
Keesokan Paginya
Cassandra yang sudah mandi dan bersih, dan tengah memberikan ASI pada putra keduanya mengerenyitkan dahi, ketika mendengar ada sedikit suara berisik dari luar kamarnya. Mau meminta tolong pada suaminya Andreas Jonathan melihatkan apa yang terjadi, laki-laki muda itu tengah berada di kamar transit. Setelah membantu istrinya membersihkan diri, Andreas Jonathan segera ke kamar transit untuk membersihkan diri pula. Tidak ada pilihan lagi bagi Cassandra saat ini, selain menunggu suaminya datang, dan mengakhiri pemberian ASI pada putranya.
"Tok.. tok.. tok.., mommy.." tiba-tiba terdengar suara ketukan, dan pintu kamar Cassandra segera didorong dari luar kamar. Terlihat Altezza menghambur ke dalam ruangan, dan memanggil mommy nya..
"Putra mommy sayang, kemarilah nak.. mommy miss you kid..." Cassandra menanggapi panggilan putranya. Di belakang Altezza ada kedua mertua, dan kedua saudara iparnya. Terlihat maid mengikuti mereka dari belakang, dengan membawa banyak perlengkapan.
Altezz segera mendekat ke arah mommy nya, dan tatapan mata anak kecil itu seperti tercekat, melihat ada bayi dalam gendongan mommy nya. Cassandra tersenyum dan mengamati perubahan ekspresi di wajah putra pertamanya itu.
"Dekatkan tanganmu ke wajah adik.. kak... Bayi ini adalah putra mommy dan papa, yang merupakan adik dari kak Altezza.." dengan sabar Cassandra menjelaskan bayi dalam pangkuannya itu pada Altezza.
Altezza mendekat ke arah mommy nya, dan Cassandra memegang tangan anak kecil itu kemudian meletakkan telapak tangan Altezza di pipi putra keduanya. Altezza merasa ada miracle di depannya, anak kecil itu mengusap lembut wajah, kemudian tangannya mengukir hidung mancung dari bayi kecil itu. Altezza merasa ada sesuatu yang ajaib dalam pandangannya, dan anak kecil menatap wajah mungil dengan mata terpejam di depannya.
"Adik Altezz lembut mommm... kenapa memejamkan mata, kan Altezz tidak bisa mengajaknya bermain. Padahal Altezz ingin mengajari adik untuk main bola, tapi adik jadinya tidur terus." semua yang ada di ruangan itu tersenyum, melihat kelucuan dan kepolosan Altezza.
"Altezz bergeser dulu ya... oma ingin melihat adik juga," tiba-tiba Nyonya Sheilla meminta cucunya untuk bergeser.
Altezza melihat sebentar ke arah omanya, tapi kemudian bergeser untuk memberikan tempat pada perempuan paruh baya itu. Akhirnya nyonya Sheilla dan Stevie segera mendekat ke arah Cassandra. Alexander dan tuan Wijaya duduk di sofa, dan memanggil Altezza dengan lambaian tangannya. Anak kecil itu tanpa suara, mendatangi opa dan Uncle nya.
"Selamat atas kelahiran putra dan juga cucuku Sandra.. Kamu memang perempuan yang hebat, bisa melahirkan dua putra dengan normal semuanya.." dengan tulus, Nyonya Sheilla berbicara pada putri menantunya. Stevie ikut memandang ke wajah kakak iparnya.
"Terima kasih mommy... setiap perempuan dalam keadaan normal, pasti semua akan bisa menjalani seperti apa yang Sandra lakukan mam.. Syukur alhamdulillah, Cassandra mendapatkan kenikmatan untuk melahirkan secara normal. Sandra yakin.. Stevie pun juga akan bisa untuk menjalaninya.." melihat ada adik iparnya yang kini juga sedang dalam keadaan hamil, Cassandra pun juga mendoakannya.
"Iya kak Sandra.. terima kasih, semoga Stevie nanti juga bisa mengikuti jejak kak Sandra.." ucap Stevie malu-malu. Nyonya Sheilla tersenyum, dan mengusap bahu Stevie.
