CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 89 Ijab Qabul



Tanpa kata, penghulu dari KUA setempat menikahkan Andreas Jonathan dan Cassandra dengan menjadikan Alexander sebagai wali dari keluarga gadis itu. Keharuan menyelimuti kamar perawatan, dimana Andreas Jonathan yang dengan menggendong bayi mungil, mengucap janji untuk menjadikan Cassandra sebagai istrinya. Air mata tidak tertahan, pernikahan yang seharusnya menjadi luapan kebahagiaan, sangat berbeda dengan yang terjadi di dalam ruangan itu. Tidak ada satupun yang bersuara, ketika Andreas Jontahan mengucapkan ikrar Qabul, setelah Alexander dipandu penghulu mengucapkan ijab mewakili keluarga Cassandra.


"Qobiltu nikakhaha wa tazwiijaha linafsii bilmahril madzkuuri haalan." dengan bahasa Arab yang fasih, Andreas Jonathan selaku mempelai pria mengucapkan qabul.


"Bagaimana para saksi, dan wali dari semua pihak?" penghulu bertanya pada semua yang hadir di dalam ruang perawatan itu.


"SAH.., jadi pernikahan tuan muda Andreas Jonathan dan nona Cassandra sudah sah. Kalian berdua sudah menjadi pasangan istri secara resmi, baik dari sisi agama maupun sisi pemerintah. Tidak akan ada yang menggugat pernikahan kalian ini. Jadilah pasangan suami istri yang saling melengkapi, saling menutupi aib keluarga, dan beribadahlah hanya kepada Allah semata. Untuk mbak Cassandra, surga mbak saat ini ada di dalam ridho tuan muda Andreas Jonathan." penghulu memberikan nasehat pernikahan kepada pasangan suami istri itu.


Air mata tidak berhenti mengalir ke pipi Cassandra, dan gadis muda itu bingung dengan apa yang dirasakannya saat ini. Apakah air mata itu merupakan tangis bahagia, atau tangis kesedihan sebagai awal dari penindasan, ataukah tangis bahagia bisa memberikan status resmi untuk putra yang baru dilahirkannya. Dengan penuh kasih, tuan muda Andreas Jonathan memeluk istri yang baru saja dinikahinya itu, dan sebuah kecupan di kening Cassandra menunjukkan pengabdian suami pada istrinya.


Alexander dengan menggunakan photografer terkenal yang ada di kota Solo, mengabadikan setiap moment mengharukan itu. Meskipun tanpa kata terucap, tuan muda Andreas Jonathan mengajak istrinya berfoto dengan memangku buah hati yang belum lama terlahir ke dunia ini.


"Selamat putraku Andreas Jonathan, kamu sudah menjadi suami dan juga seorang papa anakku.  Selamat juga untukmu putri menantuku Cassandra.. terima kasih sudah mengabulkan permintaan dari laki-laki tua ini. Selamat.., selamat..." tuan besar Wijaya memeluk kedua pasangan suami istri itu, kemudian memberikan kecupan di kening keduanya.


Cassandra tidak bisa menjawab dengan kata-kata, hanya anggukan kepala dan air mata menjawab ucapan yang diberikan oleh papa mertuanya itu. Setelah itu, Alexander, dokter, perawat dan beberapa pengawal juga memberikan ucapan selamat kepada pasangan pengantin. Hari itu di rumah sakit Medika. sudah terjadi acara yang sangat sakral, dan untuk merayakan kebahagiaannya, tuan muda Andreas Jonathan memberikan donasi untuk pengembangan rumah sakit dengan nilai angka yang fantastis. Semua pasien dan penunggunya di hari itu, mendapatkan bingkisan dan jamuan makan yang disiapkan oleh tim pasangan suami istri itu.


"Sapalah suamimu Sandra... papa ingin mendengarnya.." suara serak tuan besar Wijaya seakan memerintah gadis muda itu.


Cassandra melihat ke arah tuan muda Andreas Jonathan yang sudah resmi menjadi suaminya itu, dan laki-laki itu menatapnya dengan tersenyum bahagia.


"Tuan muda..." Cassandra tidak bisa meneruskan panggilannya, karena jari tangan tuan muda Andreas Jonathan, sudah menutup bibirnya.


