
Merasa sudah berada dalam usia yang bukan waktunya lagi bersenang-senang, tuan Wijaya dan nyonya Sheilla tidak mengatur bulan madu untuk merayakan pernikahan mereka kembali. Bahkan setelah mereka mendapatkan kembali surat keterangan, yang menyatakan jika mereka sudah menikah, dan harus menukarkan kembali dengan buku nikah begitu sampai di Indonesia, mereka langsung pergi meninggalkan KBRI. Para pengawal, dan maid yang mengikuti pasangan suami istri baru itu, diminta untuk pulang sendiri, tidak pulang bersama dengan keduanya.
"Sheilla... apa yang kamu inginkan sayang.. Apakah kita harus menginap di hotel, dan merayakan pernikahan serta melakukan bulan madu.." Wijaya sambil tersenyum menggoda istrinya.
Sheilla kaget dengan pertanyaan konyol yang dilemparkan oleh laki-laki tua itu, dan untuk menjawabnya Sheilla mencubit pinggang suaminya. Saat ini mereka sedang berkendara, tidak mengetahui kemana arah tujuan perjalanan mereka. Bahkan Wijaya tidak memberi tahu kepadanya, kemana tujuan mereka berkendara saat ini.
"Wijaya.. kemana akan kamu bawa diriku..., meskipun saat ini kamu sudah menikahiku, tidak bisa seenaknya begitu. Tidak ada salahnya bukan, jika kamu memberi tahuku akan kemana kamu akan membawa diriku.." Sheilla bertanya sambil menoleh ke arah suaminya.,
Laki-laki itu menoleh ke arah istri yang baru kembali dinikahinya itu, kemudian tersenyum kepadanya. Hal itu semakin menambah rasa penasaran yang dialami oleh Sheilla, karena laki-laki itu masih bertindak jual mahal kepadanya.
"Sheilla... kita sudah menikah saat ini. Dan yang perlu untuk kita ingat ke depannya, kita ini bukan lagi pasangan muda Sheilla. Kita sudah memiliki putra dan putri, dan juga menantu. Bahkan perlu untuk kamu ingat, jika sudah ada Altezza cucu kita sayang.. Untuk itu, kita harus bisa menjadi contoh, menjadi suri tauladan untuk mereka. Bisakah kamu memanggil panggilanmu untukku sayang, panggilan khusus.." tiba-tiba sambil kembali fokus mengemudi, tiba-tiba Wijaya mengeluarkan sebuah permintaan pada istrinya.
Perempuan paruh baya itu terkejut mendengar kata-kata suaminya, dan setelah terdiam sejenak sepertinya perempuan itu akhirnya menyadari. Apa yang dikatakan oleh suaminya merupakan hal yang benar adanya. Mereka harus bisa melupakan semua kejadian buruk di masa lalu, dan memulai hal yang baru untuk menjadi suri tauladan bagi semua keturunaanya,
"Maafkan Sheilla papa.., sepertinya panggilan ini sesuai bukan untuk memanggilmu WIjaya.." sambil tersenyum malu, Sheilla mulai menyebut suaminya dengan sebutan papa.
"Terima kasih mama Shella sayang, jujur papa merasa sangat terapresiasi dengan panggilan baru dari mama.. Mendengar kata-kata panggilan ini keluar dari bibir istriku, seakan semua dosa-dosaku di masa lalu, sudah terbasuh sudah.. Papa sangat mencintaimu mama..." dengan suara lembut, Wijaya menanggapi kata-kata Sheilla.
Nyonya Sheilla kembali tersenyum malu, dan ketika suaminya memegang telapak tangan dengan tangan kanannya, perempuan paruh baya itu hanya bisa diam, menikmati setiap remasan kembali tangan suaminya itu,
"Aku akan membawamu ke tempat yang spesial mam.. Meskipun nilainya tidak besar, dan mama bisa membelinya sendiri, namun ini adalah tanda kasih dari papa.. Jika mama menginginkan sesuatu sebagai hadiah untuk pernikahan kembali, papa akan memenuhinya. Katakan mam..." kembali fokus mengemudi, tuan Wijaya bertanya pada istrinya,
"Selalu bersamamu, berkunjung ke putra putri serta cucu kita, semuanya sudah merupakan kado terindah dalam pernikahan kita pa.. Tidak perlu memberikan lagi harta benda, dalam usia kita ini, kita tidak memerlukannya lagi.." sambil memandang ke depan, nyonya Sheilla menanggapi perkataan suaminya.
