
Di dalam kamar, Nyonya Sandrina mendengar ada sedikit keributan di luar kamarnya. Perempuan itu segera membuka pintu kamarnya, kemudian berjalan menuju ke ruang tengah. Nyonya Sandrina menghentikan langkahnya, karena melihat dua wajah asing sedang membaca Al Qur'an di ruang tengah. Ada keinginan terlintas dalam hati perempuan itu untuk menghentikan keduanya, namun bibirnya seakan kelu. Akhirnya Nyonya Sandrina membelokkan kakinya menuju ke teras belakang.
"Yati... Siti.. siapa itu di ruang tengah, apakah kalian para ART dan pengawal tidak paham, bagaimana tinggal di mansion. Tidak boleh membawa orang asing datang ke rumah, kecuali tanpa seijinku atau ijin dari putraku Andreas Jonathan..." tanpa bertanya terlebih dahulu, Nyonya Sandrina langsung marah-marah.
Yati dan Siti tampak gugup mendapatkan pertanyaan itu dari nyonya besarnya, keduanya saling berpandangan. Mereka tidak berani menjawab apa yang ditanyakan oleh Nyonya Sandrina,
"Kalian ini mendengar tidak kata-kataku, ditanya majikan sejak tadi tidak ada satupun yang menjawabnya. Apakah kalian berdua sudah tidak ingin lagi bekerja di mansion ini, aku bisa memberikan rekomendasi pada putraku Andreas untuk memecat kalian berdua..?" kata-kata dengan nada keras kembali keluar dari bibir perempuan paruh baya itu.
Dalam hati, Nyonya Sandrina merasa jengkel dan juga marah, karena merasa jika sejak pagi, tidak hanya pengawal, petugas keamanan bahkan sekarang ART berani untuk tidak mengindahkan kata-katanya.
"Mereka adalah ustadz Arifin dan ustadz Ilham nyonya besar, tuan Alexander dan tuan Andreas Jonathan yang membawa beliau berdua ke mansion ini, Saat ini, mereka berdua sedang mendoakan dan membersihkan rumah ini nyonya besar.." akhirnya dengan gugup, Yati berani menjawab pertanyaan dari nyonya besar Sandrina,
"Apa katamu.., mereka ustadz..? Untuk apa keduanya dibawa ke mansion ini, apa yang ada di benak dua anak muda itu, begitu kolotnya pikiran mereka." mendengar jawaban Yati dan Siti, mendadak perasaan nyonya Sandrina yang menjadi gugup. Tanpa berkata-kata lagi, perempuan itu bergegas untuk berbalik menuju ke kamarnya.
"Apakah Andreas Jonathan dan kak Abraham sudah mengetahui apa yang aku lakukan, sehingga mereka mendatangkan dua ustadz itu kemari..?" Nyonya Sandrina bertanya pada dirinya sendiri. Tiba-tiba kepanikan melanda pada perempuan itu.
"Aku harus segera pergi dari rumah ini, aku akan kembali ke Canada sekarang juga. Rumah ini menjadi tidak aman, begitu juga rumah-rumah lain yang ada di negara ini.." perempuan paruh baya itu segera membuka lemari. Perhiasan-perhiasan dan asset keuangan lainnya segera dimasukkan ke dalam kotak, kemudian dimasukkan ke dalam tasnya.
"Sudah tidak ada waktu lagi, aku harus cepat keluar dari rumah ini.. *Fu*ck.. semua ini karena ide konyol dari Jennifer, akhirnya menjadikanku seperti tersangka seperti ini. Mana, gadis itu sejak tadi aku hubungi malah terkesan menghindar terus.. benar-benar kurang ajar." beberapa kali, Nyonya Sandrina mengeluarkan kata-kata umpatan.
Tidak lama kemudian, Nyonya Sandrina sudah membereskan semua kekayaan pada tas jinjing kecil, dan semua perlengkapan pada tas trolly besar. Perempuan itu sudah tidak mau berpikir panjang lagi, langsung menyeret kedua tasnya keluar dari dalam kamar. untuk dapat keluar dari dalam kamarnya, satu-satunya akses adalah melewati ruang tengah, dimana kedua ustadz itu berada.
