
Apartemen Zurich
Kepergian Armansyah dari apartemen Arron, membuat Sandrina menjadi kehilangan akal. Tampak Thanom berkali-kali mengajaknya untuk bicara, tentang teknis untuk balas dendan pada keluarga mantan suaminya. Tetapi Sandrina berpikir, jika yang ada dalam pikiran Thanom adalah harta kekayaan yang akan diperolehnya, jika mantan suaminya Wijaya berbaik hati memberikan hak gono gininya. Hal itulah yang menjadi sumber ketakutan dari perempuan paruh baya itu, tidak ada lagi yang akan dimintai tolong olehnya.
"Tante.. beberapa hari ini kenapa tante Sandrina terlihat bermuram durja, Jenni sampai tidak berani untuk mendekat pada tante.. Apakah tante ada masalah, atau tante memikirkan kepergian Om Armansyah dari apartemen ini.." Jennifer yang ingin berbincang dengan Sandrina, memberanikan diri untuk menemui perempuan itu.
"Kecilkan suaramu Jenni.. ada Thanom dan Arrom di apartemen ini. Mereka akan bisa mendengar apa yang kita bicarakan, pelankan nada bicaramu.." merasa khawatir jika pembicaraan mereka didengar oleh paman dan keponakannya, Sandrina memberi peringatan pada Jennifer.
"Maaf tante.." sahut Jennifer singkat.
Sandrina terdiam untuk beberapa saat, dan akhirnya perempuan paruh baya itu memperhatikan situasi, ada tidak orang yang mendengarkan pembicaraan mereka.
"Jenni.. aku ragu untuk melanjutkan rencanaku dengan tidak adanya Armansyah Jenn.. Kita berada di negara ini dengan orang asing, meskipun mereka sudah menikah dengan kita. Tapi aku masih ragu dengan niat mereka padaku, apakah mereka tulus menikahi kita, ataukah hanya tergiur dengan harta gono gini yang akan aku dapatkan dari keluarga Wijaya. Aku meragukannya Jennifer.." Sandrina berbisik pada gadis muda itu.
Jennifer tertegun mendengarkan kata-kata itu, karena sebenarnya gadis muda itu juga mengalami hal yang sama. Tetapi melihat bagaimana Sandrina selalu bersikap baik dengan Thanom, apalagi ketika Armansyah sudah tidak bersama dengan mereka, Jennifer menjadi takut untuk mengatakan keraguannya pada perempuan paruh baya itu. Tetapi kali ini, Jennifer mendengarnya sendiri dari Sandrina.
"Lalu bagaimana tante.. apakah tante memiliki rencana. Untuk kembali ke Indonesia, sepertinya tidak mungkin tante.. Karena kita tidak akan memiliki dana yang cukup untuk membeli tiket penerbangan, karena selama di negara ini, kehidupan kita sepenuhnya bergantung pada Thanom dan Arron. Jennifer juga sudah kangen untuk kembali ke negara kita, meskipun dengan kesederhanaan dan mau tinggal di desa menjalani kehidupan pada umumnya." Jennifer menanggapi kata-kata dari perempuan paruh baya itu.
"Hanya ada dua cara Jenni.., itu aku sudah memikirkannya selama bermalam-malam. tetapi aku sangat ragu untuk melakukannya.." ucap Sandrina lirih, perempuan itu tampak terlihat terpukul dan menundukkan kepalanya ke bawah. Terlihat jelas ada keraguan tersirat di matanya.
"Katakan tante.. kita tidak akan tahu hasilnya, jika kita tidak mencobanya. Sepahit apapun kenyataan itu, karena kita seperti berada dalam kondisi dead lock, tidak ada yang bisa lagi untuk kita lakukan. Uangpun kita juga tidak ada, dan pelindung di negara inipun, kita juga tidak punya.." Jennifer terlihat menyemangati kembali Sandrina.
Sandrina melihat ke arah Jennifer yang penuh semangat, kemudian kembali mengarahkan pandangan ke tempat lain.
