
Menjelang maghrib, tanpa prasangka Andreas Jonathan pulang ke mansion di PIK 2. Disana Nyonya besar Sandrina sudah menunggunya, juga papa dari laki-laki itu. Tanpa sepengetahuan laki-laki itu, Jennifer juga ada di rumah itu. Baru saja Andreas Jonathan akan masuk ke kamar tidurnya, terlihat Nyonya besar Sandrina sudah menarik laki-laki itu untuk menuju ke ruang makan.
"Syukurlah putra mama sudah sampai ke rumah, ternyata kamu masih menghargai mamamu sayang.." Nyonya besar Sandrina langsung memeluk putranya.
"Hmm... biarkan Andre ke kamar dulu mam.. Tunggulah, tidak lama lagi Andre akan bergabung dengan kalian di meja makan." merasa ilfill dengan sikap mamanya yang terlalu terlihat bersemangat, menjadikan laki-laki malah risih. Tidak tahu kenapa, Andreas Jonathan merasa ada yang disembunyikan mamanya.
"Ya sudah, gantilah baju sebentar. Tidak mungkin juga, kita makan malam dengan pakaian lengkap seperti itu. Bersihkan badanmu dulu.." melihat putranya masih mengenakan pakaian kantor lengkap, akhirnya Nyonya besar Sandrina membiarkan putranya untuk pergi ke kamar.
Tanpa menjawab, Andreas Jonathan bergegas meninggalkan mamanya, dan segera masuk ke dalam kamarnya. Dengan wajah berbinar, Nyonya besar Sandrina kembali ke meja makan, dan melihat Jennifer yang sedang menyiapkan makanan sambil tersenyum.
"Jenni.. apakah semua sudah seperti yang kita rencanakan sayang. Kamu sudah mengaturnya dengan baik bukan..?" sambil melihat ke kanan dan ke kiri, perempuan itu bertanya pada Jennifer.
"Sudah tante.. semua sudah Jenni atur dan letakkan sesuai dengan perintah tante.." sambil tersenyum licik, Jennifer menjawab pertanyaan Nyonya besar Sandrina.
"Mmmm .. bagus Jenni.. percayalah pada tante.. Setelah malam ini, putraku tidak akan dapat melepaskan dirimu lagi cantik. Kita sudah mengatur semuanya sudah sangat sempurna. Yakinlah Jenni.. bersama denganku, kamu akan dapat menguasai semuanya. Tetapi ada satu hal yang perlu kamu ingat. jangan pernah melupakan janji dan kesepakatan kita.." sahut Nyonya besar Sandrina dengan tersenyum pula.
Namun percakapan kedua perempuan itu terhenti, karena tiba-tiba Tuan besar datang dan memasuki meja makan. Tanpa mengatakan apapun, tuan besar segera duduk di kursi kebesarannya. Laki-laki itu hanya diam tidak berbicara apapun.
"Papa.. kita nunggu Andre dulu. Anak itu baru bersiap di kamarnya, lagi membersihkan diri, Karena baju yang dikenakannya, masih sama dengan baju tadi pagi di kantor." terlihat Nyonya besar Sandrina mendatangi suaminya.
"Siapkan teh tawar panas untukku.." sahut laki-laki papa Andreas.
**********
Di meja makan
Baru beberapa suapan, tiba-tiba Andreas Jonathan menghentikan aktivitasnya. Laki-laki itu merasa ada yang aneh dari masakannya. dan sejenak berpikir. Jennifer dan Nyonya besar Sandrina saling berpandangan, tetapi seperti terlihat kekhawatiran di wajah mereka. Melihat sikap keduanya, dari kursinya, tuan besar Wijaya terlihat mencurigai kedua perempuan tua itu, namun tidak ada yang dilakukannya. Laki-laki tua itu hanya menatap mata istrinya, dengan mengisyaratkan suatu peringatan.
"Mau nambah lagi Andre.., biar Jenni tambahkan di piringmu.." dari samping papanya, Nyonya besar Sandrina bertanya pada putranya.
"Cukup.. ada yang aneh dalam makanan ini, nanti Andre makan di tempat lain saja.." tiba-tiba Andreas Jonathan menghentikan makan dengan meletakkan sendok dan garpu di atas piring. Laki-laki itu berdiri, dan tanpa kata meninggalkan tiga orang itu di atas meja makan.
