CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 124 Kenyataan Pahit



Tatapan Andreas Jonathan seperti menghujam dan menghipnotis Stevie. Sesaat gadis itu terdiam dan beradu pandang dengan laki-laki itu, ada rasa ketakutan namun ada rasa perlindungan yang dirasakan Stevie ketika berandu pandang dengan Andreas Jonathan. Di samping suaminya, Cassandra melihat lembut pada perempuan berpenampilan seperti laki-laki itu. Tidak lama kemudian, Cassandra berjalan ke depan kemudian memegang bahu Stevie, dan gadis itu tidak menolaknya, namun hanya melihat apa yang dilakukan Cassandra dengan kaget.


"Apakah namau Stevie.. cantik, putra dari mama Sheilla..?" tiba-tiba Cassandra bertanya lembut pada gadis tomboy itu.


Mendengar kata-kata yang ditanyakan Cassandra, Stevie merasa terkejut. Gadis itu memundurkan kakinya ke belakang, namun dengan cepat Cassandra mengikutinya, dan masih menatapnya dengan senyuman di wajahnya. Melihat keteduhan wajah dan sikap Cassandra, Stevie malah tidak mampu berkata apa-apa.


"Jangan takut Stevie.. kami datang tidak untuk berbuat atau berperilaku jahat kepadamu, Kami datang untuk membuka simpul keruwetan di masa lalu. Kenalkan ini adalah kakakmu Andreas Jonathan.. kamu mungkin baru kali ini mendengar namanya cantik.., kenalkan dengan kakakmu. Dan aku Cassandra, kakak iparmu, sedangkan bayi mungil ini adalah keponakanmu Altezza,." dengan ramah, Cassandra melanjutkan penjelasannya.


"Kalian jangan mencoba untuk menipuku, untuk membuatku bingung..  Aku anak tunggal dari mama Sheilla dan papa bejatku Armansyah.. Jangan coba-coba untuk berlaku bohong kepadaku.." Stevie yang tidak mengetahui apa-apa berteriak menolak penjelasan dari Cassandra.


"Sabar.. sabar Miss Stevie.., mungkin cara yang tepat untuk mengetahui dan membuka semuanya, ada pada mamamu Nyonya Sheilla. Kita semua datang dengan niat baik. untuk mengurai semuanya, dan kita semua juga tidak pernah menginginkan hal ini semua terjadi. Kakakmu tuan muda Andreas Jonathan adalah korban, juga dirimu Stevie.. Pertemukan kami dengan mamamu, Mrs. Sheilla." tidak diduga, Alexander mendekat pada gadis itu, kemudian menyandarkan kening Stevie ke dadanya.


Mungkin gadis itu membutuhkan sandaran, atau membutuhkan teman untuk melepaskan kerisauannya. Stevie tidak melakukan penolakan, ketika keningnya bersandar di dada laki-laki itu. Alexander mengusap punggung Stevie beberapa kali, dan Cassandra tersenyum melihatnya, dan berpikir jika memang sudah saatnya anak muda itu memiliki punggung untuk diusap dan ditenangkan.


"Aku akan bertanya dulu pada mama.. maukah anda semua menunggu disini.." beberapa saat kemudian, setelah Stevie bisa menguasai perasaannya, akhirnya gadis itu membuka mulut.


Cassandra tersenyum dan menganggukkan kepala, namun Andreas Jonathan masih menatap tajam pada gadis itu. Sepertinya anak muda itu masih menolak kehadiran Stevie.., belum bisa menerima jika memiliki seorang adik sebesar itu. Antara rasa haru, bahagia, atau rasa sedih, laki-laki itu tidak bisa mendeskripsikannya.


"Stevie.. apakah tidak sebaiknya kita bersama-sama menuju ke kamarmu.. Hal itu untuk menjaga agar kita tidak menjadi tontonan bagi orang lain. Kita bisa menyelesaikan masalah kita di dalam kamar di apartemenmu, sehingga orang yang memang tidak berhak tahu, juga tidak mencuri dengar atau mengetahuinya dengan tidak sengaja." tiba-tiba Alexander mambuat usulan,


Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Stevie menganggukkan kepala. Akhirnya beberapa orang mengikuti Stevie naik ke atas, dengan menggunakan lift tua yang tidak terawat, dan terlihat sangat kotor. Beberapa kali dengan proteksi, Alexander memerintahkan para pengawal untuk mendisinfektan jalan yang mereka lalui untuk menuju ke kamar tempat Nyonya Sheilla berada. Tidak ada yang bicara di sepanjang perjalanan, semuanya diam dalam pikiran mereka masing-masing. Alexander terlihat berdiri di samping Stevie seakan memberikan perlindungan pada gadis itu.


