CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 162 Rumah Bogor



Mata Stevie terbelalak dan muncul rasa kagum melihat megahnya bangunan yang ada di depannya. Terlihat dua laki-laki menghampiri kedua anak muda itu, kemudian mereka membungkukkan badan memberi salam pada Alexander. Anak muda itu tanpa mengajak Stevie, berbicara pada dua laki-laki itu..


"Stevie.. ayo ikuti aku, kita harus masuk ke dalam.." dengan suara lembut, Alexander mengajak Stevie masuk ke dalam rumah. Tanpa ada pertanyaan, gadis itu mengikuti Alexander dan masuk ke dalam rumah yang terlihat sangat megah itu.


Begitu masuk melalui pintu utama, perabotan dengan dominasi warna putih dan hitam, tampak dipilih dari bahan yang berkualitas seperti menghipnotis pandangan mata gadis itu. Tidak ada penunjuk apapun, yang menjelaskan rumah yang saat ini mereka masuki itu milik siapa. Tiba-tiba dari arah bagian dalam, keluar dua perempuan, yang satu masih muda sedangkan yang satunya sudah paruh baya.


"Tuan Alex.. kenapa pulang tidak memberi tahu kami sebelumnya. Kami siapkan minuman apa tuan, sepertinya tuan Alex terlihat lelah.." tanpa menyapa Stevie, perempuan itu bertanya dan menyambut kedatangan Alexander. Mereka terlihat memiliki hubungan yang akrab,


"Untukku.. buatkan hot black coffee, gunakan bijih Robusta. Siapkan brown sugar di sampingnya, nanti aku akan masukkan sendiri.." dengan tegas, Alexander membuat perintah.


"Oh ya.. untuk calon istriku, tanyakan sendiri kepadanya.." lanjut ALexander tanpa rasa malu,


Kedua perempuan itu saling berpandangan, mereka tampak terkejut dan saling berpandangan. Namun.. keduanya segera mendatangi Stevie.


"Nona sangat cantik sekali, dan berperilaku sopan. Nona sangat cocok untuk tuan Alex.., minuman apakah yang perlu kami siapkan non.." dengan ramah, perempuan itu bertanya pada Stevie.


"Jika ada coklat panas saja.. karena aku sedikit lelah dan mengantuk, aku ingin menjadi sedikit tenang," dengan tegas Stevie menjawab pertanyaan dua perempuan itu.


"Siap nona.. kami akan segera mempersiapkan minuman untuk nona dan tuan Alex.." kedua perempuan itu segera meninggalkan Stevie.


Alexander segera duduk di sofa sambil menyelonjorkan kakinya, dan ketika melihat Stevie yang masih berdiri kebingungan, anak muda itu malah tersenyum melihatnya.


"Stevie.. duduklah dulu. Kita minum dan isi perut kita sebentar, setelah itu silakan mau pilih. Mandi untuk bersihkan badanmu baru tidur. Atau sebaliknya tidur dulu.., baru kemudian setelah bangun, kamu bersihkan badanmu. Atau kamu ada usulan lain..?"


"Stevie ingin mandi dulu sekarang kak, dari kemarin Stevie mandinya masih siang. Sorenya malas, karena di desa mama Dhini, mandi sore hari airnya terasa dingin," dengan muka malu, Stevie menjelaskan apa yang dilakukannya kemarin.


"Masuklah ke kamar yang paling pojok, itu kamarku. Atau kalau mau gunakan kamar tamu, ada di sampingnya. bersihkan dulu tubuhmu, baru nanti kembali lagi kesini, kita isi perut dulu dengan minuman dan beberapa makanan ringan." Alexander menunjukkan kamar untuk Stevie membersihkan diri,


"Baik kak.., Stevie di kamar untuk tamu saja. Nanti jika kak ALex akan istirahat, keberadaan Stevie malah mengganggu istirahat kakak." sahut Stevie yang kemudian mengambil tas back pack dan membawanya masuk ke kamar tamu.


Tidak lama kemudian, dari arah pantry terlihat dua perempuan yang tadi menyambut kedatangan mereka, membawa satu cangkir berisi kopi hitam panas, dan satu gelas berisi coklat panas. Satu nampan lagi berisi potongan sandwich, dan makanan tradisional berupa singkong goreng,


"Bawa di ruang sofa yang ada di balkon luar...!" dengan tegas, Alexander memerintah dua perempuan itu.


