CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 148 Salah Kamar???



Keesokan Harinya


Cassandra meninggalkan suaminya yang masih tertidur di dalam kamar, dan berjalan keluar untuk mencari putranya yang semalam tidur dengan suster pengasuh. Terlihat suster pengasuh sedang menyuapi Altezza, dan ternyata anak itu sangat penurut jika disuapi oleh suster pengasuhnya. Padahal jika bersama Cassandra, Altezza sering membuat ulah dengan mengacaukan makanan yang disuapkan kepadanya.


"Altezz sudah dimandikan suster..?" dengan intonasi perlahan, Cassandra bertanya pada Suster Rossana.


"Beberapa saat lagi nona muda, karena tadi tuan kecil bangunnya agak siang. Jadi saya menyuapinya lebih dulu, baru kemudian akan memandikan tuan kecil." suster Rohana menyampaikan alasan.


"Bagus suster.. kamu bisa menyelesaikan pekerjaanmu dulu. By the way... dimana kamar nona muda Stevie berada, dan juga mama Sheilla.." tiba-tiba Cassandra menanyakan dimana letak mama mertua dan adik iparnya. Jika papa mertuanya tuan besar Wijaya gadis itu tidak menanyakannya, karena Cassandra tahu jika papanya sering melakukan perjalanan sendiri.


"Ada di sebelah nona muda.. dan selang satu kamar, sepertinya itu kamar nyonya besar. Saya hanya mendengar pengawal memberikan kunci kamar kepada Nyonya Sheilla, dan nona muda Stevie.." suster Rohana menjawab sekedar apa yang dia tahu.


"Baiklah suster.. aku tinggal dulu ya untuk membangunkan Stevie dan mama. Aku dan tuan muda berencana mau pergi ke Kalasan, dan akan bertanya pada mereka, apakah mereka akan ikut dengan kita atau tidak.." Cassandra memberi tahu pada suster pengasuh putranya itu. Agar jika suaminya Andreas Jonathan terbangun dan mencarinya, suster pengasuh bisa memberi tahu keberadaannya.


"Baik nona muda.. nanti jika ada yang mencari tahu nona muda, saya bisa menjawabnya.."


Cassandra mencium pipi gembul  Altezza, kemudian meninggalkan anak laki-laki yang menggemaskan itu dengan suster pengasuh. Gadis itu segera menuju ke kamar yang digunakan Stevie beristirahat. Beberapa saat, Cassandra menekan bel pintu, namun tidak terdengar ada yang membukakan pintu untuknya. Gadis itu kembali mengulangi, melakukan hal yang sama. Beberapa  saat kemudian, terdengar pintu kamar dibuka dari dalam..


"Kak Alex.. apakah Sandra salah kamar? Bukankah ini kamar yang ditempati Stevie istirahat, bagaimana bisa kak Alex berada di dalam kamar Stevie.." Cassandra terkejut, karena bukannya melihat Stevie yang membuka pintu, namun malah wajah Alexander yang menyambutnya.


Tidak bermaksud untuk merendahkan Cassandra, Alexander menarik tangan gadis itu dan membawanya ke dalam. Laki-laki itu hanya ingin menutup mulut istri dari tuan mudanya, agar perempuan itu tidak salah sangka kepadanya. Mata Cassandra terbelalak melihat Stevie yang masih terbungkus selimut, dan tatapan nanar Cassandra seakan menembus semua kulit Alexander.


"Aku bisa menjelaskannya nona muda.. jangan salah sangka pada kami. Tidak ada yang kami lakukan, aku hanya menumpang tidur di kamar ini saja, dan akupun tidur di sofa tidak bergabung dengan Stevie di atas ranjang. Bangunkan Stevie.., dan tanyakan kepadanya..!" dengan pucat, Alexander berusaha membuat klarifikasi. Laki-laki muda itu merasa jika Cassandra masih bisa untuk diajak bicara, daripada tuan muda Andreas Jonathan.


Cassandra mengabaikan Alexander, dan gadis itu langsung berjalan ke pinggir ranjang dan menarik selimut yang menutup tubuh Stevie. Gadis muda yang masih tertidur lelap itu merasa kaget, karena ada yang mengganggu tidur nyenyaknya. Dengan mata yang separuh terbuka, Stevie menatap wajah yang melihatnya dengan tatapan marah. Melihat keberadaan kakak iparnya di dalam kamarnya, Stevie kaget dan gadis itu segera beranjak bangun.


