
Andreas Jonathan sudah selesai melakukan meeting, dan laki-laki muda itu bergegas untuk kembali ke dalam kamarnya. Tetapi begitu membuka pintu, laki-laki muda itu kaget melihat istrinya masih terjaga. Andreas Jonathan segera mendatangi istrinya, dan memberikan ciuman di kening perempuan muda itu, kemudian duduk di sisi ranjang. Cassandra menggeser posisi berbaring dengan bersandar bantal, untuk memberikan ruang untuk suaminya.
"Kenapa belum tidur honey.. bukankah sejak tadi aku melihatmu sudah mengantuk. Apakah sengaja menungguku, dan minta jatah malam sebelum tidur.." dengan senyum smirk, Andreas Jonathan menggoda istrinya. Cassandra melototkan matanya ke arah suaminya, dan laki-laki itu hanya tertawa lebar.
"Selalu pikiran laki-laki itu, lebih dari 95% pikirannya lari ke arah mesum, ke arah s**eks." Cassandra protes sambil mencibirkan bibirnya.
"Ha.. ha.. ha.., semakin cantik wajahmu honey.. Swear, menjadikanku ingin mencecap bibirmu. Bagaimana honey, apakah kita langsung tancap malam ini..." Andreas Jonathan langsung menangkap bibir istrinya dengan bibirnya. Beberapa saat, pasangan suami istri itu saling berciuman, dan memainkan lidah mereka di mulut pasangan. Hal itu berlangsung cukup lama, dan ketika melihat istrinya kehabisan nafas, barulah Andreas Jonathan melepaskan ciumannya.
Tetapi begitu, bibir Andreas Jonathan akan menyasar ke tempat yang lain, dan hembusan hangat sudah menerpa leher gadis muda itu, Cassandra mendorong dada suaminya dengan pelan. Dengan tatapan sayu, Andreas Jonathan menatap istrinya, dengan sarat pertanyaan. Khawatir jika penolakannya membuat suaminya kecewa, Cassandra memberikan kecupan di pipi laki-laki itu.
"Kita bicara dulu kak... baru nanti Cassandra akan memberikan service pada kak Andre.." sambil tersenyum malu, Cassandra membisikkan janji pada suaminya.
"Hmm... really.. oke, oke.. apa yang ingin kamu katakan honey.." dengan mata berbinar, Andreas Jonathan merespon perkataan istrinya. Laki-laki muda itu kemudian berbaring di sisi istrinya, kemudian perlahan mengambil leher Cassandra dan menyandarkan kepala gadis itu di dadanya. Sesekali ciuman diberikan laki-laki itu ke pucuk kepala gadis itu.
"Ceritakan honey, aku akan mendengarkan.." menunggu istrinya yang tidak segera bicara, Andreas Jonathan tidak sabar ingin mendengarkan.
"Baiklah kak, tapi Sandra mohon kesampingkan emosi. Kak Andre harus bicara dan menanggapinya dengan kepala dingin. Kita luruskan niat kita, memberikan pertolongan pada pihak yang membutuhkan. Maukah kak Andre berjanji..?" merasa ragu, Cassandra meminta suaminya untuk berjanji.
Mungkin karena tidak mengira, apa yang akan menjadi topik pembicaraan, dengan tegas laki-laki muda itu menganggukkan kepala sambil tersenyum. Wajah cassandra berubah menjadi cerah, kemudian...
"Terima kasih kak..., tapi Sandra harap kak Andre memegang janji ya. Jadi begini kak, tadi pagi mama Sandrina melakukan panggilan pada Cassandra.." mata Andreas Jonathan melebar, mendengar apa yang diucapkan oleh istrinya. Tetapi Cassandra menatap balik, seperti mengingatkan kembali janji yang telah dilakukannya tadi. Akhirnya laki-laki itu hanya bisa menelan ludah, dan tidak mau berkomentar sampai istrinya selesai bercerita.
"Karena Sandra tidak sempat mengangkat tiga kali panggilan masuknya, akhirnya mama Sandrina mengirimkan dua chat pada Sandra kak. Nanti kak Andre bisa membacanya sendiri, dimana intinya mama Sandrina membutuhkan bantuan untuk bisa kabur dari cengkeraman laki-laki teman dari Armansyah. Beberapa hari lalu, Armansyah sudah pergi meninggalkan mama tanpa satu patah katapun. Dan kali ini, mama Sandrina dan Jennifer mendapat ancaman akan dijadikan pelacur oleh laki-laki yang membawa mereka ke Swiss.." akhirnya Cassandra menceritakan semua isi pesan dari Sandrina.