"By the way... berapa lama proses melahirkannya Sandra.. kenapa tidak kasih tahu pada kita, jika akan ke rumah sakit. Sudah lahir bayinya, Andreas baru memintaku untuk melihat Altezz cucuku.." nyonya Sheilla mengajukan pertanyaan.
***********
Setelah tiga hari, Cassandra memaksa suaminya untuk segera membawanya pulang. Padahal mereka sudah memilih paket melahirkan selama lima hari, tapi karena merasa tidak nyaman tinggal di rumah sakit tersebut, Cassandra terus mendesak suaminya untuk pulang ke rumah. Di mansion mereka, Cassandra merasa lebih bebas dan lebih leluasa untuk melakukan apapun. Karena besarnya rasa sayang dan cinta pada istri dan putra-putranya, akhirnya Andreas Jonathan mengabulkan permintaan perempuan muda itu.
"Biar aku saja yang memangkunya honey..., karena aku lihat honey masih kelelahan. Sekalian aku lebih dikenal oleh putraku nantinya.." Andreas Jonathan kemudian mengambil bayi mungil dari pangkuan istrinya. Sejak tadi mereka keluar dari rumah sakit, maid yang akan membantu melayani Cassandra, ditolak ketika ingin membawa bayi putra kedua pasangan suami istri itu.
"Hati-hati kak... Sandra ijin untuk memejamkan mata sebentar saja ya. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja mata Sandra mengantuk.." setelah memindahkan bayi mereka di pangkuan suaminya, Cassandra segera menyandarkan punggung pada sandaran kursi mobil.
"Atau direndahkan kursinya honey, biar lebih enak untuk tiduran.." melihat istrinya yang tampak masih lelah, dengan khawatir Andreas Jonathan mengarahkan Cassandra.
"Tidak perlu kak, begini saja sudah nyaman kok.." sahut Cassandra, dan perempuan muda itu langsung memejamkan matanya. Melihatnya dengan muda istrinya memejamkan mata, Andreas Jonathan kembali memfokuskan tatapan pada putra keduanya yang saat ini berada di pangkuannya.
"Hemm... seperti susah untuk aku percaya, aku sudah sampai pada tahapan ini. Hidup bahagia dengan istri, dan kedua putraku yang sangat membahagiakan ini, sudah cukup bagiku. Tidak ada lagi yang bisa menyaingi kebahagiannku ini.." Andreas Jonathan bergumam sambil menatap putra keduanya.
Sambil memegang putra keduanya di pangkuan, laki-laki muda itu ikut bersandar di samping Cassandra. Setelah memastikan putranya akan safety meskipun papanya tertidur, laki-laki muda itu kemudian ikut memejamkan matanya. Dari depan, sopir dan maid yang mendampingi mereka saling memandangkan mata. Tetapi mereka tidak berani untuk mengeluarkan suara, karena khawatir akan mengganggu tuan muda dan nona muda mereka terbangun karena merasa bising dengan suara mereka.
Tiba-tiba Andreas Jonathan membuka matanya, laki-laki muda itu teringat jika belum menyiapkan nama untuk bayi yang ada dalam pangkuannya.
"Mmm... aku ternyata lupa belum ada nama untuk adiknya Altezz. Tidak mungkin jika sampai kita adakan syukuran, dan para tamu hadir aku belum memberikan nama untuknya. Nama itu memiliki makna, aku harus benar-benar memikirkan nama yang tepat untuk anak ini." sambil bergumam, Andreas Jonathan memberikan ciuman pada kedua pipi bayinya itu. Tampak ada pergerakan dalam anggota badan bayi tersebut, dengan segera laki-laki muda itu menepuk-nepuk pelan bagian tubuh dari bayi tersebut. Tidak lama kemudian, bayi dalam pangkuan Andreas Jonathan itu kembali tenang dan tertidur.
Melihat anaknya tertidur, Andreas Jonathan kembali memejamkan matanya, jadi di kursi tengah itu terlihat satu keluarga tidur dengan kompak, dan membuat senyum bagi yang melihat kedamaian itu.
*************