
Nyonya Sheilla terlihat melamun di ruang tengah, dengan LED TV sedang menyala. Tiba-tiba saja perempuan paruh baya itu merasa kesepian, karena putrinya Stevie sudah dibawa oleh menantunya Alexander untuk berbulan madu. Sedangkan dia tinggal di bagian Pant House yang ditempatinya bertiga, dengan tuan Wijaya. Praktis, dengan perginya Stevie, perempuan paruh baya itu saat ini hanya menempati bagian Pant House bersama dengan mantan suaminya. Hal itulah yang membuat mama Andreas Jonathan itu menjadi cemas dan ada keraguan apakah akan pergi dari tempat itu, ataukah tetap bertahan,.
"Sheilla.. apa yang kamu pikirkan sayang.. Putri kita sudah menikah dan harus patuh serta mengikut apa kata suaminya. Demikian pula dengan putra sulung kita Andreas Jonathan, dia juga sudah memiliki keluarga sendiri. Tinggal kita berdua Sheilla, para orang tua yang sudah mulai ditinggalkan oleh anak-anak kita, dan tidak boleh banyak mengganggu kehidupan mereka lagi." tiba-tiba terdengar suara Wijaya di belakangnya.
Perempuan paruh baya itu membalikkan pandangannya, dan melihat keberadaan mantan suaminya yang tampak melihatnya sambil tersenyum, Perlahan tuan Wijaya duduk di sofa yang ada di samping nyonya Sheilla, dan perempuan itu hanya mendiamkannya sebentar. beberapa saat keduanya duduk dalam diam, tidak ada pembicaraan apapun. Mereka seperti terbenam dalam pikiran mereka masing-masing.
"Bagaimana rencanamu Sheilla, lusa aku sudah akan berangkat ke Canada. Aku sudah beberapa kali berkata, jika aku akan membawamu bersama denganku. Asset-asset milikmu di negara itu, sangat banyak Sheilla, kamu dapat memanfaatkannya untuk kehidupanmu, meskipun kamu sudah tidak ada rasa lagi denganku., Ambillah hakmu Sheilla, tanpa ada pernikahan kembalipun di antara kita, aku akan tetap memberikan semua hak-hakmu.." seperti ada nada keputus asaan dalam suara laki-laki tua itu.
Nyonya Sheilla kaget dengan kata-kata yang diucapkan oleh mantan suaminya itu, seperti sudah tidak ada harapan dan upaya untuk kembali memintanya. Dan hal itu malah seakan menyakiti hati perempuan itu. Sesaat Nyonya Sheilla merasa sudah ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya, dan perempuan itu merasa kesepian.
"Sheilla... apa yang terjadi denganmu..? Kenapa kamu malah menjadi diam, apakah kamu tidak suka dengan kata-kataku.." melihat perempuan yang duduk di sampingnya itu diam, tuan Wijaya dengan perasaan khawatir bertanya pada nyonya Sheilla. Laki-laki itu menggeser tempat duduknya lebih mendekati Sheilla.
"Tidak apa-apa Wijaya, aku hanya butuh waktu untuk berpikir. Aku sudah sendiri saat ini, menantu dan cucuku dibawa pergi oleh putraku, dan Stevie juga sudah dibawa oleh suaminya Alexander. Betul-betul saat ini aku baru merasakan kehilangan semuanya, tidak tahu apa yang harus aku putuskan Wijaya. Jika lusa kamu akan berangkat kembali ke Canada, dan aku belum siap, tinggalkanlah aku sendiri di Pant House ini saja. Aku akan menunggu sampai menantuku kembali ke negara ini.." dengan hati sesak, akhirnya Sheilla seperti mengutarakan rasa putus asanya.
Melihat hal itu, hati tuan Wijaya seperti tertotok. Laki-laki itu mendekat dan memegang bahu Sheilla kemudian memeluk perempuan itu. Sheilla yang merasa kehilangan semuanya merasa terpuruk, dan menerima pelukan yang ditawarkan oleh laki-laki itu. beberapa saat kemudian..
