
Perlahan Stevie mengangkat wajahnya ke atas, dan ternyata Alexander sudah berdiri di belakangnya sambil tersenyum licik memandangnya. Tidak mau ribut dan berurusan dengan anak muda itu, Stevie segera berdiri kemudian mendatangi wastafel di luar ruangan untuk mencuci tangannya. Tiba-tiba tidak tahu dari mana asalnya, sebuah pisau belati terlempar cepat ke arah gadis itu. Stevie hanya ternganga melihat pisau belati yang terbang menuju tepat ke arahnya, dan tiba-tiba kaki seseorang melompat dan menendang pisau belati dengan menggunakan kakinya.
"Clang..." pisau belati terjatuh ke bawah, dan Alexander segera mengejar si pelempar. Ternyata laki-laki itu tidak meninggalkan Stevie, sehingga bisa memberikan pertolongan padanya tepat waktu. Gadis itu jatuh terduduk, dan beberapa pengawal segera menjaga ketat Stevie, kemudian memberinya pengawalan untuk masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Stevie terduduk diam, sambik mencoba menenangkan hati yang masih berdebar kencang. Beberapa pengawal memberinya perlindungan dengan berdiri di sekitar mobil.
"Minumlah dulu nona muda.., harusnya nona muda tidak jauh-jauh berada dari dekat tuan Alexander. Karena keberadaan nona muda dan nyonya Sheilla saat ini, masih dirasa belum aman. Namun sejak tadi, ternyata nona muda menjauh dari tuan Alexander. Untung saja, kejadian penyerangan terhadap nona muda terjadi ketika tuan Alexander sudah keluar dari dalam kantor pengacara." seorang pengawal memberikan air mineral pada gadis itu, dan Stevie langsung minum dengan beberapa tegukan.
Di tempat lain, Alexander dengan satu pengawal terus mengejar penyerang Stevie, Dengan cepat, Alexander bisa menemukan tempat dan arah pelembar belati itu akan menghindar. Tiba-tiba saja Alexander dan pengawal yang bersamanya sudah berada di depan dan belakang laki-laki yang menggunakan masker itu.
"Berhenti.. apakah kamu pikir akan mudah bagimu untuk melarikan diri tanpa meninggalkan identitas, setelah melakukan perbuatan culas.." Alexander berteriak dengan wajah sinis.
Laki-laki itu tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Alexander, tatapannya berkeliling seakan mencari sudut atau celah untuk melarikan diri, Namun laki-laki itu salah, yang dihadapinya saat ini bukan laki-laki sembarangan. Fokus dan reaksi Alexander sangat cepat dan mendekati akurasi, untuk mencegah penyerang Stevie itu melarikan diri. Pengawal yang ikut lari bersama Alexander, juga memiliki insting yang sama.
"Minggir.. biarkan aku lewat.." karena melihat jika sudah tidak celah bagi laki-laki itu untuk melarikan diri, penyerang itu meminta Alexander dan pengawal untuk memberinya jalan.
Alexander tersenyum sinis, kemudian berjalan mendekati penyerang itu. Melihat ada yang berjalan mendekatinya, sang penyerang berjalan mundur, namun pengawal dari arah belakang juga mendesaknya maju. Akhirnya kedua orang itu sudah berada tepat mengurung laki-laki itu,
"Apakah kamu tidak mendengar kata-kataku.. apakah kamu pikir akan mudah untuk menyelamatkan diri dariku.." tangan Alexander terulur ke arah leher penyerang itu, dan meskipun penyerang itu mengelak, namun dengan cepat tangan Alexander sudah mencekik leher dan menarik krah bajunya.
"Siapa yang menyuruhmu.. ataukah apa yang kamu lakukan tadi merupakan inisiatif dari keisenganmu.." dengan nada sarkasme, Alexander segera bertanya.
"Dalam mimpimu.. apakah kamu pikir akan tunduk pada kalian orang-orang Indonesia,.?" tidak diduga, ternyata laki-laki yang sudah terjepit itu membantah perkataan yang diucapkan Alexander.
