CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 236 Please Forgive Me



Kamar Stevie dan Alexander


Alexander mendatangi istrinya yang masih mendiamkannya sejak tadi, tanpa laki-laki itu tahu dimana letak kesalahannya. Begitu mereka sampai kembali di mansion, Stevie langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci kamar itu dari dalam, Dengan bantuan penjaga mansion, akhirnya Alexander baru bisa masuk ke dalam kamarnya untuk bertemu dengan istrinya. Namun bukannya sambutan bahagia, atau peluk cium karena sudah berhasil diselamatkan dan dibawa kembali ke mansion tersebut, namun Stevie masih tetap mengacuhkannya,


"Sayang... bicaralah, apa yang membuatmu kesal padaku. Jika memang aku ada salah, atau kata-kata yang tidak aku sadar telah menyakiti hatimu, maafkan kesalahanku honey..., please..." Alexander mencoba mengajak istrinya berbicara. Tetapi gadis muda itu tetap tidak bergeming, tetap diam dan sama sekali tidak melihat kepadanya. Padahal saat ini, Alexander sudah berada sangat dekat dengannya.


Alexander menjadi bingung, dan merasa kehabisan cara untuk membuat istrinya berbicara. Laki-laki muda itu kemudian nekat memeluk istrinya, tetapi kedua tangan Stevie mendorong laki-laki itu untuk tidak mendekat kepadanya. Hal itu membuat laki-laki muda itu merasa kaget, kemudian menggunakan kekuatannya, Alexander mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke atas ranjang.


"Stevie... bicaralah sayang, jangan perlakukan aku seperti ini. Karena kata-kataku yang mungkin menyakiti hatimu, ataupun ada hal yang sudah tidak memungkinkan ada maaf untukku, yakinlah sayang. Semua itu aku lakukan, karena rasa sayang, rasa cintaku kepadamu. Aku tidak mau kehilanganmu sayang, aku tidak mau kamu tinggalkan.." tanpa sadar, terlolos keluar air mata dari sudut mata ALexander.


Hal itu membuat Stevie kaget, merasa tidak percaya dengan suaminya. Selama ini, yang dikenalnya suaminya itu hampir sama dengan kakak kandungnya, selalu memiliki temperamen dan sikap yang keras. Tetapi kali ini, demi untuk mendapatkan permohonan maaf darinya, suaminya sampai meneteskan air mata. Stevie menatap mata suaminya itu, dan keduanya kembali bertatapan. Tidak diduga, Alexander menurunkan wajahnya, dan tidak lama kemudian laki-laki itu sudah menangkap bibir Stevie, keduanya berciuman sangar dalam. Seakan mereka baru saja menemukan sumber mata air, setelah merasa kekeringan dan kehausan untuk beberapa saat.


"Maukan sayang, memaafkanku... Apapun akan aku lakukan, untuk bisa mendapatkan maaf darimu sayang.." beberapa saat kemudian, Alexander melepaskan ciumannya, dan kembali bertanya pada istrinya.


"Hmm... tapi Stevie tidak mau diperlakukan kasar lagi, dan dilecehkan dengan kata-kata. Selama ini Stevie selalu menjaga diri dalam pergaulan, meskipun banyak teman laki-laki yang mendekat, dan menjadi temanku, tetapi Stevie selalu menjaga sikap. Kata-kata kak Alex terlalu menyakitkan untuk didengar di telinga Stevie kak..." tiba-tiba meledaklah tangis Stevie, setelah gadis muda itu menceritakan apa yang membuatnya sakit hati.


"Maafkan suamimu ini sayang, please forgive me...!! Hanya bergaul dengan kakakmu Andre, membuatku mati rasa, dan tidak pernah bergaul dekat dengan perempuan. Aku sama sekali tidak menyangka, jika kata-kata yang keluar dari mulut ini, telah sangat menyakiti istriku. Maafkan aku sayang.." Alexander kembali meminta maaf. Laki-laki muda itu mengusap air mata Stevie dengan menggunakan jari-jari tangannya.


