CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 111 Keputusan



Setelah mengambil nafas dalam, akhirnya tuan besar Wijaya menanda tangani berkas pengajuan perceraian yang dibawa oleh Alexander. Bahkan bagaimana kabar Nyonya Sandrina saat ini, laki-laki tua itu juga sudah tidak menanyakannya lagi. Rasa sakit dengan adanya temuan, yang diperkirakan untuk menghancurkan pernikahan putranya, yang malah berakibat fatal pada dirinya, telah membuat laki-laki tua itu menjadi mati rasa. Apalagi selama beberapa tahun belakangan, Tuan Wijaya juga sudah tinggal terpisah, karena terlalu lelah untuk menuruti ego dari perempuan paruh baya itu.


"Tuan Wijaya.. ijin untuk mengantarkan berkas ini ke lawyer. Jika tidak ada aral melintang, besok pagi akta cerai diperkirakan sudah akan jadi." Alexander berpamitan pada laki-laki tua itu. Anak muda itu kemudian berdiri, kemudian menundukkan wajah untuk memberikan jabat tangan dan mencium punggung tangan Tuan Wijaya. Meskipun tidak ada hubungan darah di antara mereka, tapi bagi Alexander, laki-laki tua itu sudah dianggap seperti papanya sendiri.


"Pergi dan berhati-hatilah.. hubungi pengacaraku di Canada, untuk membekukan assetku yang ada di negara itu. Agar tidak dapat diambil alih oleh keluarga Sandrina. Perempuan itu licik, demikian juga keluarganya.." ketika Alexander sudah akan melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar, terdengar Tuan Wijaya berkata lirih.


"Baik tuan besar.. akan segera Alexander kondisikan. Permisi.." ALexander dengan mantap segera keluar dari dalam kamar tuan Wijaya.


Baru beberapa langkah untuk menuju ke pintu keluar area Pent house, tiba-tiba Andreas Jonathan berjalan cepat dan mengejarnya. Setelah tidak melihat ada keberadaan Cassandra istrinya, laki-laki muda itu mengajak Alexander untuk berbicara di taman depan Pain house.


"Ada apa tuan muda.., tuan besar sudah bersedia menanda tangani berkas perceraian, dan meminta saya untuk menghubungi lawyer di Canada, terkait pembekuan asset atas nama nyonya Sandrina.." Alexander melaporkan hasil pembicaraan dengan tuan Wijaya.


"Jangan khawatir, kamu fokus dengan keadaan di negara ini saja. Terkait asset papa di Canada, dan kota-kota lainnya, aku sudah serahkan pada Mr. Smith untuk mengurusnya. Laki-laki berkebangsaan Amerika itu cukup handal untuk kita serahi tugas seperti ini." ternyata tanpa sepengetahuan tuan Wijaya, Andreas Jonathan sudah mengurus semuanya.


"Siap tuan muda.. apakah ada lagi tugas yang harus saya kerjakan?" merasa jika tuan mudanya ada yang ingin dibicarakan, akhirnya Alexander bertanya pada Andreas Jonathan.


"Kamu ingat dengan laki-laki muda teman istriku Cassandra? Aku dengar kinerjanya di Surabaya sangat bagus, dan market share perusahaan juga meningkat tajam  selaku sebuah perusahaan yang merintis wilayah distribusi baru. Bagaimana pendapatmu, jika anak muda itu kita tarik ke Jakarta. Jadikan tandemmu untuk mengurus perusahaan di Jakarta, karena aku akan mengajak istriku dan Altezz untuk melakukan perjalanan. Yang aku paham, membutuhkan waktu untuk dapat kembali lagi ke Indonesia." tiba-tiba Andreas Jonathan memiliki sebuah ide.


Alexander menatap wajah tuan mudanya, seakan ingin menyelami apa yang akan dilakukannya. Namun.. aura tenang Andreas Jonathan tidak semudah itu untuk  bisa Alexander tembus.


"Tapi.. apakah tuan muda tidak malah akan merasa cemburu, jika melihat kedekatan nona muda dengan laki-laki itu? Bagaimanapun meskipun tidak ada konfirmasi dari keduanya, jika mereka adalah pasangan kekasih, mereka pernah sangat dekat sekali. Tuan muda sendiri tahu bagaimana kedekatan mereka." Alexander sedikit merasa ragu.


"Aku terlalu memahami perasaan istriku Alex.. cinta Cassandra hanya untukku dan juga Altezz. Aku tidak akan semudah itu mencemburuinya, bagaimana jasa anak muda yang bernama Herlambang itu, sangat besar pada istri dan putraku. Atas bantuannya, istriku dan juga Altezza masih bisa sampai pada kondisi saat ini." Andreas Jonathan tersenyum, dan menatap ke depan.