************


Seorang perempuan paruh baya yang terlihat kurus, dengan sisa-sisa kecantikan di wajahnya tampak menatap orang-orang yang datang bersama dengan putrinya. Namun rasa sesak seperti menyergap perasaan Mrs. Sheilla ketika matanya bertatapan dengan Andreas Jonathan. meskipun mereka sudah sangat lama tidak pernah bertemu, namun sepertinya tali pati seorang ibu dan anak, tidak pernah terputuskan oleh waktu dan jarak.


"Stevie.. siapa yang kamu bawa ke dalam ruangan ini sayang.. Kenapa kamu tidak bilang apa-apa sebelumnya pada mama, jika kamu akan membawa banyak tamu ke ruangan ini.. Ayo. semuanya duduk.., duduk.." dengan terbata-bata karena gugup, Mrs. Sheilla mempersilakan tamunya untuk duduk.


Dengan sinis, Andreas Jonathan menatap sofa lusuh yang disiapkan untuk mereka duduk disitu. Namun untungnya meskipun barang-barang yang di dalam ruangan itu terlihat kumuh dan lusuh, namun semuanya dalam keadaan bersih. Perlahan dengan perasaan jijik, Andreas Jonathan membantu istrinya Cassandra, dan mengambil Altezza dari gendongan istrinya untuk duduk di sofa tersebut, Alexander kemudian mengikuti tuan muda dan nona mudanya untuk duduk di atas sofa.


beberapa saat, suasana hening kembali terjadi dalam ruangan tersebut. Andreas Jonathan seperti kehilangan kata-kata, untuk mengeluarkan suara bertanya apakah benar ada hubungan darah antara dirinya dengan perempuan paruh baya di depannya itu.


"Selamat siang mama.. maafkan atas kelancangan kami semua, yang sudah bertamu ke apartemen mama, tanpa pemberi tahuan sebelumnya. Dan harapan Sandra, mama tidak melupakan seseorang, yang seharusnya tidak mama lupakan.." dengan suara lirih, akhirnya Cassandra membuka pembicaraa. Andreas Jonathan terkesiap, dan laki-laki itu memandang istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Apa maksud kata-katamu gadis.. siapakah kalian ini, dan siapa juga bayi yang lucu ini.." Mrs. Sheilla masih terlihat bingung, apalagi mendengar Cassandra memanggilnya dengan sebutan mama. Ada rasa hangat mengalir di sudut hati Mts. Sheilla.


"begini mama, memang sebaiknya kita tidak perlu berpanjang lebar dalam kebingungan ini. Apakah mama Sheilla masih ingat dengan seorang bayi laki-laki bernama Andreas Jonathan, putra dari tuan besar Wijaya, yang sudah berpisah dengan mama selama dua puluh delapan tahun yang lalu." tidak mau terlalu banyak waktu terbuang, akhirnya dengan to the point, Cassandra bertanya pada perempuan paruh baya itu.


Terlihat ekspresi dan reaksi kaget terlihat di wajah perempuan paruh baya itu. Tidak lama kemudian air mata tampak meleleh dan keluar di pipi perempuan tua itu.


"Kalian ini siapa, kenapa kalian mengingat kenangan lama yang selalu menghantuiku hidupku selama ini. Kala itu, aku tidak mampu, dalam keadaan hamil Stevie.. aku tidak bisa menahan ancaman dari seorang perempuan, pacar suamiku kala itu. Dan ketika perempuan itu membawaku keluar dari rumah itu, dan meninggalkanku di jalanan, aku tidak bisa berbuat apa-apa, dan memang sudah saatnya aku harus mengalah." tiba-tiba Mrs. Sheilla membuka kenyataan, dan perempuan itu menangis sesak.


"Aku tidak mampu menolaknya kala itu, dan ketika suamiku datang menemuiku dengan membawa surat ceraipun, aku hanya bisa menerimanya dengan ikhlas, dengan tangisan aku meninggalkan kota itu. dan tuduhan salah mereka terhadapku, akhirnya memisahkanku dengan putraku Andreas Jonathan.." kata-kata yang terucap dari bibir Mrs. Sheilla laksana petir yang menyambar hati seorang laki-laki, Andreas Jonathan.


*********