
Nyonya Sandrina bangun agak kesiangan, dan terkejut karena tidak melihat keberadaan Tuan besar Wijaya di sampingnya. Perempuan itu segera berdiri dan membersihkan diri di kamar mandi. Tidak lama kemudian, Nyonya Sandrina berniat kembali mencari barang yang belum ketemu tadi malam. Perempuan itu berniat mempelajari tulisan yang ada pada bunga kering dan daun kering, yang diberikan paranormal untuknya, dan segera akan mempraktekkannya.
"Sepertinya ini saat yang tepat untuk menempatkan ramuan dari penasehat spriritual itu, mumpung papa sudah berangkat ke tempat kerja." melihat tidak ada tuan Wijaya, Nyonya Sandrina malah merasa leluasa untuk menjalankan aksinya.
Rasa bencinya pada Cassandra sebagai istri dari putranya, membuat perempuan paruh baya itu berpikir bagaimana caranya untuk menyingkirkan Cassandra dari sisi Andreas Jonathan. Harapan untuk dapat menguasai harta keluarga, dan juga sebagian asset putranya menjadikan Nyonya Sandrina menjadi gelap mata. Jennifer seorang gadis yang sudah lama mendapat dukungan sumber daya dari putranya, menjadi alat yang sangat empuk baginya, agar dapat merebut perhatian putranya.
Nyonya Sandrina berjalan menuju ke meja rias untuk mencari tas kresek putih yang ditempatkannya di situ. Tetapi berkali-kali perempuan itu mencari di dalam draw, di atas bahkan di balik meja rias, tapi tidak bisa menemukan keberadaan barang yang dicarinya. Padahal saat ini, barang yang dicari nyonya Sandrina sedang diamankan oleh Alexander, akan menjadi bukti dan bahan penyelidikan untuk menelusuri hal tersebut. Dan juga sampai saat ini, Nyonya Sandrina sama sekali belum mengetahui jika karena ulahnya itu, tuan Wijaya sedang berada di rumah sakit.
"Kemana tas kresek itu, aku sudah mencarinya dimana-mana, namun belum juga aku ketemukan. Apakah terbuang oleh papa, atau diambil ART?" Nyonya Sandrina bertanya-tanya sendiri,
"Tapi.. ART tidak akan pernah berani masuk ke dalam kamar jika aku atau papa masih tidur, atau sedang berada di kamar, tanpa ada ijin dari kami. Tapi dimanakah tas kresek itu, jika sampai diketemukan atau berada di tempat lain, bisa celaka aku. Kenapa aku bisa senaas ini.." kembali Nyonya Sandrina berbicara pada dirinya sendiri.
Perempuan itu kembali mengulang pencarian, namun belum juga diketemukan barang yang saat ini sedang dicarinya. Sampai tempat sampah juga diubek-ubeknya, namun belum juga tas kresek itu ditemukan.
"Berarti semalam aku tidak salah, tas kresek putih itu memang sudah tidak berada disini sejak tadi malam. Dan papa pagi ini juga sudah tidak ada, atau aku akan mencoba bertanya pada ART di luar kamar dulu.." kembali Nyonya Sandrina berbicara lirih,
Perempuan paruh baya itu segera membuka pintu kamar, dan ketika berada di luar kamar, terlihat ruangan itu tampak sepi seperti biasanya. Nyonya Sandrina mengerutkan kening, ketika melihat Siti seperti menghindar bertemu dengannya.
"Siti.. kemari.." Nyonya Sandrina berteriak memanggil ART itu,
"Ya nyonya.." dengan perasaan takut, Siti berjalan dari arah dapur menemui Nyonya Sandrina yang berdiri di ruangan tengah.
"Siapa yang sudah masuk ke kamarku Siti.., karena aku merasa ada barang yang hilang dari kamarku.." nyonya Sandrina langsung bersuara dengan keras, menanyakan barang yang dicarinya.