Meskipun dikenal oleh orang lain, jika anak muda itu sangat kejam dan arogan, namun ternyata Andreas Jonathan ,masih orang yang mengenal akan balas budi. Tidak ada yang perlu didiskusikan lagi, karena kata-kata yang keluar dari bibir Andreas Jonathan adalah merupakan perintah baginya, Alexander hanya mengatakan siap untuk melaksanakan perintah tersebut.


*********


Pengadilan memutuskan lima tahun penjara untuk Sandrina dan Jennifer, tanpa ada pembelaan sama sekali. Sidang pengadilan dijalankan secara tertutup, dan kedua perempuan itu mau tidak mau harus rela menjalani masa hukuman atas kesalahan mereka. Keduanya menangis terisak, dan saling menyalahkan sehingga harus dipisahkan oleh polisi yang mengantarkan mereka ke rumah tahanan.


"Mengenalmu ternyata tidak ada manfaat yang aku dapatkan Jenni.. hanya malah mendapatkan ganjaran seperti ini. Dan yang paling menyakitkan adalah akta cerai yang baru saja diserahkan oleh pihak kepolisian kepadaku." dengan tatapan kebencian, Nyonya Sandrina berbicara pada Jennifer.


"Maksud tante.. apakah selama ini aku yang menerima manfaat? Usiaku masih muda tante.. yang harusnya masih menikmati masa kejayaan dan hari-hari dengan penggemarku. namun semua lenyap, hanya dalam waktu sekejap. Tante memang layak dan pantas mendapatkan anugrah seperti itu. Di masa depan, kita tidak perlu lagi untuk berhubungan tante.. Jenni sudah muak.." sebelum mengikuti petugas yang membawanya, untuk ditempatkan di sel, Jennifer sempat mengucapkan beberapa kata untuk Nyonya Sandrina.


"Jaga bicaramu perempuan sun**dal..\, siapa yang membawaku pada paranormal itu. Kamu bukan.. Atau oh.. mungkin selama ini\, aku bisa mempercayaimu\, dan jatuh dalam kata-katamu\, karena pengaruh buruk dari tindakan paranormal yang selalu kamu gunakan. Dasar ja**lang.." Nyonya Sandrina berteriak\, dan akan berlari mengejar Jennifer.


Namun dengan cepat, petugas menarik kembali tangan perempuan separuh baya itu, dan memarahinya dengan kata-kata.


"Bu Sandrina.. jika kamu tidak bisa diajak bekerja sama, dan menghina petugas kepolisian, maka kamu akan kami tuntut dengan pasal yang lain. Patuh pada kami.." petugas keamanan perempuan berteriak, mencoba mengondisikan perempuan itu.


Masih dengan tatapan tidak puas dan protes, Nyonya Sandrina seperti melawan. Namun posisinya saat ini, sedikitpun tidak bisa memberikan pilihan apakah dia harus tunduk pada aturan, ataukan bermain dengan aturannya sendiri. Akhirnya hanya air mata yang mengalir deras, ketika petugas kepolisian itu menarik tangannya dan membawanya ke sel yang lain. Perempuan itu terlihat sudah habis, dan jatuh dalam keterpurukan.


"Masuk.. jangan membantah.." begitu sampai di sel, petugas kepolisian mendorong nyonya Sandrina masuk ke dalam sel. Tatapan penghuni sel perempuan itu tampak menguliti kedatangan perempuan itu. Dan ketika pintu sudah kembali ditutup oleh petugas kepolisian, dan Nyonya Sandrina akan duduk, ternyata ke empat orang teman dalam selnya berdiri dan mengelilingi perempuan paruh baya itu.


"Hmm.. barang baru nih, melihat kulitmu yang masih terlihat halus dan putih, sepertinya kamu bukan berasal dari kaum sembarangan nih..." seorang perempuan berperawakan kekar, memegang dagu nyonya Sandrina, dan perempuan paruh baya itu tampak ketakutan.


"Tolong jangan sakiti saya.. tolong. Saya sudah tua.. hormati saya selaku orang tua.." Nyonya Sandrina berusaha mengambil hati orang-orang disitu.


"Ha.. ha.. ha.., sekarang mengaku tua. Tapi ketika melakukan kejahatan, apakah kamu mengingat jika usiamu sudah tua." orang-orang itu malah tertawa terbahak mendengar perkataan Nyonya Sandrina.


*********