"Aku adalah suamimu honey.., panggil aku dengan sebutan kak atau sebutan Daddy.., bukan tuan muda.." sambil tersenyum, tuan muda Andreas Jonathan memberi arahan pada istrinya.


"Kak.. " tidak ada lagi kata yang terucap dari bibir gadis muda itu. Namun satu kata singkat itu ternyata sudah memberikan sebuah semangat baru bagi tuan muda Andreas Jonathan. Laki-laki itu kembali memeluk dan menghujani istrinya dengan ciuman.


**********


Beberapa saat setelah pernikahan berlangsung, dan semua sudah meninggalkan ruang perawatan kecuali tuan muda Andreas Jonathan, tiba-tiba pintu ruangan didorong dari luar. Andreas Jonathan melihat ke arah pintu, dan mata laki-laki itu langsung bercahaya, melihat mama mertuanya dan adik iparnya Armand masuk ke dalam ruang perawatan.


"Mama... mama.. maafkan Sandra ma..!" isak tangis kembali terdengar di ruangan itu, namun kali ini adalah isak tangis bahagia.


"Kenapa tidak memberi tahu kalian jika sudah menikah putriku. Meskipun mama tidak bisa datang, restu mama akan selalu bersamamu. Hampir satu bulan yang lalu, ketika nak Andre dan nak Alex mampir ke Kalasan, anak itu juga tidak memberi tahu mama jika kalian sudah menikah." sambil menangis, perempuan tua itu terus berbicara,


Tiba-tiba Andreas Jonathan menggendong putranya, dan mendatangi mama mertuanya,


"Mama.. oma.. ijin memberi salam. Maafkan Andre ma..., semua bukan salah Sandra, tapi Andre yang salah ma, Dan ini, cucu oma yang baru beberapa jam yang lalu dilahirkan Sandra melalui operasi caesar.." Andreas Jonathan memberikan putra laki-lakinya pada Nyonya Dhini,. Armand adik Cassandra mendekat ke mamanya, dan turut melihat keponakannya itu dari dekat.


"Ini cucuku.. aku sudah punya cucu ya Allah. Sangat tampan sekali cucuku ini..., Om Armand .. ini Om mu nak..." terlihat kegembiraan pada ekspresi yang ditunjukkan oleh Nyonya Dhini dan Armand. Keduanya menimang baby boy itu dengan sangat bahagia.


Melihat kebahagiaan mama dan adiknya, ada rasa hangat terselip di hati Cassandra, meskipun ketakutan pada suaminya masih membayangi. Andreas Jonathan menggenggam erat kedua tangan istrinya, dan mencium genggaman tangan itu beberapa kali.


Tidak lama kemudian, Tuan besar Wijaya yang sudah diberi tahu tentang kedatangan besannya segera bergegas masuk ke ruang perawatan untuk menyambut dan memberi salam kepadanya.


"Nyonya Dhini.. ijin memperkenalkan diri. Saya Wijaya, papa dari Andreas Jonathan suami dari putri Nyonya Dhini Cassandra.." dengan suara berwibawa, tuan besar Wijaya memperkenalkan dirinya.


Sambil tetap menggendong cucunya, Nyonya Dhini melihat ke arah tuan Wijaya, kemudian mengulurkan satu tangannya untuk berjabat tangan dengan laki-laki tua itu.


"Salam kembali tuan Wijaya.., saya ini mamanya Cassandra. Ijin sebagai mamanya, baru bisa menitipkan putri saya dalam keluarga besar tuan Wijaya. Sayangi putri saya, sama dengan bagaimana tuan Wijaya menyayangi Andreas. Jika terjadi sesuatu pada hubungan antara nak Andre dengan Cassandra, ijin untuk pertama kali menghubungi saya, atau kembalikan putri saya pada kami tuan Wijaya." Nyonya Dhini sekalian menitipkan putrinya pada laki-laki tua itu.


"Pasti..pasti Nyonya Dhini. Dengan hadirnya cucu kita, mereka tidak akan terpisah sampai kapanpun, saya yang akan bersuara paling keras jika ada konflik dalam hubungan mereka. Percayalah kepada kami Nyonya.." tuan Wijaya mengucap janji.


Meskipun belum bisa menerima 100 % laki-laki yang telah memperkosanya itu untuk menjadi suaminya, namun melihat rona bahagia di wajah ibundanya, muncul rasa hangat dalam hati Cassandra.


***********