"Setahu saya tidak ada nyonya besar, sesuai dengan intruksi dari Nyonya besar, tanpa ada ijin dan tanpa ada permintaan, tidak ada yang dibolehkan untuk memasuki kamar nyonya dan tuan besar. Saya juga tidak tahu barang apa yang hilang Nyonya.." Siti ketakutan ketika diberi informasi barang yang hilang tersebut,
"Carikan petugas keamanan sekarang, suruh menemui saya..!" tidak mendapatkan jawaban dari Siti, perempuan itu berteriak untuk memanggilkan petugas keamanan untuk datang,
**********
Dua petugas keamanan mansion Andreas Jonahthan bergegas menuju ke ruang tengah untuk menemui Nyonya Sandrina. Keduanya bertatapan, saling mengkonfirmasi apakah mereka membuat suatu kesalahan. Namun mereka tidak ada yang tahu, kenapa mereka dipanggil untuk bertemu dengan Nyonya besar.
"Selamat pagi nyonya besar.. apakah nyonya besar ingin bertemu dengan saya." kedua pengawal itu agak canggung bertemu dengan perempuan paruh baya itu.
"Aku membutuhkan rekaman CCTV sekitar jam limaan sore kemarin, sampai tadi malam." perempuan itu langsung memberikan tugas pada pengawal itu.
"Kapan nyonya besar membutuhkan rekaman itu nyonya, karena saya harus ijin dulu pada Tuan Alexander." dengan ketakutan, pengawal itu menjawab perintah dari Nyonya Sandrina.
"Apa yang kamu bilang, apakah kamu tidak tahu saat ini kamu itu sedang berbicara dengan siapa?? Levelku dalam keluarga ini, lebih tinggi dari siapapun, bahkan lebih tinggi dari Cassandra. Bisa-bisanya kamu menggunakan Alexander, orang luar itu untuk menunda apa yang aku inginkan." perempuan paruh baya itu tidak mau mengendalikan emosinya.
Kedua pengawal itu terdiam, tidak berani menatap mata mama dari tuan mudanya itu. Namun pesan yang disampaikan Tuan Alexander, dan bagi mereka tuan Alexander setingkat di bawah tuan muda Andreas Jonathan. Perintah yang keluar dari Tuan Alexander, selama ini merupakan representasi dari perintah yang keluar dari mulut tuan muda mereka.
"Lakukan sekarang apa yang aku perintahkan, jangan berani-berani kalian membantah dan mengabaikan perintahku, apalagi demi orang luar dari keluarga ini!" kata-kata pedas kembali mengalir dari bibir perempuan paruh baya itu.
"Mohon maaf nyonya besar, rekaman CCTV sejak kemarin siang, sampai tadi malam pukul sebelas sudah dipotong oleh tuan Alexander, dan siapapun tidak diijinkan untuk memintanya. Jadi jika nyonya besar menginginkan rekaman tersebut, saat ini sudah tidak berada di dalam mesin perekamnya." akhirnya karena tidak tahan dengan ocehan perempuan paruh baya itu, salah satu dari pengawal itu mengaku.
"Damn it...ada apa ini?? Keluarga macam apa ini, bisa-bisanya seorang pesuruh bisa naik kelas mengendalikan majikan, mengendalikan tuan rumah. Minta pada laki-laki itu, dan bawakan rekaman itu secepatnya kepadaku, atau siang ini juga kalian pergi dari rumah ini. Aku memecatmu.." teriak perempuan paruh baya itu, dan teriakannya sampai memenuhi semua ruangan yang ada disitu.
Beberapa ART mengintip dari pintu ruang belakang, mereka berusaha menghindar dan tidak mau berpapasan dengan perempuan itu. Kejadian tadi malam, yang sampai berdampak pada masuknya tuan Wijaya ke rumah sakit, dan harus melakukan rawat inap di rumah sakit tersebut, membuat mereka takut pada perempuan paruh baya itu. Mereka seakan melihat monster yang memiliki kemampuan untuk membunuh, atau membinasakan lawannya.
"Nyonya besar.. saya tidak akan mau melaksanakan perintah dari nyonya besar, karena sudah jelas perintah yang keluar dari tuan Alexander. meskipun nyonya besar mengusir kami keluar dari mansion ini, namun jika bukan oleh tuan Alexander, tuan muda Andreas Jonathan, serta nona muda Cassandra yang memerintahkan , kami akan tetap bertahan," kata-kata pedas dari salah satu pengawal itu, tampak mengejutkan perempuan itu.
*********