"Andre,, mau kemana kamu. Tunggu mama, masih ada hal yang perlu kita bicarakan.." Nyonya besar Sandrina berteriak untuk menahan putranya. Tetapi laki-laki muda itu seperti tidak mendengar, langsung bergegas menuju ke kamarnya.
"Jenni.. ikuti Andreas masuk ke dalam kamar. Hanya kamu yang akan dapat menyembuhkan dan mengembalikan keadaan putraku.." dengan nada tinggi, Nyonya besar Sandrina meminta Jennifer untuk mengikuti putranya.
Sepeninggalan Jennifer, dengan tatapan menyelidik Tuan besar Wijaya menatap ke wajah istrinya. Ada kecurigaan di mata laki-laki itu atas sikap istrinya pada Jennifer. Sebagai seorang laki-laki yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, laki-laki tua itu menyimpan pertanyaan dalam hatinya.
"Mam.. aku harap kamu tidak bertindak terlalu jauh pada putramu malam ini. Bagaimanapun kamu adalah mamanya, yang seharusnya melindungi Andreas bukan malah menjerumuskan." kata-kata tegas penuh peringatan keluar dari mulut laki-laki tua itu.
Nyonya besar Sandrina merasa kaget dengan perkataan suaminya. Sangat jarang, Tuan besar Wijaya berbicara keras kepada istrinya, tetapi tidak tahu mengapa, kali ini melihat ada yang aneh pada sikap istri dan Jennifer, membuat laki-laki curiga.
"Tenang pa.. itu urusan anak muda. Kita tidak perlu untuk campur tangan pada hubungan mereka, percayalah pada mama pa. Semua yang mama lakukan untuk kebaikan putra kita Andreas Jonathan, Jennifer seorang gadis yang baik, dan sangat serasi pada putra kita.." Nyonya besar Sandrina berusaha membela diri.
Dengan perasaan jengkel dan tatapan marah, tuan besar Wijaya berdiri dan meninggalkan meja makan. Nyonya besar Sandrina merasa kaget, tetapi dengan segera perempuan itu ikut berdiri meninggalkan tempat tersebut.
**********
Di dalam kamar..
Andreas Jonathan tiba-tiba merasa pusing dan gerah, laki-laki itu mendinginkan sarana pendingin ruangan dengan menggunakan remote AC. Beberapa saat laki-laki itu terdiam, dan menyadari seperti ada yang salah, dengan yang terjadi padanya saat ini.
"Damn it... ini pasti ulah mama dan perempuan ****** itu..." Andreas Jonathan mengumpat.
"Hah..." tiba-tiba laki-laki itu merasa panas pada sekujur tubuhnya. Dinginnya AC terasa tidak mampu meredam panas tubuhnya, dan matanya sudah mulai menunjukkan tatapan yang aneh. Tiba-tiba saja, Andreas Jonathan merasa membutuhkan suatu pelampiasan.
"Kak Andre kenapa.. apa ada yang bisa Jenni bantu sayang.." tiba-tiba tanpa diduga, Jennifer masuk ke dalam kamar. Gadis itu berjalan mendekati laki-laki muda itu, kemudian kedua tangannya diletakkan di bahu Andreas Jonathan.
"Ini pasti ulahmu ******... pergilah dari kamarku.." Andreas Jonathan berteriak mengusir gadis itu keluar.
Namun Jennifer sedikitpun tidak bergerak, di tengah kemarahan laki-laki itu, gadis itu malah semakin berani. Tangan kanan Jennifer, membelai turun wajah Andreas Jonathan, dan jari-jari ramping itu mulai mengusap ke bawah melewati leher dan belakang telingan laki-laki itu.
"Hmm.. ssh.. aaaah.." ******* terlontar dari bibir laki-laki itu tanpa sengaja.
Mata Andreas Jonathan semakin merah, dan Jennifer semakin berani merangsek maju untuk menggoda laki-laki itu. Jari-jari ramping itu dengan lincahnya melepaskan kancing baju laki-laki itu, dan tidak lama kemudian baju atasan itu sudah terlempar ke lantai. Andreas Jonathan seperti terlena, matanya mulai terpejam merasakan sentuhan Jennifer semakin menambah hasratnya untuk keluar.
**********