
Dengan tidak memiliki selera sedikitpun, Cassandra memotong-motong beef steak yang ada di depannya. Tampak warna merah daging menandakan tekstur renyah, juicy dari daging tersebut. Tetapi karena waktu sudah menunjukkan lebih dari jam 21.00, setelah beraktivitas dari pagi hanya tidur di atas bed yang diinginkan gadis itu. Rasa laparnya sudah menguap dari tadi, bercampur dengan keterkejutan besarnya dana yang digunakan untuk membayar barang belanjaannya di supermarket. Meskipun dengan posisinya saat ini, gaji per bulannya masih sisa untuk membayar, namun banyaknya mimpi dan kebutuhan yang masih ingin dipenuhinya, membuatnya menjadi ilfill dengan keadaan tadi.
"Betapa beruntungnya jadi orang kaya, membeli barang apapun tidak pernah melihat harga, ada saja uang yang digunakan untuk membayarnya.." Cassandra membatin sendiri. Dia mengkalkulasi kebutuhan setiap bulannya, apa yang harus dihematnya jika ingin gajinya cukup sampai dengan akhir bulan. Tetapi begitu mengingat nilai uang yang dengan mudah dikeluarkan oleh dua orang di depannya itu sejak tadi, gadis itu menjadi bingung dan tidak bisa berpikir lagi.
"Kenapa tidak segera makan, apakah lidahmu tidak cocok dengan beef steak di restaurant ini.." melihat Cassandra yang hanya terdiam memotong-motong daging sejak tadi, namun belum mencoba sedikitpun membuat jengah bagi siapapun yang memandangnya. Tidak terkecuali bagi Andreas Jonathan.
"Atau jika tidak menyukai daging sapi, bisa aku pesankan salmon steak Sandra. Tapi sebenarnya best seller menu di restaurant ini beef steaknya." merasa khawatir jika gadis yang duduk di depannya tidak menyukai daging, Alexander bertanya pada gadis itu.
"Tidak perlu tuan.. saya suka beef. Hanya saja ini sudah terlalu malam, jadi Sandra sudah sedikit mengantuk, pingin cepat tidur." sahut Sandra gugup, dan dengan malas memasukkan potongan daging ke bibirnya.
Satu potongan masuk, gadis itu menghentikan kunyahannya sejenak mencoba meresapi tekstur dan kekenyalan potongan daging yang ada di dalam mulutnya. Rasanya pas, dengan tekstur dan keempukan daging yang mantap, dan gadis itu melanjutkan mengunyah. Rasa enak beef steak yang ada di depannya, melunturkan rasa kesal dan jengkel berada di antara para atasannya.
"Lanjutkan makannya, tidak perlu banyak bicara.." tiba-tiba ANdreas Jonathan merasa terganggu dengan sikap peduli yang ditunjukkan Alexander pada gadis itu. Kedua anak muda itu mengangkat wajahnya dan saling berpandangan, kemudian melanjutkan makanan mereka sampai habis.
"Tuan.. saya keluar duluan untuk menyiapkan mobil di lobby mall ya.. Nitip Cassandra, jangan biarkan gadis ini keluar sendirian. Bisa-bisa nanti dia tidak bisa kembali sendiri, kita kehilangan lagi sekretaris dong.." dengan maksud bercanda, Alexander berpamitan untuk meninggalkan mereka berdua.
"Tidak perlu banyak bicara, segera siapkan mobil.." ucap Andreas Jonathan dan membersihkan bibir dengan menggunakan lap bersih yang sudah disediakan pihak restaurant.
Sepeninggalan Alexander, Cassandra tidak bisa berkutik dan berbuat banyak di hadapan laki-laki yang duduk di sampingnya itu. Sejak tadi, gadis itu hanya diam dan mengaduk minuman di gelasnya, tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun.
"Kamu akan tetap disini atau akan pulang bersamaku.." tiba-tiba suara dingin ANdreas Jonathan mengagetkan Cassandra. Dengan cepat gadis itu berdiri, karena ternyata laki-laki itu sudah berdiri dan melihatnya. Jika dia sudah hafal jalanan ibukota, Cassandra pasti akan memilih sendiri arah untuk menuju pulang, namun sayangnya Cassandra belum menghafalnya.
Tanpa menunggu jawaban Cassandra, melihat gadis itu sudah berdiri, Andreas Jonathan segera melangkahkan kaki meninggalkan meja. Cassandra segera mengikuti langkah kaki laki-laki dan berjalan di belakangnya.
