
Tuan Wijaya masih melamun, memikirkan dengan cara apa lagi akan menundukkan hati mantan istrinya. Andreas Jonathan tidak bisa ikut memberikan saran, karena ikut memahami rasa sakit yang dialami mamanya kala itu. Laki-laki muda itu juga tidak tahu, apakah papanya kala itu juga memiliki ketertarikan terhadap Sandrina, sehingga dengan mudah mengusir mamanya. Untuk turut campur memaksanya kembali pada papanya, jika belum tahu masalah sebenarnya juga ada kekhawatiran akan melukai hati mamanya lagi.
“Oh iya pa.., Andre dalam waktu dekat akan mengajak Sandra dan Altezz untuk pindah sementara ke Switzerland.. Perasaan Andre, negara ini untuk saat ini tidak aman untuk istri Andre, juga tidak bagus untuk tumbuh kembang Altezza.” Andreas Jonathan mencoba memberi tahukan rencana kepergiannya pada papanya,
Tuan Wijaya terdiam, kemudian laki-laki itu melihat ke arah putranya itu. Ada keseriusan dalam kata-kata yang diucapkannya. Untuk sesaat, ada keheningan antara dua laki-laki itu, pandangan mereka menembus keramaian restaurant itu.
“Apakah kamu tidak berencana untuk mengajak papa sekalian Andre, dan bagaimana juga dengan istrimu.. apakah Cassandra sudah setuju untuk pergi denganmu. Ada mama Sheilla, juga ada Stevie selain papa di tempat ini..” tiba-tiba tuan Wijaya berkata lirih.
"Mereka berdua tanggung jawab papa, terutama Stevie. Untuk mama, sebenarnya menjadi tanggung jawab Andre pa.. Tapi Andre ingin, ada langkah maju dalam hubungan mama dan papa Kembali. Andre pikir..., kali ini saatnya papa berjuang untuk mendapatkan hati mama kembali. Untuk Stevie..jika gadis itu mau, Alexander sudah memintanya untuk dinikahi.”
„Hmm.. berat sepertinya Andre.. tapi papa akan mencobanya. Papa akan berjuang bagaimana mendapatkan hati mamamu Kembali. Doakan papa.. Andre..” akhirnya dengan nada lirih, tuan Wijaya menyanggupi untuk melakukan pendekatan kembali kepada mantan istrinya.
Andreas Jonathan melanjutkan sarapan paginya, dan tiba-tiba ponsel laki-laki itu berdering. Setelah melihat siapa yang melakukan panggilan, Andreas Jonathan segera menekan panggilan diterima.
“Ada apa Alex.., apakah ada hal penting untuk kita bicarakan..” dengan nada tegas, Andreas Jonathan menjawab panggilan itu.
“Dua tawanan kita mengalami masalah tuan muda.. Yang satu mati bunuh diri, dan yang satunya berhasil melarikan diri Ketika akan kita selamatkan dan kita bawa ke rumah sakit. Kami menunggu petunjuk, hal apa yang harus kami lakukan sesudahnya.”
Andreas Jonathan terhenyak mendengar berita itu, padahal dua tawanan itu merupakan kunci utama untuk dapat menemukan tempat persembunyian Sandrina dan Armansyah. Ternyata keduanya memilih untuk mengakhiri hidupnya..
"Dimana posisi kalian sekarang.. aku akan segera meluncur ke TKP..”
“Kita sedang musnahkan jasad tawanan itu tuan muda.., kita hilangkan jejaknya agar tidak ada yang akan memberikan tuntutan pada kita. Sebentar lagi, kita akan turun ke bawah. Jika tuan muda hendak berbincang, bisa gunakan rumah saya di Bogor tuan muda, kebetulan kita tidak jauh dari rumah tersebut.” Alexander segera mengirimkan titik lokasinya.
Andreas Jonathan segera beranjak dari tempat duduknya, dan Tuan Wijaya melihatnya dengan perasaan ingin tahu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Andreas Jonathan masih sempat menyeruput kopi di depannya.
“Andre.. mau kemana kamu, sepertinya kamu sedang tergesa-gesa..?” merasa penasaran, tuan Wijaya bertanya pada Andreas Jonathan.
“Ada sesuatu yang harus Andre urus pa.., nanti jika semuanya sudah teratasi, Andre akan cerita dengan papa..” anak mud aitu segera bergegas meninggalkan papanya.
Tuan Wijaya hanya geleng-geleng kepala, melihat putranya yang dengan cepat sudah berjalan meninggalkannya.