Stevie tersenyum, dan menganggukkan kepalanya perlahan. Kedua pasang mata itu kembali bertatapan dalam, dan Alexander sudah tidak dapat lagi menahan gairah yang datang kepadanya. Laki-laki itu dengan lembut, memperlakukan istrinya seperti boneka pualam, Dengan sangat hati-hati, laki-laki muda itu memberikan ciuman di setiap jengkal tubuh istrinya. Perlahan sambil tetap menatap mata istrinya, tangan Alexander melepaskan kancing baju di pakaian keduanya. Di tengah malam menjelang pagi itu, sepasang manusia saling bergelut melepaskan hasrat dalam hati mereka.


*********


Apartemen Zurich


"Kak Arman..., kata Arron tadi kalian mengejar salah satu mobil dari keluarga Andreas Jonathan, mantan anak tiriku..?" Sandrina segera mendatangi kakak sepupunya itu, kemudian bertanya padanya.


Armansyah menoleh, dan melihat adik sepupunya itu berjalan mendatanginya. Terlihat suami barunya, Thanom mendatangi juga di belakang Sandrina, Sedangkan Arron tidak terlihat, mungkin sedang bergulat dengan Jennifer di dalam kamar.


"Hmm... tapi mobil mereka lebih bagus dan lebih cepat. Aku dan Arron dengan terpaksa menghentikan pengejaran, karena mereka berdua menyelamatkan diri dan masuk ke police office." dengan santai, laki-laki tua itu menjawab.


"No problem.., yang penting sudah pasti, jika keluarga Wijaya ada di kota Inter Laken. Kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat saja, untuk merangsek menangkap mereka satu persatu. Aku akan kembali bisa mendapatkan hakku, sebagian dari asset Wijaya. By the way.. siapa yang berada dalam mobil itu.., apakah kalian berdua melihat wajahnya.." ternyata Sandrina tidak berhenti sampai disitu. Perempuan paruh baya itu masih mengejar penjelasan dari kakak sepupunya.


Tetapi Armansyah juga bukan laki-laki yang bodoh, bagaimanapun masih ada sayang di hati laki-laki itu pada putri tirinya, meskipun tidak pernah berani untuk mengatakannya. Armansyah mengambil nafas panjang beberapa saat, kemudian..


"hari sudah malam Sandrina.., kamu juga tahu bukan bagaimana kemampuan mataku tanpa kaca mata di waktu malam. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah mereka, yang aku tahu hanya ada dua orang di dalam mobil itu, dengan satu laki-laki mungkin sopir, dan satunya lagi adalah perempuan.." akhirnya Armansyah asal menjawab. Laki-laki tua itu ternyata masih melindungi putrinya Stevie.


Beberapa saat Sandrina terdiam, tapi perempuan paruh baya itu juga bukan perempuan bodoh. Melihat kakak sepupunya sejak tadi mengalihkan pandangan, tidak mau beradu pandang dengannya, muncul kecurigaan perempuan itu pada Armansyah.


"Okay.. okay.., masih banyak waktu bagi kita untuk bertindak. Tetapi untuk sementara waktu, kita harus berdiam diri, kita hentikan dulu pengejaran dan pencarian agar keluarga itu tidak semakin curiga. Mengendara sendiri malam-malam hanya ditemani dengan sopir menuju Luzern, sepertinya tujuan mereka adalah ingin menuju ke bandara yang ada di kota ini Zurich... Mmm... sangat mudah untuk mencari tahu, siapa penumpang itu..." sambil tersenyum penuh arti, Sandrina berbicara sendiri.


Perempuan paruh baya itu kemudian membalikkan badannya, dan Thanom memegang bahunya mengikuti istrinya itu. Armansyah seperti tidak mempedulikan apa yang akanĀ  dilakukan oleh kedua orang itu. Armansyah kemudian membaringkan tubuh di atas sofa panjang yang ada di dalam ruangan tersebut. Memejamkan mata, kemudian tidur merupakan pilihan tepat untuk memperbaharui pikirannya.


***********