CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 255 Teringat Masa Lalu



Sandrina merasa tidak memiliki jalan penyelesaian dengan berbicara pada anak muda Arron, perempuan paruh baya itu melihat ke arah laki-laki yang sudah menikahinya Thanom. Tetapi Thanom malah mengisap rokok, dan mengepulkan asapnya di ruangan itu. Jennifer semakin pucat, sama sekali tidak menyangka jika dirinya akan dijadikan pelacur murahan di negara Swiss. Semua menyimpang dari peta hidup yang sudah direncanakannya selama ini.


"Thanom... bagaimana tanggapanmu, dengan rencana busuk keponakanmu itu. Apakah kamu akan membiarkan tubuh istrimu dijamah oleh laki-laki lain..? Keluarkan kata-katamu Thanom, lindungi dan perlakukan istrimu dengan selayaknya.." melihat Thanom yang sudah tidak mengeluarkan suara, Sandrina berteriak keras pada laki-laki itu.


"Hemm.. apalagi yang bisa untuk kita harapkan Sandrina, dalam keadaan seperti ini. Apakah kita mau mati kelaparan, karena sudah tidak ada lagi yang bisa kita makan untuk bisa bertahan hidup. Ingat juga Sandrina, sudah berapa ribu dollar uangku yang terserap untuk pendanaan ini.., dan Armansyah yang memberikanku mimpi baru malah pergi melarikan diri.." sambil tersenyum sinis, Thanom memberikan tanggapan.


Sandrina merasa marah dan emosi, perempuan paruh baya itu mengangkat tangan untuk memberikan tamparan pada dua laki-laki di depannya itu. Tetapi dengan cepat, Thanom menangkap pergelangan tangan perempuan itu.. Terlihat tubuh Jennifer tampak gemetar ketakutan melihat kejadian di depan matanya itu...


"Tidak ada hakmu untuk menamparku Sandrina, aku bisa membalasmu dengan balasan yang lebih kejam. Tidak ada hak pilih untukmu dalam kondisi seperti ini.. Arron.. cepat jalankan rencana awalmu, buka market place dan buat akun untuk menjual dua perempuan itu. Dengan uang yang kita kumpulkan, kita akan bisa mendapatkan perempuan lain yang lebih muda.." dengan marah, Thanom segera memberikan perintah pada keponakannya.


"Baik paman... semua akan aku atur secepatnya paman.. Kita harus dengan segera mengembalikan uang kita, yang sudah banyak hilang untuk pendanaan sampai kita berada di negara ini. Sambil kita mencari jalan lain, untuk melakukan pemerasan pada keluarga Andreas Jonathan.." dengan cepat, Arron memberikan tanggapan.


kedua perempuan itu kembali terduduk dengan lemas, mereka hanya bisa menangis tanpa suara. Mereka sama sekali tidak pernah membayangkan, jika kehidupan mereka akan berbalik 180 derajat. Kondisi rendahnya seorang wanita dengan menjual tubuh pada sembarang laki-laki, menjadi semacam ketakutan terbesar bagi mereka.


"Pikir dan siapkan diri kalian berdua, kalian tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi.. Sudah menjadi takdir kalian seperti ini, dan setelah memiliki uang dari hasil tubuh kalian, kita akan mencari Armansyah. laki-laki itu harus mempertanggung jawabkan kepergiannya dari rencana awal kita. Jika kalian bertanya, siapa yang patut untuk disalahkan , maka salahkan Armansyah. Sebagai dalang dan otak, malah melarikan diri dari kita tanpa pesan sepatah katapun.." sambil bersuara keras, Thanom berdiri dan meninggalkan kedua gadis itu.


Tidak lama kemudian, Arron juga mengikuti langkah dari pamannya. Tinggallah Sandrina dan Jennifer yang saling berpegangan tangan. kedua perempuan itu hanya bisa menangis, mengeluarkan kekesalan hati mereka.. Beberapa saat kemudian..


"Tante.., kita harus menjalani rencana yang tante katakan tadi siang.. Tidak ada jalan lain tante, lebih baik kita berada di dalam penjara, dari pada harus menjalani kehidupan sebagai seorang pelacur.." ucap Jennifer tersengal.


