
Mata Andreas Jonathan menatap mata Hanafi dengan marah, dan papa tiri Cassandra seperti terintimidasi dengan tatapan itu. Demikian juga dengan tiga laki-laki yang datang bersamanya, mereka semua memandang laki-laki itu dengan tatapan hina. Hanafi secara reflek memundurkan Langkah ke belakang, demikian juga dengan Candra. Ketiga orang yang tadi berniat dan berlaku pongah pada Nyonya Dhini dan Cassandra itu, saat ini seperti kerupuk tersiram air.
“Sandra.. apa yang kamu maui dari orang ini, aku akan melakukannya untukmu. Beraninya kamu memaki-maki orangku..” dengan tatapan dingin. Andreas Jonathan bertanya pada Cassandra.
Seperti memberikan perlindungan pada gadis itu, tangan CEO PT. Indotrex. Tbk, diletakkan di bahu Cassandra. Mata Cassandra terbelalak mendapatkan perlakuan itu, namun gadis itu juga tidak berani berkutik untuk menyingkirkan tangan itu dari bahunya.
“Kalian ini siapa, kenapa bisa berada dalam kamar rawat inapku..” bingung melihat kedatangan empat laki-laki tampan secara tiba-tiba, Nyonya Dhini bertanya dengan suara lirih.
Alexander berjalan mendekati perempuan itu, diikuti dengan Rommy dan Raditya. Mereka menyalami tangan perempuan tua itu, kemudian mencium punggung tangannya. Andreas Jonathan tidak ikut mendekat, hanya menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya, memberi salam pada mamanya Cassandra.
“Kami berempat ini temannya Sandra di Jakarta tante.., kami juga datang ke Jogja Bersama. Bahkan juga menginap di hotel yang sama di Ambarukmo Palace hotel. Sebenarnya kedatangan kami, tidak ingin mencampuri keluarga tante, namun melihat kesewenang-wenangan laki-laki tua itu, kami tidak bisa hanya diam saja.” Alexander menjelaskan posisi mereka di depan perempuan tua itu.
Bahkan sedikitpun laki-laki itu tidak menyinggung, jika dia dan Andreas Jonathan adalah atasan Cassandra di kantor. Hanafi, Candra, dan adik kandung Hanafi hanya berdiri gemetar di pojok ruangan. Tiba-tiba seorang anak kecil laki-laki, tampak merasa ketakutan dan mendekat ke arah Nyonya Dhini.
“Armand.. itu kakakmu Namanya kak Sandra. Ayuk panggil kakakmu..” sambil tersenyum, Nyonya Dhini memberi tahu Armand tentang kakaknya.
Melihat lucunya anak kecil laki-laki itu, Cassandra berjalan mendekat dan memeluk tubuh anak laki-laki kecil itu dengan erat. Bocah laki-laki Bernama Armand itu dengan polosnya menengadahkan wajah, dan melihat pada Cassandra.
“Armand ini apakah adik Sandra mama..” dengan polosnya Cassandra bertanya tentang Armand, dan perempuan tua itu tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Kakak.. apakah ini kak Sandra yang sering mama ceritakan pada Armand..” dengan polosnya bocah kecil itu Kembali bertanya.
“Benar Armand, kak Sandra ini kakak perempuanmu..” Cassandra menjawab pertanyaan adik laki-lakinya, tangan gadis itu dengan gemas mempermainkan pipi gembul adik laki-lakinya.
“Oh ya tante.. by the way.. apa yang akan tante lakukan dengan laki-laki tak bermoral itu. Jika seperti tadi yang diucap Cassandra, yang akan mengurus perceraian tante dengannya, maka besok siang saya pastikan surat cerai sudah akan berada di tangan tante.” Dengan meyakinkan, tiba-tiba Alexander bertanya tentang kelanjutan hubungan pasangan suami istri yang selalu diwarnai kekerasan itu.
Beberapa saat Nyonya Dhini terdiam, dan semua yang ada di ruang itu menunggu dengan cemas. Tetapi tidak lama kemudian, perempuan tua itu mengangguk perlahan.
“Baik tante.. jangan khawatir. Tidak akan sampai satu hari, surat cerai sudah aka nada di tangan tante. Tidak perlu lagi berpikir tentang laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti itu, hanya akan menghancurkan hidup tante dan keluarga.” Lanjut Alexander.
Mendengar perkataan laki-laki mud aitu, wajah Hanafi menjadi pucat. Laki-laki itu memberi isyarat pada adik perempuan dan putranya, bergegas meninggalkan kamar rawat inap rumah sakit itu.
