
Setelah semua persiapan selesai, tidak mau menunggu keapesan menghampiri keluarganya, Andreas Jonathan segera mengajak istrinya Cassandra untuk segera meninggalkan Indonesia. Tanpa membantah ataupun menolak, Cassandra dengan segera merespon ajakan suaminya.. Beberapa pengawal membawa barang-barang yang sudah disiapkan oleh Cassandra.
"Honey... apakah kamu sudah siap sayang?? Serahkan Altezz pada suster Rossana, honey tidak perlu mendorong stroller Altezz." melihat Cassandra mendorong stroller, Andreas Jonathan segera menarik dan menggandeng perempuan itu.
Dengan sigap, suster Rosanna segera menggantikan nona mudanya mendorong stroller. Beberapa langkah mereka meninggalkan ruangan ruang tengah, Cassandra teringat untuk berlari dengan mama dan papa mertuanya. Gadis itu menghentikan langkahnya.
"Kenapa honey.. kita harus segera meninggalkan ruangan ini. Jet private jangan sampai terlalu lama untuk menunggu kita, karena akan ada celah kejahatan mengintai kita." Andreas Jonathan membuat peringatan pada istrinya.
"Bukan begitu kak, maksud Sandra apakah kita tidak pamitan dulu dengan papa dan mama terlebih dahulu kak. Bagaimana jika mereka mencari kita..?" akhirnya Cassandra menyampaikan apa.yang akan dilakukan.
"Tidak perlu, kita berkejaran dengan waktu honey. Papa dan mama Sheila sudah tahu rencana kita, dan juga tahu jika kita akan segera berangkat malam ini." Andreas Jonathan terlihat cuek dan mengabaikan kata-kata istrinya.
Cassandra mengerutkan kening melihat kecuekan suami pada papa dan mama kandungnya sendiri, juga dengan adik iparnya. Tiba-tiba laki-laki itu langsung meletakan tangan di bahu Cassandra, dan mengajak gadis itu agar mempercepat langkahnya.
"Jangan terlalu banyak berpikir honey, banyak terjadi pikiran kita sendirilah yang akan membelenggu kita sendiri juga. Aku sudah mengatakan pada mama Sheila dan papa Wijaya jika malam ini kita sudah terbang meninggalkan Indonesia. Tenangkan pikiranmu jangan memikirkan mereka lagi." sambil berjalan, Andreas Jonathan mengatakan sesuatu pada istrinya.
"Tapi kak.., Sandra sendiri belum pamitan pada mereka kak.." Cassandra masih merasa tidak enak.
Tanpa menjawab, Andreas Jonathan segera mengangkat tubuh istrinya, dan dengan bridal style tanpa malu laki-laki membawanya istrinya. Agar tubuhnya mendapatkan keseimbangan, Cassandra mengalungkan kedua tangan ke leher suaminya. Dan untuk menghilangkan rasa malu, gadis itu menyembunyikan wajah di dada laki-laki itu.
"Memangnya kak Andre tidak merasa berat mengangkat tubuh Sandra, turunkan saja kak. Malu juga dilihat banyak orang kak, ayolah turunkan Cassandra." di dada Andreas Jonathan, Cassandra berusaha meminta agar laki-laki itu menurunkannya.
"Hmm... harusnya honey itu bangga, bisa diangkat oleh laki-laki idaman banyak gadis. Untuk masalah kekuatan, masihkah istriku meragukan kekuatanku. Jika honey saja memiliki tubuh yang kuat, bisa menahan tubuhku hampir setiap hari di atas ranjang, tidak tepat jika kali ini honey bertanya tentang hal itu." dengan tidak tahu malu, Andreas Jonathan dengan mudah mementahkan kata-kata istrinya.
Cassandra semakin meringkuk dalam dekapan suaminya, karena mereka sudah sampai ke lobby hotel. Untungnya mobil yang akan membawa mereka ke bandara Halim Perdanakusuma sudah menunggu di depan lobby, sehingga Andreas Jonathan langsung membawa istrinya masuk ke dalam mobil. Tidak lama kemudian, suster Rosanna segera menggendong Altezza yang sudah tertidur dan membawanya masuk ke dalam mobil itu juga. Cassandra segera mengambil putranya dan mendudukkannya di antara dirinya dan suaminya.