*********
Sandrina sedang menerima tamu, seorang laki-laki berkebangsaan Thailand yang hanya memiliki mata satu. Laki-laki itu sengaja datang ke Indonesia, setelah mendapat kabar dari Armansyah untuk bertemu dengan mereka. Terlihat ada keengganan pada diri Sandrina menerima laki-laki itu, tetapi sepertinya ada misi pada perempuan itu, sehingga mau menemui laki-laki dari Thailand itu,
“Bagaimana tawaranku Sandrina.., apakah kamu mau menerima lamaranku. Sudah lama aku menunggumu, sejak dirimu masih muda..” laki-laki itu dengan pandangan tertarik dan penuh minat, sejak tadi melihati tubuh Sandrina dari atas sampai ke bawah.
Perempuan itu merasa risih, dan berusaha menutup kulit tubuhnya yang terbuka. Namun untuk pembalasan dendamnya, sepertinya Sandrina berusaha keras untuk menghilangkan perasaan jijiknya pada laki-laki itu. Laki-laki yang bernama Thanom Nopadon, yang dipanggil dengan sebutan Thanom itu terus memandang ke arah Sandrina, dan sesekali melirik ke arah Jennifer yang duduk di sudut ruangan,
„Tunjukkan dulu keseriusanmu padaku Thanom.. ada harga mahal yang harus kamu bayarkan, jika ingin memaksaku untuk bersamamu..” dengan kata-kata judes, Nyonya Sandrina menanggapi kata-kata Thanom Nopadon.
„Ha.. ha.. ha..., sudah terjatuh lemah seperti ini, kamu masih bisa bertingkah dan bersikap jual mahal di depanku Sandrina..”
„Jaga bicaramu Thanom.. aku tidak mau laki-laki yang melecehkan seorang perempuan. Bersikaplah terhormat seperti laki-laki pada umumnya.. jangan kamu berpikir, saat ini aku seorang perempuan yang sudah jatuh miskin. Jangan salah Thanom.. assetku di negara Canada, masih sangat banyak tinggal aku ke negara itu, dan mencairkannya..” dengan nada sombong, nyonya Sandrina membantah laki-laki itu.
“Aku tidak merendahkanmu Sandrina,.., aku hanya mengajarimu bagaimana harus bersikap. Kamu harus bisa menerima keadaanmu saat ini, sudah jatuh tanpa kekuatan lagi. Menikahlah denganku, maka akan aku bantu untuk mewujudkan keinginanmu.. “ tiba-tiba laki-laki itu terlihat serius.
Thanom Nopadon merupakan teman Armansyah di saat laki-laki itu muda. Mereka tumbuh dan besar bersama, dan sudah sejak lama Thanom Nopadon menginginkan Sandrina. Namun karena kala itu melihat Wijaya, lebih menjanjikan maka Armansyah membantu saudaranya itu untuk mendapatkan Wijaya. Kali ini, Ketika mereka sudah tidak memiliki kekuatan yang bisa dibanggakan, Armansyah Kembali menghubungi Thanom Nopadon, dengan menawarkan Kembali Sandrina sebagai imbalan.
Nyonya Sandrina terdiam, berusaha memikirkan laki-laki yang ada di depannya itu. Ada keengganan untuk bersama dengan Thanom Nopadon, namun kali ini sudah tidak ada pilihan lain baginya.
“Aku harus menggunakan laki-laki bodoh ini sebagai jalan untuk balas dendamku. Sheilla harus hancur, dan tidak boleh kembali Bersama dengan Wijaya. Semua sudah terlanjur basah, aku harus menurunkan egoku, dan menerima Thanom Nopadon sebagai pasangan hidupku..” akhirnya nyonya Sandrina menekan emosi di dalam hatinya.
“baiklah Thanom.. aku akan mau menjadi pendamping hidupmu. Tapi.. ingat, kamu harus membantuku balas dendam. Kita hilangkan Sheilla dari muka bumi ini, dan kita rebut hak gono gini dari Wijaya..: akhirnya beberapa saat kemudian, Sandrina mengajak laki-laki itu bicara.
“Seperti yang kamu inginkan bidadariku.. secepatnya kita akan atur pernikahan kita. Jangan khawatir dengan kekuatanku di Thailand, perempuan itu dengan mudah akan kita hancurkan.. ha.., ha.., ha.. akhirnya tercapai juga keinginanku untuk memilikimu Sandrina..” Thanom Nopadon tertawa keras. Jennifer terlihat gemetar di pojok ruangan.
*********