********
Nyonya Sheilla terkejut, karena suaminya Wijaya ternyata membawanya ke sebuah pusat perhiasan yang sangat terkenal di Canada. Emas 99% dan berlian menjadi produk andalan di negara itu, sehingga banyak pengunjung yang memadati merchant penjual berlian. V & Co Jewelery menjadi tempat yang dipilih Wijaya untuk membawa istrinya masuk ke dalam. Ternyata Wijaya menjadi member VIP di merchant tersebut, sehingga mendapatkan hak privielege begitu masuk ke dalam.
"Tapi aku hanya akan mengambil barang pesananku, aku bisa bergabung dengan para pengunjung lainnya.." untuk tidak memberi kesan buruk pada Sheilla, Wijaya khawatir jika orang-orang di merchant itu masih mengingat mantan istrinya Sandrina. Laki-laki itu melihat ke arah Sheilla, dan perempuan itu juga menganggukkan kepala menguatkannya.
"Maaf tuan Wijaya.., saya tidak bisa mengijinkan tuan.. Karena kami nanti yang akan mendapatkan teguran dari pimpinan kami.. Mohon ikuti kami tuan Wijaya.., nyonya.. mari.." petugas keamanan itu terus memaksa.
Akhirnya dengan tidak berdaya, akhirnya Wijaya mengajak istrinya Sheilla mengikuti laki-laki itu. Tidak lama kemudian, keduanya sudah sampai di sebuah ruang tunggu yang sangat mewah, dengan interior yang didominasi oleh warna crem dan putih. Tidak lama menunggu, seorang pelayan outlet tersebut berjalan keluar dari dalam ruangan. Melihat keberadaan Sheilla sedang digenggam tangannya oleh tuan Wijaya, perempuan itu seperti terkejut. Namun tidak lama kemudian, sepertinya perempuan itu sudah bisa kembali menyesuaikan dirinya,
"Tuan Wijaya.. selamat datang kembali ke V & Co Jewelery tuan.. Sepertinya kami tidak percaya dengan apa yang tuan Wijaya sampaikan tadi pagi. Tetapi sesuai dengan komitmen kami, untuk selalu memberikan pelayanan yang terbaik, dan mengutamakan pelanggan utama kami, akhirnya kamu sudah menyelesaikan apa yang sudah tuan Wijaya pesan." dengan ramah pelayan merchant itu berusaha mengambil hati tuan Wijaya.
"Tidak perlu banyak bicara, ambilkan pesananku. Aku akan segera memberikan pada istriku tercinta.." seperti tidak sabar, tuan Wijaya segera memotong kata-kata merchant itu.
Dengan gugup pelayan merchant itu segera memberikan sebuah kotak kecil yang tampak gemerlap, kemudian memberikannya pada Sheilla.
"Mama.. pejamkan matanya sebentar sayang..." Tuan Wijaya berbisik ke telinga istrinya. Tidak mau mengecewakan suaminya, nyonya Sheilla kemudian memejamkan matanya..
Melihat istrinya sudah melakukan apa yang diperintahkan, tangan tuan Wijaya segera membuka kotak yang diberikan oleh pelayan merchant tadi. Seuntai kalung bertahtakan berlian melingkar dikeluarkan dari dalam kotak, kemudian tanpa bicara laki-laki itu mengalungkan kalung tersebut di leher istrinya. Tidak lama kemudian, sebuah gelang melingkar di pergelangan tangan Sheilla, dan terakhir sebuah cincin disematkan di jari manis perempuan yang sudah dinikahinya kembali itu.
"Buka matamu perlahan sayang..." tuan Wijaya berbisik pelan di telinga istrinya.
Perlahan perempuan paruh baya itu membuka matanya, dan melihat keindahan untaian berlian di leher, pergelangan tangan serta jari manisnya, mata nyonya Sheilla terbelalak, dan tidak lama kemudian menatap ke wajah suaminya dengan air mata menggenang di kelopak matanya.
"Terima kasih papa..." hanya kata-kata yang tidak terucap, yang keluar dari bibir tipis Sheilla.
**********