"Tidur saja dulu honey... lumayan bisa sampai satu jam perjalanan menuju ke arah bandara." Andreas Jonathan meminta istrinya istirahat.
Cassandra tidak menjawab tetapi gadis itu segera menyandarkan kepala di lengan atas suaminya.
********
Dengan lesu, Nyonya Sheilla mendatangi kamar putrinya Stevie. Di dalam kamar, kebetulan juga ada keberadaan Alexander yang akan mengajak gadis itu untuk bertemu dengan tuan Wijaya. Alexander sengaja tidak mengantarkan tuan mudanya menuju ke bandara, karena merasa ada sesuatu yang harus diurusnya dengan gadis yang sudah menawan hatinya itu.
"Kenapa Tante Sheilla terlihat lesu dan tidak bersemangat hari ini? Apakah karena kepergian tuan muda beserta keluarga kecilnya." melihat tidak ada senyuman di bibir perempuan paruh baya itu, Alexander bertanya pada mama Stevie.
"Mama dimana pun pasti akan merasa kehilangan Alex, ketika putra beserta cucunya pergi meninggalkannya. Tapi itu mungkin memang merupakan sepenggal perjalanan yang harus Tante jalani." ucap perempuan paruh baya itu.
Alexander menganggukkan kepala, berusaha memahami apa yang disampaikan oleh perempuan paruh baya itu.
"Mama... temani Stevie ya malam ini. Kak Alex mau bertemu dengan papa, Stevie mau mama ikut bersama dengan kami." terlihat Stevie dengan tatapan mengharap meminta pada mamanya.
"Hmm... baiklah, meskipun mama tidak tahu apa yang kamu mau lakukan dengan papamu, mama akan menemanimu." merasa tidak ada kerjaan dan aktivitas lain, akhirnya nyonya Sheila mau menemani Stevie dan Alexander.
Akhirnya dengan dibantu Stevie, nyonya Sheila berdiri. Ketiga orang itu segera keluar dari dalam kamar Stevie, dan berjalan menuju ke arah kamar yang ditempati oleh Tuan Wijaya.
"Tok.. tok.. tok.." Alexander mengetuk pintu kamar Tuan Wijaya.
"Masuk.." terdengar suara dari tuan Wijaya yang mempersilakan masuk.
Stevie mendorong pintu ke dalam, dan diikuti oleh nyonya Sheila serta Alexander di belakang sendiri. Tuan Wijaya terkejut melihat kedatangan ketiga orang itu, dan laki-laki itu meminta ketiganya untuk segera duduk.
"Apakah kedatangan kami kesini mengganggu istirahat papa?" dengan manja Stevie memeluk tuan Wijaya.
"Segeralah kalian duduk, tidak mungkin bukan jika kalian kesini hanya untuk mengganggu istirahat?" tuan Wijaya segera duduk di sofa yang ada di dalam kamar tersebut.
Setelah beberapa saat mereka duduk, Alexander bergeser lebih mendekati ke arah laki-laki tua itu. Sejak mereka duduk, nyonya Sheila sengaja mengalihkan pandangan tidak tahan untuk bertatapan dengan mantan suaminya.
"Tuan besar Wijaya..., mohon maaf atas kelancangan Alex yang sudah berani mengajak Stevie untuk bertemu dengan tuan Besar. Tante Sheila akhirnya juga ikut datang ke mari. Semua muncul karena keinginan untuk segera meminta pada tuan besar dan juga pada Tante Sheila." Alexander memulai pembicaraan.
"Hmmm... terus apa yang kamu inginkan Alexander... sampai kamu meminta waktu khususku.." dengan suara pelan, tuan Wijaya menanggapi perkataan Alexander.
"Begini tuan besar, beberapa saat Alex mengenal Stevie, menemani dan pergi bersama berdua, muncul hasrat dan keinginan Alex untuk menghabiskan hidup bersama dengan Stevie tuan besar. Jika tuan besar dan Tante Sheila berkenan, Alexander meminta Stevie untuk menjadi pasangan hidup selamanya." dengan tegas, Alexander menyampaikan kata-kata lamarannya.
Stevie kaget dan tersentak mendengar pernyataan tiba-tiba dari wakil CEO PT. Indotrex Tbk itu, melamarnya langsung pada papanya. Begitu juga dengan nyonya Sheila, perempuan itu juga merasa kaget.
*******