
Setelah mendapatkan kabar jika Stevie kembali sendiri ke Jakarta, Alexander segera melakukan sejumlah pengaturan. Tanpa orang-orang sadari, Alexander sudah menyadari dan membaca situasi jika Stevie dan Nyonya Sheilla juga mendapatkan ancaman dari orang-orang yang belum diketahui latar belakangnya. Tanpa Cassandra dan Stevie ketahui, sebenarnya meskipun gadis itu berada di kota Yogyakarta dengan Nyonya Dhini, tetapi Andreas Jonathan membayar beberapa orang untuk mengawasi gerak gerik Stevie. Karena beberapa kali, anak muda itu melihat ada beberapa orang yang berkelebat di sekitar hotel tempat keluarga besar tuan Wijaya tinggal, dan Alexander sudah memerintahkan anak buahnya untuk lebih berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan. Tetapi jika orang-orang itu didatangi dengan cepat kelompok itu akan menghilang.
"Robert.. pastikan lingkungan sekitar stasiun Gambir aman.., aku akan datang ke lokasi sebelum kereta itu datang." tampak Alexander mengatur sweeping lokasi tindakan,
"Sudah tuan Alex.., beberapa tim saya sudah sejak pukul dua pagi menyebar, ke beberapa stasiun yang disinggahi kereta tersebut, dan berjaga serta ikut melakukan pemeriksaan para penumpang yang keluar masuk. Sejauh ini aman tuan Alex.., diperkirakan pada pukul 4.51 menit kereta api tanpa ada keterlambatan akan tiba di stasiun Gambir. Jika tuan Alex menghendaki adanya tambahan orang di lingkungan stasiun, akan segera kami siapkan.." dengan tegas Robert membuat laporan.
"Sementara cukup Robert.., aku juga sudah akan meluncur ke lokasi. Nanti kita akan bertemu di stasiun Gambir.." setelah menghubungi Robert, Alexander segera menuju ke parkir mobil kemudian langsung masuk ke dalam mobilnya.
Sebelum menjalankan mobilnya, Alexander berpikir sikap-sikap yang dimiliki oleh Stevie. Anak itu cenderung easy going dan menang sendiri, dan jika tidak diingatkan akan bahaya yang mengintainya, maka gadis muda itu akan bisa bertindak ceroboh.
"Aku harus memberikan peringatan pada Stevie.., agar gadis itu keluar kereta menggunakan pintu yang terdekat dengan tempat duduknya, Hal itu akan mempermudah aku melakukan koordinasi.." setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Alexander memutuskan untuk menghubungi Stevie.
Beberapa kali Alexander melakukan panggilan pada Stevie, namun panggilannya tidak diterima oleh gadis itu, padahal bisa saja gadis itu tengah tertidur di dalam kereta api. Alexander masih berpikiran jika gadis itu tertidur, sehingga tidak mendengar panggilan masuk untuknya. Akhirnya anak muda itu masih bersikap sabar, dan mengirimkan pesan masuk untuk Stevie.
"Stevie..., pastikan kamu keluar via akses gerbong Luxury 2 arah ke kiri. Aku menjemputmu disitu.., jangan abaikan perintahku. Hal ini penting, dan akan sangat berbahaya jika kamu menolak, dan hanya ingin bermain-main dengan nyawamu Stevie.." dengan kata-kata mengandung ancaman, Alexander mengirimkan pesan. Dan setelah memastikan jika pesannya sudah terkirim, anak muda itu segera menginjak pedal gas mobil, dan langsung menuju ke arah jalanan untuk membawanya ke stasiun Gambir, Jakarta Pusat.
**********
Di dalam kereta
Stevie tampak mengambil kelas luxury jenis sleeper dengan mengambil kereta Taksaka Luxury, dengan harga tiket menyamai dengan harga pesawat terbang. Betul-betul kenyamanan dirasakan gadis itu, karena selama tinggal di Singapura, dirinya belum pernah merasakan naik kereta dengan fasilitas senyaman itu. Banyak fitur yang dimiliki kereta api Luxury ini, mulai dari foldable food tray, lcd tv, usb port, lampu baca, train attendance button, hingga mini bar. Gadis itu sedang melihat film, karena sudah tertidur sejak kereta meninggalkan stasiun Tugu Yogyakarta. Tiba-tiba ponselnya berdering..