"Yang pertama, kita ke embassy.. tapi akan diketahui rencana kita oleh Arron dan Thanom akan besar. Kta ceritakan pada orang kedutaan mengenai posisi dan keadaan kita. Mereka mungkin berbaik hati untuk melakukan deportasi pada kita berdua.." Sandrina segera menyampaikan rencanannya. Perempuan paruh baya itu kembali terdiam..
"Rencana keduanya bagaimana tante.. kita harus mempertimbangkan untung dan ruginya.. Jika ternyata rencana kedua, lebih tidak beresiko, mungkin kita bisa mencobanya tante.." Jennifer terlihat sudah tidak sabar.
Jennifer speechless, dan hanya bisa menatap wajah Sandrina dengan pandangan membisu. Terbayang bagaimana dengan liciknya, mereka berpikir untuk menjauhkan Cassandra dari sisi Andreas Jonathan kala itu. Semua rasa iri dan dengki mereka, akhirnya menjadikan mereka berada dalam kondisi mengenaskan seperti ini.
***********
Malam Harinya
Thanom meminta Sandrina, Jennifer, dan Arron untuk berkumpul di ruang tengah. Laki-laki tua itu ingin membicarakan sesuatu yang penting, sehingga minta semua yang masih tinggal di apartemen untuk ikut berbincang dengannya. Hanya dengan sikap pasrah, Jennifer dan Sandrina mengikuti perintah dari laki-laki itu.
"Semua sudah berkumpul.. aku akan sampaikan kondisi dan keadaan kita saat ini di negara Swiss. Arron bisa menjelaskan lebih detail nantinya. Mengingat kita sudah ditinggalkan oleh Armansyah, dan tidak ada sumber daya untuk melacak kepergian laki-laki itu, kita harus mengambil rencana yang lain. Rencana itu akan terkait dengan agar kita bisa bertahan hidup di negara ini, dan mengembalikan semua sumber dayaku yang sudah banyak terserap untuk membiayai rencana kita.." Thanom memulai pembicaraan.
Sandrina dan Jennifer saling berpandangan, ternyata kecurigaan mereka tentang bagaimana sikap dan perlakuan dari dua laki-laki itu ketika tidak ada Armansyah, sudah mulai terlihat.
"Hmm.., benar yang dikatakan paman Thanom.. Sumber daya keuanganku sudah menipis dan hampir habis, demikian juga dengan paman Thanom. Sedangkan iming-iming harta banyak yang pernah diceritakan oleh Armansyah, tampaknya sangat jauh untuk kita peroleh. Untuk itu, hanya ada satu-satunya cara, agar kita bisa bertahan hidup di negara ini.." Arron menimpali perkataan Thanom.
"Sambil tetap mengintai dan mencari kelemahan keluarga Andreas Jonathan, kita akan mencari cara lain sementara. Kalian berdua, Jennifer dan Sandrina bisa menjual tubuh kalian untuk melayani laki-laki.. Dari situlah cara cepat untuk kita bisa mendapatkan uang.." Arron melanjutkan kalimatnya.
"Kurang ajar.., biadab sekali pikiranmu anak muda.. Apakah kamu tidak melihat, aku ini seusia dengan ibumu yang melahirkanmu ke dunia. Apakah kamu juga akan melihat ibumu, dan menjualnya ketika kalian berada dalam keadaan yang terdesak..?" mendengar kata-kata dari anak muda itu, seketika Sandrina bereaksi marah.
Tatapan perempuan paruh baya itu tampak menghujam ingin menghabisi Arron, sedangkan anak muda itu malah menatapnya dengan berani. Jennifer yang ada di samping Sandrina terlihat pucat, gadis muda itu tidak punya alasan. Dan pasti jika bersuarapun, juga tidak akan didengarkan oleh kedua laki-laki itu.
"Tidak ada yang salah Sandrina... di negara Swiss ini, atau bahkan di penjuru Eropa. Tingkat pertumbuhan kulit lebih cepat disini, dan melihatmu.. tubuhmu pasti masih akan memiliki nilai jual tinggi. Apalagi dengan kulit eksotika dari negara Asean, para orang asli negara ini akan sangat menyukainya." tidak ada kemarahan dalam diri Arron, laki-laki itu malah menatap Sandrina dan Jennifer secara bergantian,
*********