**********
Tidak perlu memberi tahu, Alexander sudah tahu kemana harus mengantarkan Cassandra pulang menuju apartemen, karena gadis itu masih tinggal di apartemen yang menjadi fasilitas dari perusahaan. Tanpa bicara. laki-laki itu terus menyetir mobil dan melesat membelah jalanan ibukota yang masih terlihat ramai lancar.
Cassandra memang duduk di samping Andreas Jonathan, dan itu juga mengejutkan Alexander. Selama ini tuan muda terkesan enggan bersentuhan kulit dengan orang asing, sehingga kemanapun selalu sering untuk duduk sendiri di kursi tengah. Namun melihat Cassandra yang akan duduk di sampingnya pada kursi depan, tiba-tiba saja tuan muda merasa marah. Untuk menyapih keadaan, akhirnya Cassandra mengalah dan berpindah duduk di tengah menemani Andreas Jonathan.
"Lantai lima tuan Alex.., tidak perlu mengantar saya sampai atas tuan.. Kan ada fasilitas lift, jadi saya bisa memakai troly yang ada di apartemen untuk membawa barang-barang saya ke lantai atas.." Cassandra menjawab pertanyaan Alexander.
Andreas Jonathan terlihat duduk sambil menyandarkan leher dan kepalanya pada sandaran kursi. Cassandra bisa melihatnya, dan laki-laki itu tidak berkomentar apapun. Dari kursi depan belakang kemudi, Alexander juga tidak menanggapi perkataan Cassandra, laki-laki itu tetap fokus mengemudi. Tidak lama kemudian, mobil yang dibawa Alexander sudah sampai di lobby apartemen. Melihat nomor plat mobil, security bergegas membuka pintu mobil tersebut.
"Terima kasih tuan muda atas bantuannya malam ini, sudah mau membantu saya berbelanja sekaligus membayarkan semua dananya, juga mengantar Sandra sampai di apartemen." merasa kikuk, Cassandra mengucapkan terima kasih pada Andreas Jonathan. Sedangkan Alexander sudah mengeluarkan barang belanjaan dari bagasi mobil, dan trolly apartemen sudah siap untuk membawanya ke lantai lima.
"Keluarlah dulu.." ANdreas Jonathan malam memerintahkan Cassandra keluar dari dalam mobil.
Tanpa banyak pertanyaan, Cassandra mengikuti permintaan dari laki-laki itu, dia segera keluar dari dalam mobil yang pintunya sudah dibuka oleh security. Tetapi betapa terkejutnya Alexander dan Cassandra, karena ternyata Andreas Jonathan ikut turun dari dalam mobil dan berjalan menuju ke pintu masuk apartemen. Tidak mau memperpanjang masalah di lobby apartemen, Alexander mengikuti tuan mudanya masuk apartemen.
"Tuan Alex.. pada mau kemana. Tidak perlu mengantar Cassandra sampai ke kamat tuan. Disini saja sudah cukup, saya sudah sangat berterima kasih sekali." merasa tidak enak, Cassandra memohon pada wakil CEO.
Alexander hanya tersenyum, kemudian tidak menanggapi pertanyaan gadis itu malah mengangkat kedua bahunya ke atas. Tidak mau berdebat lagi, security sudah mendorong trolly menuju lift, dan ketiga orang itu akhirnya mengikuti di belakang. Sepanjang perjalanan masuk ke lift., dan akhirnya sampai di depan pintu ruangan yang ditempati oleh Cassandra, tidak ada yang berani mengeluarkan suara.
"Non Sandra.. kunci pintunya mana Non.. saya bantu untuk buka pintunya.." dengan ramah, security yang tidak pernah berbincang dengan gadis itu, tiba-tiba menawarkan diri untuk membuka pintu.
"Sudah sampai disini saja pak, saya akan membuka pintu ruangan saya sendiri." ucap Cassandra sambil ke depan kemudian membuka pintu ruangan.
"Pergilah.." Andreas Jonathan mengusir security untuk segera pergi dari tempat Cassandra.
Tanpa bicara lagi, Andreas Jonathan dan Alexander masuk ke dalam ruangan apartemen yang mereka fasilitaskan untuk gadis itu. Tanpa dipersilakan duduk, kedua laki-laki itu langsung duduk di sofa tamu.
*********