"Siapa lagi malam-malam jam segini melakukan panggilan.." dengan perasaan jengkel, Stevie mengambil ponsel, dan ketika melihat Alexander yang melakukan panggilan masuk, gadis itu malas untuk menerimanya. Sampai tiga kali, panggilan telpon dari laki-laki itu diabaikan oleh Stevie,
"Stevie..., pastikan kamu keluar via akses gerbong Luxury 2 arah ke kiri. Aku menjemputmu disitu.., jangan abaikan perintahku. Hal ini penting, dan akan sangat berbahaya jika kamu menolak, dan hanya ingin bermain-main dengan nyawamu Stevie.."
Begitu Stevie membaca pesan yang seperti ancaman itu, tiba-tiba saja perasaan dan hati gadis itu menjadi tidak tenang. Beberapa hari memutuskan tinggal di kota kecil Yogyakarta, dengan Armand dan mama Dhini (begitu Stevie memanggilnya) telah melupakan kewaspadaan gadis itu.
"Kenapa sampai kak Alex mengirimkan chat seperti ini. Apakah ini hanya akal-akalan saja, agar aku mau mendengarkannya, ataukah memang ada sesuatu yang penting dalam keluarga kak Andre dan kak Sandra. Bukannya aku juga meminta kak Sandra yang akan menjemputku, kenapa sudah beralih pada kak Alex.." banyak pertanyaan berkelebat dalam pikiran gadis itu, Namun Stevie tidak berhasil menemukan jawabannya.
Gadis itu mencoba mengelilingkan pandangan ke sekeliling gerbong Luxury dua, dan memang terlihat sepi, Hanya ada tiga penumpang yang memanfaatkan fasilitas mewah dalam gerbong tersebut. Untungnya Stevie mengambil tempat duduk di depan sendiri sehingga tidak bisa menyaksikan dari belakang, jika keretanya kosong. Dua penumpang lainnya terlihat masih ada, sehingga Stevie bisa bernafas lega.
"Aku tidak boleh takut, bukannya aku juga punya dasar-dasar untuk bertarung. Meskipun tidak ada senjata yang bisa aku gunakan untuk bertahan, aku masih mengenakan ikat pinggang, dimana jika aku melepaskannya, akan bisa aku gunakan sebagai senjata andalan." Stevie bergumam sendiri, berusaha meningkatkan kembali rasa percaya dirinya.
"Kenapa aku sok main kucing-kucingan, yang akhirnya malah menjebakku seperti ini. Aku lupa, jika keluarga papa Wijaya dan mama Sheilla serta kak Andreas, keluarga ini penuh misteri. Banyak musuh yang selalu mengintai keluargaku, tetapi kenapa aku sok untuk bermain seperti ini. Aku menyesalinya.." beberapa kali Stevie mengacak-acak rambutnya.
Maksud Stevie mengendarai kereta api, karena memang ingin merasakan hal dan nuansa lain melakukan travelling sendirian. Dan sepertinya gadis itu terlupakan, dengan tarif kereta api Yogyakarta - Gambir Rp. 900.000, orang lebih memilih untuk naik pesawat daripada harus terombang ambing dalam kereta selama 8 jam perjalanan. Sebuah pengalaman memang sangatlah mahal harganya. Untuk mengurangi kecemasan, akhirnya Stevie memutuskan untuk membalas pesan yang dikirimkan Alexander,
"Iya kak Alex.., kebetulan posisi duduk Stevie ada di depan sendiri. Jadi Stevie pastikan akan langsung keluar dari pintu depan Stevie.." ada rasa tenang setelah berhasil menjawab pesan yang dikirimkan Alexander untuknya.
"Hmmm... " hanya satu kata tanpa makna, dikirimkan Alexander sesudah itu. Tanpa Stevie ketahui, dirinya bisa tidur dengan berselonjor kaki di kereta, namun tidak untuk anak muda itu. Pada jam tiga pagi, Alexander masih membuat pengaturan, dan saat ini masih di belakang kemudi untuk menjemput gadis itu menuju stasiun Gambir.
************