
Begitu Andreas Jonathan dan Cassandra selesai menikmati sarapan pagi, Stevie dan Alexander datang berkunjung ke Pant House. Tampak keceriaan di wajah Stevie terutama, sedangkan Alexander terlihat ada kekhawatiran jika tuan mudanya yang juga kakak iparnya marah karena kedatangan mereka. Tetapi terlihat Andreas Jonathan hanya diam, sedangkan Cassandra segera menyambut kedatangan pasangan suami istri dengan sangat gembira. Kedua perempuan muda itu saling berpelukan beberapa saat, kemudian Cassandra segera melepaskannya.
"Stevie.. pipimu bertambah chubby sekarang, hanya satu bulanan saja kita tidak bertemu." Cassandra mengomentari penampilan Stevie saat ini.
"Hmmm... berarti aku bisa membahagiakan istriku Sandra.., buktinya begitu menjadi istriku, Stevie menjadi lebih berisi." Alexander yang berdiri di belakang Stevie, menyahut perkataan Cassandra.
"Bohong kak, tidak perlu percaya dengan kata-kata kak Alex. Bisa chubby, karena kerjaan sehari-hari lebih banyak tidur di kamar, tidak ada teman untuk diajak mobilisasi. Kak Alex sendiri, lebih banyak berada di perusahaan, malam hari baru datang ke Pant House, Tidak pernah sama sekali mengajak Stevie jalan-jalan, sejak kak Sandra pergi ke negara ini." seperti mendapatkan kesempatan meluapkan isi hatinya, Stevie mengadukan sikap suaminya pada kakak iparnya.
"Duduk dulu semuanya, aku yakin kenapa kalian bisa berada di Italia, memang sengaja memilih negara itu bukan. Kemudian digunakan sebagai strategi untuk menuju kota ini, dan menggunakan kelembutan hati istriku Cassandra, kalian memutar lidah kalian.." tiba-tiba dengan nada sarkasme pedas, Andreas Jonathan menyindir adik kandung dan iparnya.
Alexander meliirik ke arah istrinya, apa yang dikhawatirkan akhirnya terbukti terjadi. Lama bergaul dengan Andreas Jonathan, Alexander dapat menduga bagaimana pola pikir CEO PT. Indotrex. Tbk itu. Tetapi yang mengejutkan, tiba-tiba Cassandra memeluk suaminya dan memberikan ciuman di pipi laki-laki muda itu.
"Kak Andre... jangan begitulah. Tidak mungkin bukan, jika kita harus terpisah sesama keluarga. Apapun yang akan terjadi pada kita semua, harus kita hadapi dan secepat mungkin kita selesaikan. Cassandra tidak takut menghadapi tantangan, hanya karena merasa tidak bagus jika menolak ajakan kak Andre, Cassandra mengikuti ajakan kakak." tidak hanya untuk membela adik iparnya, tetapi Cassandra juga tanpa sadar mengungkapkan isi hatinya,
Mendengar kata-kata yang diucapkan istrinya, Andreas Jonathan melihat ke arah istrinya. Perempuan muda yang selama ini jarang mengungkapkan keinginannya itu, tanpa sadar mengucapkan hal yang tidak begitu disukainya. Tiba-tiba laki-laki muda itu memeluk erat istrinya, dan menciumi Cassandra. Menyadari hal itu, Cassandra menjadi sadar jika sudah menyinggung suaminya.
"Maafkan jika kata-kata Sandra menyinggung kak Andre.., bukan maksud hati Sandra untuk berkata demikian.." melihat perubahan ekspresi suaminya, Cassandra meminta maaf pada laki-laki muda itu.
"Tidak ada yang salah honey, akulah yang salah, karena telah menganggapmu dan Altezz seperti barang. Kalian butuh berinteraksi dengan orang lainnya, sedangkan karena alasan paranoid, aku terlalu mengungkungmu, dan tidak membiarkanmu berhubungan dengan manusia lainnya.." Andreas Jonathan malah merasa terharu dengan pernyataan maaf dari istrinya.
"Ayo duduk-duduk dulu Stevie.., kak Alex. Kita malah membiarkan kalian berdiri, dan tidak mengajak kalian duduk, Aku akan menghubungi room service untuk menyiapkan minuman dan meal untuk kita berbincang. Tapi.. by the way, kalian tadi sudah sarapan pagi belum, kalau kami berdua kebetulan sudah baru saja.." Cassandra akhirnya tersadar jika ada Stevie dan suaminya,
Ke empat orang itu kemudian duduk di sofa, dan Cassandra memanggil pengawal untuk menyampaikan pada room service, agar mereka menyiapkan makanan dan minuman.