Mendengar jawaban itu, mata Alexander menyipit kemudian tanpa ada yang mengira, satu kaki kanan laki-laki itu tiba-tiba sudah berputar, dan tidak lama kemudian tubuh penyerang itu terjungkal ke belakang,
"Tangkap dia.. dan jika tetap tidak mau mengaku, hajar dan selidiki anggota keluarganya untuk menggantikan posisi kejahatan yang dilakukan oleh manusia sampah ini," Alexander segera meninggalkan laki-laki itu, dan dengan cepat pengawal segera meringkusnya.
*********
"Ciiittt........" tiba-tiba Alexander menghentikan mobil, dan ketika Stevie membuka matanya, ternyata mereka sudah sampai di halaman parkir kantor imigrasi Singapura.
Terlihat tanpa mengajak Stevie.., Alexander membuka pintu mobil kemudian keluar dari dalam mobil. Stevie menjadi serba salah, mau minta maaf pada laki-laki itu, gadis itu merasa gengsi.
"Blamm.." terdengar suara pintu mobil ditutup dengan keras oleh Alexander. Dalam diam, Stevie hanya melihat punggung laki-laki itu yang berjalan meninggalkannya di dalam mobil sendirian.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang.. my God... apakah aku harus menyusul kak ALex, laki-laki sombong itu. Ataukah aku harus tetap berada di dalam mobil saja, untuk menunggu laki-laki itu kembali. Beberapa saat, Stevie merasa dalam kebimbangan. Gadis itu kemudian mengingat-ingat apa yang sudah dia lakukan pada laki-laki yang sudah pergi meninggalkannnya. Bayangan tentang keusilannya, penolakannya, dan bahkan kata-kata kasar yang diucapkan untuk laki-laki itu, terbayang lagi di wajah gadis itu.
"Ternyata aku sudah terlalu sering bersikap dan bertingkah laku kasar pada laki-laki itu, padahal posisinya sebagai wakil CEO perusahaan kak Andre.." Stevie terlihat menyesali semua perbuatan kasarnya yang sering dilakukannya pada Alexander.
"Lalu apa yang harus aku lakukan.. haruskah aku minta maaf atau mengucapkan terima kasih padanya. Yang sudah mendampingi dan membantu semua urusanku. Tapi kalau nanti laki-laki itu malah menjadi besar kepala. menjadi jumawa bagaimana..?" pertentangan di dalam pikiran Stevie masih terus terjadi.
Beberapa saat gadis itu masih berada dalam kebimbangan, dan kedua tangannya terus mengusap-usap wajahnya untuk berpikir dengan jelas. Namun sampai beberapa saat, gadis itu juga belum menemukan jalan keluar.
"Tapi sebenarnya kak Alex itu tampan juga, meskipun masih tampan kak Andre sih.. Wajahnya bersih, tegas, dan hmmm... kekar sekali badannya. Akan hangat para gadis yang merasakan rengkuhan kedua tangan kokohnya.." tiba-tiba Stevie bermain sendiri dalam pikirannya.
"Hmmm.. akankah aku juga merasakan dipeluk oleh dua tangan kokoh itu ya.. Gilaaa... kenapa aku malah tidak bisa terlepas dari bayangan kak Alex dari pikiranku.." tiba-tiba saja pipi Stevie bersemburat pink, gadis itu merasa malu dengan apa yang saat ini tengah dipikirkannya.
"Atau aku akan menunjukkan permintaan maafku dengan perbuatan saja, karena sepertinya tidak akan mungkin aku mengucapkan kata-kata permohonan maaf pada kak Alex. Rasa gengsi masih menguasaiku.." kembali Stevie dibuat bingung dengan pikirannya untuk melunakkan hati Alexander,
Tiba-tiba Stevie melihat kedatangan Alexander dari dalam ruang kantor imigras. Gadis itu segera bersikap tenang, dan pura-pura melihat ke arah gadgetnya.
********