Andreas Jonathan terdiam beberapa saat, tidak ada satu patah katapun yang keluar dari bibir laki-laki muda itu. Gambaran masa lalu, perlakuan Sandrina masih sangat diingatnya, dan seakan kata maaf tidak pernah ada untuk perempuan paruh baya itu. Melihat respon suaminya, Cassandra membalikkan badan, dan mereka saat ini saling berhadapan.
"Jika kak Andre belum bisa menghilangkan rasa dendam akan perlakuan mereka, tempatkan saat ini kak Andre membantu orang lainnya kak.. Hilangkan dalam pikiran kakak, jika mama Sandrina dan Jennifer yang saat ini kak Andre bantu.. Mungkin kali ini sudah menjadi saatnya kak, kita semua menghilangkan dendam, dan hidup damai berdampingan bersama. Kak Andre juga tidak perlu turun tangan sendiri, kak Andre bisa memerintahkan anak buah untuk melakukan penyelidikan terlebih dahulu, barulah memberikan pertolongan.." cassandra terus berusaha melunakkan hati suaminya.
*********
Pagi Hari di Apartemen Zurich...
"Tok... tok.. tok.., bangun Sandrina.., Jennifer.., bangun!! Jangan bermalas-malasan..." Sandrina dan Jennifer yang tadi malam tidur bersama, karena Thanom dan Arron tidak pulang kaget. Mereka segera terbangun, dan saling berpandangan.
"Siapa tante yang gedor-gedor pintu kamar..?" masih dalam kondisi mengantuk, Jennifer bertanya pada perempuan paruh baya itu.
"Tante juga tidak tahu Sandrina.. tetapi siapa lagi jika bukan Thanom, atau Arron. Kita harus segera bangun, jangan sampai kedua laki-laki itu menumpahkan emosinya pada kita. Sambil menunggu ada pertolongan pada kita, sebaiknya kita mengikuti apa yang mereka inginkan.." Sandrina menenangkan Jennifer, dan gadis muda itu dengan tidak berdaya hanya bisa menganggukkan kepala.
"Cepat buka pintunya pemalas... dor.. dor.. dor..." kembali suara gedoran di pintu terdengar memekakkan telinga.
"Iya.. tunggu sebentar.." dengan langkah gontai, akhirnya Sandrina berjalan menuju ke arah pintu, dan terlihat Thanom berdiri di depan pintu kamar.
"Segera ajak Jennifer mandi dan bersiap, sudah saatnya hari ini kalian berdua untuk bekerja. Mandi dan dandan yang cantik, jangan permalukan aku..." dengan nada keras, laki-laki itu berteriak memerintah Sandrina.
Wajah Sandrina berubah menjadi pucat, mendengar kata-kata yang diucapkan oleh laki-laki yang berdiri di depannya itu.
"Maksudmu apa Thanom... kami diminta bekerja mulai pagi ini. Bekerja dimana, dan di perusahaan apa...?" Sandrina mencoba mencari kejelasan.
"Tidak perlu banyak bertanya, apakah harus berkali-kali aku mengulang kata-kata untuk membuat kalian berdua mengerti. Segera mandi, aku sudah membawakan kalian berdua makanan, jadi tidak perlu untuk menyiapkan makanan pagi ini. Aku tunggu, tidak boleh lebih dari satu jam, kalian harus sudah bersiap.." tanpa mau mendengar pembelaan dari perempuan yang ada di depannya, Thanom membalikkan badan dan meninggalkan perempuan paruh baya itu.
Mendengar kata-kata Thanom, wajah Jennifer yang berada di belakang Sandrina langsung memucat. Perempuan muda itu memeluk erat tubuh Sandrina dari belakang, seakan minta pertolongan. Tidak jauh berbeda dengan keadaan Jennifer, Sandrina pun juga memucat wajahnya. Kedua perempuan itu saling berpandangan, dan air mata mulai mengalir dari kelopak mata mereka, menetes menuju pipinya.
***********