********


Beberapa Saat kemudian


Setelah hampir dua puluh menit di dalam kamar mandi, Stevie sudah merasa kembali segar. bau harum menguar dari rambut yang sudah dikeringkan dengan menggunakan hair dryer di dalam kamar mandi. Perlahan gadis itu kembali melangkahkan kaki, dan melihat queen bed yang sangat rapi, muncul keinginan dari Stevie untuk berbaring sejenak di atasnya, dan lupa akan janjinya dengan Alexander. Gadis itu langsung mencoba empuknya queen bed, dan langsung merebahkan tubuh di atasnya. Tidak lama kemudian, mata cantik Stevie sudah tertidur kembali.


Alexander menunggu beberapa saat, namun gadis yang ditunggunya tidak segera keluar dari dalam kamar tamu. Meskipun kamar itu dikunci dari dalam oleh Stevie, tetapi kamar tidur itu memang dibuat connecting menyatu dengan kamar tidur utama, yang merupakan kamar untuk beristirahat Alexander jika laki-laki itu pulang ke rumah ini. Dengan mudah, melalui kamar tidurnya, Alexander bisa masuk ke kamar tamu dan mengetahui apa yang dilakukan oleh Stevie.


"Hmm.. rupanya Stevie bidadari cantikku sudah tertidur, aku menunggunya sejak tadi tidak ada jawaban." Alexander bergumam sambil geleng-geleng kepala.


Perlahan Alexander menundukkan wajahnya, kemudian mengangkat tubuh Stevie, dan memindahkan ke king size bed yang ada di dalam kamarnya. Setelah itu, anak muda itu menghabiskan kopi yang dibuatkan oleh ART, dan beberapa potong kue juga dimasukkan ke dalam perutnya.


"Huah... " beberapa kali Alexander menguap, karena tadi malam hampir sedikitpun laki-laki itu tidak tidur karena menyiapkan pengawalan Stevie, dan melakukan penjemputan gadis itu sampai saat ini.


"Aku akan beritahu tuan muda jika Stevie sudah aman bersamaku, dan sekalian memberi tahu jika aku tidak datang ke perusahaan hari ini." Alexander kembali masuk ke dalam kamar, kemudian mengambil ponsel dan mulai menuliskan beberapa kalimat chat dan mengirimkannya pada Andreas Jonathan.


"Tuan muda.. Stevie sudah aman bersamaku. Saat ini kami berada di rumahku yang ada di Bogor, dan Stevie masih istirahat. Selain itu.. ijin hari ini, Alexander tidak datang ke perusahaan, mungkin sore akan datang ke Pant House membawa Stevie juga. Terima kasih."


Setelah menuliskan beberapa pesan, Alexander kembali meletakkan ponsel, dan memasang mode getar karena dia akan istirahat beberapa waktu ke depan. Melihat Stevie yang tampak nyenyak terlelap, Alexander tersenyum dan menatap gadis itu dengan penuh minat.


"Stevie.. benar-benar terlihat cantik, jika gadis itu tenang seperti ini.." perlahan tangan ALexander mengusap wajah gadis itu, sambil berbicara sendiri.


Perlahan laki-laki itu mengangkat kedua kakinya, kemudian mengikuti Stevie merebahkan tubuhnya di samping gadis itu. Sambil terus melihat ke wajah cantik Stevie, perlahan Alexander mendekatkan wajahnya ke arah wajah Stevie kemudian memberikan ciuman di kening dan bibir gadis itu.


"Mmmm... sshh.." Stevie menggeliat kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Alexander.


"Ternyata meskipun tertidur, Stevie bisa juga berjaga-jaga seperti itu.." ucap Alexander spontan.


Beberapa saat Alexander melakukan pengamatan pada gerakan yang dilakukan Stevie saat tertidur, dan laki-laki itu kemudian memeluk tubuh gadis itu dari belakang. Perlahan mata Alexander juga ikut terpejam, dan tidak lama kemudian dua anak muda itu sudah berpelukan dalam tidurnya. Tidak ada lagi yang berani mengganggu keduanya,


*********