*********
Karena suaminya dan Alexander kembali ada agenda pertemuan dengan collega, untuk mengisi hari Cassandra mengajak Stevie untuk berkunjung ke Kota Tua (Altstadt), dan Museum Seni (Kunsthaus Zurich). Mereka tidak berani berjalan-jalan untuk melihat pemandangan alam, dengan tidak adanya laki-laki yang mengawal mereka. Cassandra khawatir, jika hanya ditemani pengawal, takut jika suaminya merasa tidak tenang dan mengalami kerisauan.
"Kota ini ternyata sangat maju ya kak, banyak perusahaan tingkat dunia yang mendirikan kantor pusat di kota ini. Juga melihat bangunan-bangunan ini, kita bisa ambil kesimpulan, kota ini berisi orang-orang kaya saja yang tinggal di tempat ini.." Stevie tampak mengagumi keberadaan kota Zurich.
"Benar Stevie, meskipun kota tua tetapi kota ini mengadaptasi konsep kota modern, kota-kota dunia. Pajak di negara ini terhitung rendah, sehingga menarik para pengusaha untuk mendirikan kantor di kota ini. Meskipun bangunan disini terbangun dengan saling berhimpitan, tetapi konsep arsitektur bangunan seperti saling melengkapi, dan menciptakan keindahan tersendiri. Detail arsitekturnya tidak begitu rumit." Cassandra juga mengamati bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya.
Berada di kota Zurich, mereka sama sekali tidak bisa melihat keberadaan rumah penduduk. Hampir semua bangunan di tempat itu merupakan bangunan perkantoran, tetapi tertata dan terkonsep indah, sehingga tidak membuat jenuh mata yang memandang.
"Kita jalan kesana yukk kak, Altezz mau digendong atau tetap berada di stroller saja.." Stevie mengusulkan untuk melihat ke bangunan yang ada di ujung jalan. Tampak sungai yang mengalur jernih, tampak ikut memperindah kota itu.
"Ayukk... Altezz tetap di stroller saja. Biasanya Altezz malah jalan sendiri jika berjalan di sekitar mansion. Tapi karena ada trem, dan lalu lintas kendaraan, biar saja Altezz tetap di dalam stroller. Lebih mempermudah kita untuk mengawasi Altezz.." Cassandra tetap mendorong stroller.
Kedua perempuan muda segera berjalan menyusuri pinggir sepanjang sungai Limmat. Untung saja pemerintah kota Zurich, telah membangun pedestrian yang cukup lebar sehingga bisa mengakomodasi pejalan kaki yang ingin menikmati keindahan arsitektur kota. Ternyata tidak hanya mereka yang berjalan-jalan di pinggiran sungai itu, banyak pula para wisatawan yang juga sedang melakukan hal yang sama.
"Kak Sandra.., bagaimana kalau kita naik kapal umum itu untuk berkeliling kota kak. Sepertinya mengasyikkan.." melihat banyak pengunjung yang naik ke atas kapal yang melintas di sungai itu, Stevie mengajak kakak iparnya.
"Jangan begitu Stevie.., aku tidak mau melanggar batas bawah kesabaran kakakmu. Kita harus berterima kasih pada kak Andre, karena sudah mengijinkan kita untuk berjalan-jalan. Tetapi jangan jugalah kita melanggar batas, karena aku yakin kakakmu tidak akan menyukainya, dan tidak bisa untuk berhenti merasa khawatir jika melihat kita naik transportasi umum tanpa pengawalan darinya.." untungnya meskipun sudah mendapatkan kebebasan, Cassandra masih mengingat bagaimana sikap suaminya.
"Benar juga kak, maafkan Stevie.. hampir saja jiwa bar bar Stevie ketika di SIngapura kembali muncul disini. Karena petualangan seperti ini sangat menarik, sampai aku lupa jika punya kakak kandung, seotoriter Andreas Jonathan.." dengan malu, Stevie menanggapi perkataan kakak iparnya.
Cassandra hanya tersenyum, kedua perempuan muda segera berjalan kembali menyusuri pedestrian di sepanjnag sungai, sambil tetap mendorong stroller Altezaa.
**********