CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 155 Dia Sahabat Saya



Suasana di hampir semua lantai di PT. Indotrex. Tbk mendadak heboh. Para karyawan di level bawah, yang semula menghujat Cassandra kali ini mereka menjadi bersikap baik dan ramah. Seperti ada penyesalan dari perbuatan mereka di masa lalu, dimana selalu menjadikan Cassandra sebagai bulan-bulanan permainannya mereka. Alexander yang datang ke kantor belakangan hanya gelengan kepala mendengar kehebohan itu.


"Permainan apa lagi yang akan dimainkan oleh tuan muda dengan mengajak nona muda Cassandra ke perusahaan kali ini. Bisa terjadi keributan jika nanti nona muda berjumpa dengan Herlambang." Alexander bergumam sendiri.


"Hmm.. atau Herlambang aku berikan tugas tambahan saja ya, agar tidak bertemu dengan nona muda Cassandra. Aku lagi malas berurusan dengan hal seperti itu." Alexander mencari cara agar Cassandra tidak bertemu dengan Herlambang.


Setelah memiliki ide, akhirnya Alexander bergegas masuk ke ruang kerjanya. Dari rekaman CCTV, anak muda itu melakukan pengamatan suasana di dalam perusahaan. Melihat Cassandra yang duduk manis di sofa ruang kerja Andreas Jonathan, laki-laki muda itu tersenyum.


"Tuan Alex.. apakah draft produk terakhir yang sudah dilaunch prototype oleh Dibilang Research and Development sudah bisa untuk kita cetak produknya. Sepertinya desain lebih ergonomis dan akan mudah diterima oleh pasar." tiba-tiba ada voice note dari Herlambang.


Alexander menelan ludah, dan menganggap semua terjadi karena kebetulan. Diluar hari itu, Herlambang memang sosok pekerja yang berdedikasi tinggi. untuk itu pengembangan karir di perusahaan sangat cepat.


"Untuk masalah itu, belum ada pembahasan secara resmi oleh CEO .. Herlam.., aku belum berani untuk mengambil tindakan." Alexander menanggapi pertanyaan yang diajukan Herlambang.


"Hmmm.. jika begitu, kenapa kita tidak bertanya dengan tuan muda langsung. Sepertinya tadi sudah pada heboh membicarakan tuan muda di bawah.. kita bisa konfirmasi sekarang tuan Alex. Mumpung pasokan bahan baku juga baru kemarin dikirim, kita bisa menggunakan sebagian kecil untuk produksi produk baru tersebut." Herlambang terus mengejar.


"Diamlah dulu..., aku akan menghubungkan tuan muda dulu, apakah beliau bersedia untuk kita ajak diskusi masalah ini." untuk menyapih keadaan Alexander akhirnya menghubungi tuan muda Andreas Jonathan.


"Ada apa Alex.., apakah ada hal yang penting?" dengan membunyikan loud speaker Alexander melakukan panggilan.


"Saudara Herlambang ingin berdiskusi dengan kita, terkait rencana produksi prototype yang digagas oleh Divisi Research and Development. Apakah tuan muda ada waktu..?"langsung ke pokok permasalahan.


"Bawa saja anak itu ke ruanganku, tidak masalah.." di luar dugaan, ternyata Andreas Jonathan malah mengijinkan Alexander untuk membawa Herlambang.


Padahal tadi sebelum melakukan panggilan, Alexander sudah berpikiran buruk jika Andreas Jonathan tidak akan menyetujuinya. Namun ternyata itu hanya bentuk dari kekhawatirannya saja.


"Itu Tuan muda Andre malah terbuka untuk diskusi tuan Alex.., kita segera ke ruangan beliau saja." mendengar sendiri bagaimana Andreas Jonathan terbuka untuk menerima mereka, Herlambang segera mengajak tuan Alexander.


Alexander segera berdiri dari kursinya, kemudian mengajak Herlambang untuk mengikutinya. Tanpa bicara, keduanya segera berjalan keluar dari dalam ruangan kerja Alexander dan Langsung menuju ke ruang kerja Andreas Jonathan.


"Tok.. tok... tok..," selesai mengetuk pintu tanpa menunggu dipersilakan masuk, Alexander mendorong pintu ke dalam.