******
Atas perintah Andreas Jonathan, Nyonya Dhini segera dipindahkan di rumah sakit swasta terbesar di DIY. Kamar VVIP dipilih laki-laki itu, dan memerintahkan pihak rumah sakit untuk memberikan perawatan khusus, dan dokter
“Terima kasih tuan muda.. Sandra tidak tahu kapan akan bisa membalas kebaikan tuan muda.” Di luar kamar inap, Cassandra berbicara pada atasannya.
“Bicara apa kamu, kesehatanmu dan juga keluargamu menjadi tanggung jawab perusahaan. Jangan melo dan cengeng seperti itu.” Tanpa melihat pada gadis itu, tuan muda menanggapi perkataan Cassandra.
Gadis itu hanya diam, bingung bagaimana harus menghadapi sikap tuan mudanya. Tetapi untuk saat ini, diam sepertinya menjadi sesuatu yang tepat baginya. Tommy dan Raditya sudah lebih dulu balik ke hotel, tinggallah Cassandra dan Andreas Jonathan serta Alexander yang masih berada di rumah sakit.
“Tuan muda.. hari sudah malam. Tuan muda dan tuan Alex, sebaiknya Kembali ke hotel. Saya akan menjaga mama di rumah sakit ini tuan muda..” bingung bagaimana harus memperlakukan tuan mudanya di rumah sakit, Cassandra memberanikan diri meminta laki-laki itu untuk Kembali ke hotel.
“Kamu mengusirku, tidak perlu kamu mencari alasan Sandra. Aku dan Alex masih berada disini, karena menunggu perawat pramurukti yang akan menjaga mamamu. Senin pagi, kamu Bersama dengan kita Kembali ke Jakarta dengan penerbangan pukul enam pagi. Kamu tidak perlu khawatir dengan penjagaan Nyonya Dhini, Alexander sudah mengaturnya.” Cassandra kaget dengan jawaban yang dikatakan laki-laki itu.
Tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya selain hanya mengikuti apa yang dikatakan tuan mudanya. Laki-laki disampingnya itu tidak mengenal bantahan, apalagi proses. Seperti yang pernah dikatakan, terlihat Alexander datang dengan membawa seorang perempuan muda seusia Cassandra.
“Sandra.ini Lili, pramurukti yang akan menjaga dan mengawasi mamamu setelah pulih dari sakitnya. Perusahaan sudah membayar Lili di depan selama enam bulan, jadi kamu bisa focus kerja, dan Kembali dengan kita ke Jakarta besok Senin.” Alexander mengenalkan perempuan Bernama Lili itu.
Cassandra sangat Bahagia, gadis itu sama sekali tidak menyangka jika CEO dan wakil CEO, akan begitu memperhatikan keluarganya. Dengan mata berkaca-kaca, tanpa bicara gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih tuan muda.. tuan Alex..” ucap Cassandra perlahan.
Melihat kedua tuannya tidak menjawab kata-katanya, Cassandra mengajak Lili masuk ke dalam kamar rawat inap. Terlihat Armand sedang memijat kaki Nyonya Dhini.
“Mama.. kenalkan ini Lili mam.. Besok Senin pagi, Sandra harus sudah kembali ke Jakarta. Untuk menjaga dan menemani mama, Lili akan di rumah sampai dengan enam bulan lamanya. Dan kamu Armand, kakak akan Kembali
bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, jaga mama ya sayang.” Cassandra tersenyum melihat ke wajah mama dan adik laki-lakinya.
“Iya.. terima kasih..” ucap Nyonya Dhini singkat. Tidak banyak kata yang diucapkan oleh perempuan tua itu, karena putrinya memiliki sikap keras seperti almarhum papanya. Perasaan menyesal telah menikah dengan Hanafi perlahan menghampiri Nyonya Dhini. Tetapi begitu melihatan kepolosan Armand, dengan cepat perempuan itu menghapus rasa penyesalannya.
“Kakak.. apakah kak Sandra juga akan sering Kembali ke Jogja kak..?” Cassandra kaget, tidak diduga adik kecil beda papa itu bertanya kepada dirinya. Gadis itu berpikir jika Armand sudah bisa menerimanya.
“Pasti sayang, hanya saja kakak tidak bisa terlalu sering ke Jogja. Karena selain ongkos tiket mahal, juga kakak harus bekerja, dan tidak boleh bolos sembarangan.” Sambil mengulum senyum, Cassandra menjawab pertanyaan dari adiknya.
Nyonya Dhini tersenyum Bahagia, dan bersyukur akhirnya kedua putranya bisa Bersatu.
********