"Sekali lagi aku akan mengajakmu untuk pergi ke Canada Sheilla, karena aku tidak akan pernah memiliki rasa tega untuk meninggalkanmu sendiri di kota Jakarta. Kota ini keras Sheilla, dan kita juga tidak tahu kapan anak-anak kita akan kembali ke tempat ini. Apakah kita akan tega, memaksakan diri untuk mengikuti salah satu dari putra kita, padahal kita tahu jika mereka sudah memiliki keluarga.." sambil mengusap belakang kepala mantan istrinya, tuan Wijaya berbicara pelan.
Dan perempuan paruh baya itu, seperti menemukan tempat untuk bernaung dan menjanjikan sebuah perlindungan untuknya. Beberapa saat pelukan dua orang paruh baya itu terjadi, dan malam mulai semakin larut..
*********
Stevie terlihat malu ketika melihat laki-laki yang telah menikahinya itu menatapnya tanpa berkedip, padahal sejak tadi dia masih mengenakan pakaian lengkap. Untuk berganti pakaian, menjadi baju tidur saja ada rasa malu yang dirasakan oleh Stevie, dan Alexander seperti memahami hal itu. Hasrat untuk menundukkan dan menguasai gadis di depannya itu yang sering muncul ketika belum menikahi Stevie, saat ini Alexander malah merasakan ada rasa jengah dan malu yang menguasainya. Beberapa saat kedua anak muda itu masih duduk di sisi ranjang, yang ada di kamar hotel yang sudah disulap menjadi tempat bulan madu itu.
"Stevie.. apakah kamu menyesal sudah menjalani pernikahan denganku sayang.. Saat ini kita sudah menjadi pasangan suami istri itu, dan diwajibkan kita untuk melanjutkan kesempurnaan pernikahan ini.." dengan suara lembut, Alexander bertanya pada perempuan yang baru tadi pagi menikah dengannya itu.
Stevie mengangkat wajahnya, dan terlihat ada rasa malu dalam tatapan gadis itu, ketika memberanikan diri beradu pandang dengan laki-laki yang sudah menikahinya itu. Stevie sendiri juga merasa heran, keberaniannya selama ini seakan musnah ketika berada di depan Alexander yang sudah menikah dengannya, Hanya rasa kepatuhan dan taat pada laki-laki itu saat ini.
"Apa jawabanmu sayang, untuk pertanyaanku barusan. Apakah kamu menyesal..?" Alexander mengulang lagi pertanyaannya.
"Tidak kak.., Stevie senang menjalaninya.." dengan suara pelan sambil menggelengkan kepala, Stevie menjawab pertanyaan dari suaminya,
Terlihat ada senyum cerah di bibir laki-laki itu, dan Alexander semakin mendekat kemudian memeluk istrinya sambil memberikan ciuman di kepala Stevie. Beberapa saat pasangan suami istri itu dalam posisi seperti itu, perlahan Alexander memegang dahu Stevie kemudian mengangkatnya ke atas. Kedua pasang mata itu saling berpandangan, kemudian laki-laki itu memiringkan wajahnya dan tidak lama kemudian dengan lembut bibir Alexander sudah ******* bibir Stevie. Laki-laki itu melakukannya dengan pelan-pelan, dan Stevie menikmati perlakuan mesra itu dari suaminya,
"Mmmm... sssshh.. kak Alex..." beberapa saat ketika ciuman dan cumbuan Alexander, perlahan turun ke dagu, leher dan belakang telinga Stevie, tanpa sadar Stevie mendesis. Pikiran gadis muda itu seperti sedang terbang di awang-awang, dan tanpa sadar malah melakukan gerakan yang memudahkan suaminya untuk terus mendekat kepadanya.
Alexander terus dengan lembut memperlakukan istrinya, seperti tidak mau menimbulkan kesan buruk telah memaksa gadis yang dicintainya itu. Perlahan keduanya saling memberi, saling mengisi dalam kebersamaan. Suasana dingin di dalam kamar hotel itu sudah berubah menjadi hangat, dan kedua tubuh itu saling menyatu, saling memadukan kenikmatan dengan saling memberi dan menikmati.
"Kita akan melakukannya sayang, apakah kamu mengijinkanku.." perlahan Alexander bertanya pada istrinya, dan Stevie tersenyum malu. Gadis itu hanya perlahan menganggukkan kepalanya ke bawah, tidak mampu membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan dari laki-laki itu.
*********