"Honey... jika mau ikut diskusi, honey bisa ikut aku dan Alex bicara di sofa. Tapi kalau malas, honey bisa istirahat di kamar di belakang ruang kerja." dengan mesra Andreas Jonathan menawari istrinya seakan memanasi Herlambang.


Cassandra terdiam dan terlihat berpikir beberapa saat.


"Lagi malas, belum On kak. Sandra lihat-lihat berkas saja, siapa tahu bisa bantu kak Andre dan kak Alex review." sambil menjawab, Cassandra tanpa menoleh segera membawa berkas dan masuk ke dalam kamar tidur yang ada di belakang ruang kerja suaminya. Andreas Jonathan hanya tersenyum dan tidak berkomentar dengan pilihan istrinya, sedangkan Alexander terlihat mengulum senyum.


Tetapi hal berbeda terjadi pada reaksi Herlambang. Mendengar suara Cassandra, dan ketika gadis itu menyebut namanya Sandra, detak jantung anak muda itu seakan berhenti berdetak. Mata anak muda itu tidak beralih dari pintu kamar tidur tuan mudanya yang sudah tertutup. Melihat hal itu, Andreas Jonathan dan Alexander saling berpandangan.


"Ada apa mas Herlam... sepertinya ada yang membuatmu tertarik dengan kamar tidurku." tiba-tiba Andreas Jonathan bertanya pada anak muda itu.


Herlambang sontak terkejut mendengarkan pertanyaan dari CEO perusahaan, dan di sampingnya juga duduk wakil CEO. Tapi karena rasa penasaran untuk mengetahui bagaimana kabar Cassandra saat ini, anak muda itu membulatkan tekadnya.


"Mohon maaf tuan muda, sepertinya saya kenal dengan gadis yang baru saja masuk ke ruang tuan muda barusan. Gadis itu teman baik saya, dan saya kehilangan kabar beritanya sudah satu tahunan ini." Herlambang mengutarakan apa yang dirasakannya.


"Siapa mas, gadis tadi adalah istriku yang sangat aku cintai. Benarkah dia sahabatmu, dan tidak ada hubungan lebih denganmu." Andreas berusaha memancing sejauh mana kedekatan yang pernah terjadi antara istrinya dengan laki-laki di depannya itu.


"Kami berteman dekat tuan muda, memang sih.. jujur saya pernah punya harapan untuk menjadikan Cassandra gadis itu untuk menjadi kekasih saya, tapi kesempatan itu tidak pernah sampai ke saya. Tiba-tiba sekitar setahunan gadis itu minta tolong ke saya untuk mencarikan tempat untuk menenangkan diri, dan ternyata gadis itu hamil. Tetapi Cassandra tidak pernah bercerita apa yang terjadi dengannya, dan bahkan saya sudah bertekad jika bayi itu lahir, saya siap untuk menjadi bapaknya." mendengar perkataan Herlambang terakhir, wajah Andreas Jonathan sudah terlihat menahan Amarah.


Tetapi untungnya, Herlambang pas tidak melihat ke arah laki-laki itu. Duduk di sebelah Herlambang, terlihat Alexander sudah ketar ketir merasa khawatir jika tuan mudanya emosi.


"Apakah kamu pernah menyatakan perasaanmu padanya?" tiba-tiba Andreas Jonathan kembali bertanya.


"Belum sampai tuan muda, karena tiba-tiba hanya berpamitan via surat, Cassandra sudah pergi meninggalkan area Sukabumi dan aku sampai melacak sampai ke kota Yogyakarta. Namun tetap tidak saya temukan kabarnya sampai sini." Herlambang terlihat bersedih.


"Lalu bagaimana kamu bisa yakin jika gadis tadi adalah sahabatmu?" Andrew Jonathan terus memancing.


"Saya pernah diskusi dengan tuan Alexander di ruang meeting room. Di dalam ruangan itu, ada lukisan tuan muda dan Cassandra dalam satu frame dengan seorang bayi di tengahnya. Saya jujur terkejut tuan muda, sampai akhirnya tuan Alex bercerita pada saya." mendengar namanya disebut Herlambang, Alexander hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


*******