waktu lima menit untuk membuat pilihan, dan Alexander sebentar lagi akan mengambil lipatan kertas yang sudah dibagikan." setelah semua pemegang saham memegang lipatan kertas, kembali suara Andreas Jonathan dengan tegas terdengar di dalam meeting room.


Tidak ada yang berani membantah apa yang dikatakan oleh laki-laki muda itu, semuanya terdiam dan menjalankan apa yang tadi diperintahkan oleh pemegang saham terbesar di antara mereka. Bagi para pemegang saham, memang satu saham adalah satu suara. Hal itu akan berpengaruh ketika mereka melakukan pemilihan suara, otomatis akan mempengaruhi keputusan akhir yang akan mereka ambil dan putuskan,


*******


"Kenapa sejak tadi kamu melihat kepadaku sambil senyum-senyum sendiri Alexander, apakah kamu sedang mengolok-olokku Alexander.." ternyata Andreas Jonathan hanya memejamkan mata saja, laki-laki muda itu tidak sedang tertidur.


"He.. he.. sorry tuan muda, bukan maksudku mengolok-olokmu.. Melihat tuan muda dalam posisi ini, jujur tuan muda aku merasa prihatin. Aku tidak bisa membayangkan jika suatu saat aku akan bisa mengalami seperti yang dialami tuan muda saat ini.." Alexander melihat ke arah tuan mudanya sebentar, kemudian kembali fokus mengemudi.


"Tuan muda.., tuan muda.., apakah kamu lupa saat ini bagaimana statusmu padaku. Kita ini kakak adik sekarang, bukan lagi tuan muda dan bawahan." dengan nada tinggi, Andreas Jonathan memberi tegur anak muda di sampingnya itu.


"Hemm... baik kak Andre.. Masih susah untuk merubah panggilan ini kak... sialnya sudah terbiasa dengan panggilan tuan muda sejak pertama kali kita bertemu.." dengan muka menahan malu, Alexander menanggapi kata-kata Andreas Jonathan.


Dua anak muda itu terdiam, terlihat mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Dengan rasa kerinduan yang besar, Andreas Jonathan membayangkan putra dan istrinya yang saat ini berada di Inter laken, Switzerland. Waktu dan jarak yang sangat jauh memisahkan mereka, tetapi karena untuk keamanan dan keselamatan keluarganya, Andreas Jonathan bisa menahan semua itu.


"Alex..., bisa kamu atur bukan jadwal untuk aku menuju Switzerland. Jujur aku merindukan istriku.. sudah hampir satu bulan aku meninggalkannya hanya berdua dengan putraku. Meskipun hampir tiap malam, kita berkomunikasi via video call, tetapi aku sangat merindukan kemanjaan, pelukan, dan dekapan istriku Cassandra.." tidak diduga, Andreas Jonathan ternyata menyinggung tentang kerinduan pada istrinya.


"Kak Sandra  manja.. apakah tidak terbalik. Sepertinya selama ini, yang suka manja jika sedang bersama adalah kak Andreas, bukan kak Sandra.." tanpa bermaksud melecehkan, sambil tersenyum ALexander menanggapi kata-kata Alexander.


"Hmm... terserah apa katamu Alex. Yang pasti, re schedull semua jadwal meeting, meskipun Board of Directors yang meminta untuk mengadakan, tolak dan re schedull semuanya. Aku sudah tidak dapat menahan rasa rinduku pada Sandra, jika perlu untuk ke depan, aku akan merubah cara kerjaku. Semuanya akan aku lakukan secara remote, dan untuk eksekusi semuanya menggunakan sistem." tidak mau dikoreksi, Andreas Jonathan malah mengutarakan perasaannya.


"Baik Kak Andre... akan aku tengok lagi semuanya setelah kita tiba di rumah. Dari hasil meeting tadi siang, sepertinya Board of Directors tidak akan gegabah untuk meminta kita menyelenggarakan rapat lagi dalam waktu cepat. Sepertinya sikap impulsive tuan Burhan tadi, memberikan pelajaran untuk semua yang tadi hadir.." Alexander memberikan tanggapan.


"Terserahlah semuanya, aku jujur tadi jengkel dalam rapat. Jika tidak menghormati yang tua-tua dari pemegang saham, sudah aku gebrak semuanya. Masukan ga penting saja, harus melibatkan Board of Directors untuk datang mengikuti rapat.." Andreas Jonathan mengungkapkan kekesalannya.


**********