"Kak Sandra.. tolong kak jangan salah paham. Stevie menjelaskannya.." Stevie segera memegang tangan kakak iparnya, dan ingin menjelaskan apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Kamu bisa menjelaskan sendiri pada kakak kandungmu Stevie.., apa yang telah kamu lakukan dan terjadi di kamar ini, dengan Alexander." Cassandra pura-pura marah. Terlihat Alexander hanya tersenyum kecut, laki-laki itu hanya garuk-garuk kepala yang tidak gatal.


"Segera bersihkan tubuh kalian, aku tunggu kalian di restaurant secepatnya.." Cassandra segera meninggalkan dua anak muda itu.


********


Sheilla membuka matanya, dan perlahan perempuan paruh baya itu seperti kehilangan keseimbangan dalam berpikir. Karena pengaruh wine yang tadi malam diminumnya ketika berbincang dengan Wijaya, perempuan itu seperti tidak mengingat segalanya. Tapi tiba-tiba Sheilla kaget, karena merasa menyentuh sesuatu yang hangat di sampingnya, dan hembusan nafas laki-laki terasa menyapu tengkuknya.


"Hmm.. dengan siapa aku tidur, dan kenapa bisa..?" Sheilla terkejut menjumpai ada seseorang yang lain, yang saat ini berada di ranjang yang sama dengannya.


Perlahan Sheilla membalikkan wajahnya ke samping, dan betapa terkejutnya perempuan paruh baya itu, karena ternyata Wijaya telah berbagi ranjang yang sama dengannya. Perempuan paruh baya itu mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi tadi malam, dan bagaimana mantan suaminya bisa bersama dengannya dalam satu ranjang lagi.


"Good morning Sheilla.. kamu sudah bangun.." tiba-tiba Wijaya membuka matanya, dan tersenyum menatap perempuan yang masih tampak bingung itu.


"Bangun Wijaya.. bagaimana bisa kamu berada di atas ranjang tempatku tidur. Kamu memanfaatkan kesempatan ya, ketika aku tidur kamu memaksa masuk ke dalam, dan kemudian tidur di atas ranjangku.." melihat Wijaya, laki-laki yang dibencinya itu terbangun, dan menyapanya membuat nyonya Sheilla menjadi emosi. Perempuan itu merasa dipermainkan oleh laki-laki itu.


"Sebelum menuduhku yang tidak-tidak, mungkin kita bisa bersama-sama mencari rekaman CCTV kamar ini Sheilla. Kamu yang mengajakku " Wijaya tersenyum, dan malah mengajak mantan istrinya untuk mencari kejelasan bersama-sama,


Sheilla terdiam, dan samar-samar perempuan itu mengingat bagaimana tadi malam, dalam keadaan mabuk wine, dia memang mengajak Wijaya untuk mengantarnya ke dalam kamar. Tetapi sesudah itu, Sheilla sudah tidak ingat apapun, Dan tahu-tahu ketika terbangun, ternyata Sheilla sudah berada dalam satu ranjang dengan Wijaya.


"Jika begitu.. segera tinggalkan kamarku Wijaya, kembali ke kamarmu sendiri. Aku tidak mau, semua orang memiliki persepsi buruk dengan kita.." mendengar penjelasan dari laki-laki itu, dan mengingat kembali samar-samar apa yang terjadi, akhirnya Sheilla berusaha mengusir laki-laki itu dari kamarnya.


"Kamu mengusirku sayang.., padahal hotel ini full occupancy, sehingga aku tidak mendapatkan jatah kamar. Lihatlah, trolly bag ku juga berada di dalam kamar ini, jadi kita bisa berbagi kamar. Bukankah kita bisa menjalani hari tanpa terjadi apa-apa bukan..?" Wijaya seperti mempermainkannya. Setelah bicara laki-laki itu malah meninggalkan Sheilla yang masih merasa bingung dengan keadaan yang menimpanya. Bahkan Sheilla tidak sadar, ketika Wijaya sudah mendahuluinya mandi.


"Kenapa jantungku berdetak seperti ini, apa karena laki-laki itu..?" tiba-tiba Sheilla mengusap dadanya, berusaha meredakan detak jantung yang terasa berdegup kencang itu.


***********