"Tidak apa-apa Sandrina.. kedua ustadz itu juga tidak mengenalimu, toh kamu juga tidak kenal siapa mereka. Lewat depan mereka saja, tidak akan menjadi masalah.." setelah mendadak ragu-ragu, akhirnya Nyonya Sandrina membulatkan tekadnya, Perempuan itu berjalan melewati ruang tengah.
Ustadz Arifin dan ustad Ilham menghentikan aktivitas mereka sejenak, ketika melihat Nyonya Sandrina melintas di depan mereka. Ada tatapan ganjil dari dua laki-laki itu ketika melihat Nyonya Sandrina, namun tanpa berhenti memberi salam pada mereka, perempuan itu langsung berlalu dari hadapan kedua ustadz tadi.
*********
Dari balkon rumah sakit tempat tuan Wijaya di rawat, Alexander menghubungi pengawal yang berjaga di mansion PIK II. Pengawal melaporkan jika nyonya Sandrina keluar dari mansion, dengan dijemput oleh Jennifer, dan mereka tidak mampu untuk menahannya. Sejenak, ALexander menahan nafas.. kemudian..
"Siap tuan Alex... ustadz Arifin dan ustadz Ilham masih membaca ayat-ayat Al Qur'an di dalam ruang tengah. Sedangkan tuan muda Andreas Jonathan sudah pergi meninggalkan mansion, dengan membawa nona muda Cassandra dan tuan kecil Altezza," pengawal memberikan laporan lagi.
"Baik ,.terima kasih. Layani dengan baik kedua ustadz itu, dan jika beliau berdua telah selesai, antarkan kembali pulang ke rumah mereka masing-masing.." akhirnya Alexander memberikan pesan lanjutan untuk pengawal itu.
"Siap tuan.. semua perintah tuan ALex akan kami pastikan berjalan sesuai rencana,"
Alexander segera mengakhiri panggilan telpon itu, kemudian laki-laki muda itu masuk kembali ke dalam kamar tempat tuan besar Wijaya dirawat,
"Bagaimana keadaannya Tuan Wijaya, sudah membaik bukan.." melihat tuan besar Wijaya sudah duduk bersandar di atas bed, Alexander bertanya tentang kondisi laki-laki itu.
"Sudah Alex.. hanya masih sedikit pusing saja. Untung putraku Andreas cepat membawaku ke rumah sakit, jika tidak.. aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku." ucap Tuan Wijaya sambil tersenyum kecut.
"Dimana Andreas dan Cassandra.. Alex. Tadi hanya bilang padaku ada urusan sebentar, sekarang sudah tengah hari, mereka belum kembali muncul disini." tiba-tiba tidak diduga, tuan Wijaya bertanya tentang putra dan menantunya. Alexander tersenyum kecut, bingung untuk membuat alasan kemana tuan mudanya pergi.
"Honey.. ternyata papa menanyakanmu sayang.." tiba-tiba dari arah pintu masuk, terlihat Andreas sedang merangkul istrinya yang sedang menggendong Altezza. Mereka berjalan mendatanginya.
Tuan Wijaya dan Alexander terkejut, melihat kedatangan pasangan suami istri itu, yang tidak terlihat takut membawa putra mereka yang baru berusia menjelang empat bulan ke rumah sakit.
"Anak nakal.. kenapa kamu membawa cucuku yang masih merah ini ke rumah sakit.. Apakah kalian berdua tidak tahu, bagaimana ganasnya virus dan bakteri yang banyak terdapat disini.." tidak diduga, dibalik kebahagiaan melihat kedatangan cucunya, tuan Wijaya malah memarahi Andreas dan Cassandra.
"Maafkan Sandra papa... karena Sandra tidak bisa hanya meninggalkan Altezz dengan suster pengasuh, makanya kak Andre dan Sandra membawanya kesini. Siapa tahu dengan kedatangan Altezz, papa segera sembuh dan pulih.." Cassandra membuat alasan pada papa mertuanya.
"Pasti putriku.. sini bawa cucuku Altezz mendekat, Papa ingin melihatnya, tapi beri sedikit jarak ya.." Cassandra segera mendekatkan putranya pada kakeknya. Dan rupanya, tuan Wijaya juga cukup tahu diri, untuk menjauhkan wajahnya dari cucunya itu.
***********