"Iya Jenni.. aku akan mencoba menghubungi nomor ponsel Andreas Jonathan.. Semoga saja, dengan bersamanya sebagai mamanya selama bertahun-tahun, masih terbuka peluang maaf untuk kita. Aku akan mencobanya Jennifer.." ucap Sandrina lemah.


Tidak ada cara lain, Jennifer hanya menganggukkan kepala mengiyakan apa yang dikatakan oleh Sandrina.


*********


Pagi Harinya


"Syukurlah.., meskipun aku belum pernah berhubungan dengan gadis muda itu, aku masih menyimpan nomor ponselnya disini. Aku bisa menggunakannya pada saat ini.., hanya gadis itu satu-satunya yang akan melepaskanku dari masalah ini.." Sandrina terlihat sangat sumringah ketika perempuan itu menemukan nomor ponsel Cassandra.


"Aku akan mencoba untuk menelponnya.." Sandrina segera melakukan panggilan keluar, tetapi sampai dua kali perempuan itu melakukan panggilan, tidak ada respon dari perempuan muda itu.


"Mungkin Cassandra sedang repot mengurus suami dan putranya, jadi tidak sempat menerima panggilanku. Aku akan mengiriminya pesan, dan untuk meyakinkannya aku akan mengirim share location apartemen ini," Sandrina kemudian mengetik pesan pada Cassandra


"Sandra.. ini mama Sandrina.. Maafkan semua kesalahan mama selama ini nak.., tolonglah mama saat ini. Mama terjebak masuk dalam lingkungan yang sangat memprihatinkan, dan hanya dirimu dan Andrelah yang akan bisa melepaskan mama dari tempat ini." satu chat terkirim ke nomor Cassandra.


"Mama tidak bisa bercerita banyak, karena ruang gerak mama terbatas Cassandra. Di bawah, mama lampirkan share location apartemen tempat mama berada di kota Zurich. Mamah siap untuk mempertanggung jawabkan semua kesalahan mama di masa lalu, bahkan jika Andreas akan menjebloskan mama ke dalam penjarapun, mama akan menerimanya nak.. Itu masih lebih baik, dari pada kenyataan yang akan mama dapatkan, jika mama masih berada di tempat ini..." Sandrina melanjutkan ketikannya.


Tiba-tiba pintu kamar Sandrina didorong dari luar, dan dengan sigap Sandrina menyimpan ponselnya di dalam saku setelah mengirimkan share location pada istri dari Andreas Jonathan.


"Tante.. apa yang sedang tante lakukan di kamar..?" ternyata Jennifer yang sudah masuk ke dalam kamarnya. Rupanya Arron juga sudah pergi keluar dari dalam apartemen, sehingga gadis itu bisa keluar dari dalam kamarnya.


"Kamu rupanya Jenni.. kamu sudah mengejutkanku," nyonya Sandrina mengambil nafas lega melihat kedatangan gadis itu.


"Iya tante.. Jenni menunggu Arron keluar dulu dari apartemen, baru bisa menemui tante. Bagaimana, apakah tante sudah memiliki rencana untuk pergi meninggalkan apartemen ini tante..?" Jennifer mengejar Sandrina dengan pertanyaan.


"Aku belumĀ  bisa berkata apa-apa Jenni, aku baru saja mengirim pesan lewat aplikasi whattsapps pada Cassandra. Hanya gadis itu, harapanku satu-satunya. Aku tidak berani untuk menghubungi Andreas, karena laki-laki itu bisa saja membiarkanku disini, tidak mau bertanggung jawab atas kebodohanku." Sandrina menjawab pertanyaan Jennifer.


Jennifer terdiam, teringat kebodohannya di masa lalu. Hanya karena rasa cemburu yang tidak beralasan, gadis itu pernah berbuat sirik dan tidak bisa dimaafkan oleh Andreas Jonathan,. Hal itulah yang menjadi awal, cikal bakal terperosoknya mereka sampai di negara ini.


*********