
Dari dalam ruang kerjanya, Alexander mendengar keributan di ruang kerja Cassandra. Merasa penasaran, laki-laki itu membuka pintu dan melangkah menuju ke ruang kerja Cassandra. Laki-laki itu terkejut melihat keberadaan Andreas Jonathan, karena tadi pagi laki-laki itu sudah memberi tahunya jika tidak akan berangkat ke kantor. Tetapi tiba-tiba saja, CEO itu sudah berada di ruang kerja Cassandra, dan terlihat sedang menikmati bento box.
"Tuan muda.. apakah aku tidak salah lihat.. Sejak kapan tuan muda doyan makanan anak kecil seperti itu.." dengan penuh keheranan, Alexander bertanya pada Andreas Jonathan.
CEO itu tidak menjawab, malah membawa food box masuk ke dalam ruangannya. Ketika Alexander menatap Cassandra yang memang tidak tahu apa yang terjadi dengan tuan mudanya, hanya mengangkat kedua bahunya ke atas. Alexander tersenyum, kemudian mengikuti Andreas Jonathan masuk ke ruang kerja laki-laki itu.
"Apa yang terjadi dengan tuan muda.., dan darimana makanan anak kecil itu.." dengan perasaan ingin tahu, Alexander mengejar pertanyaan pada tuan mudanya itu. Tidak biasanya, tuan muda yang sudah sejak kecil dikenalnya itu, doyan dengan makanan yang sedang dimakannya itu. Biasanya, laki-laki itu sangat selektif dan sangat pemilih jika berhubungan dengan makanan yang akan dikonsumsinya.
"Akhirnya makan juga aku kali ini.." sambil melempat box kosong ke tempat sampah, Andreas Jonathan mengambil minuman yang sudah disiapkan Jarwo di atas meja.
Alexander hanya melihat apa yang sedang dilakukan oleh CEO perusahaan itu. Bukannya duduk di atas meja, mencermati dokumen yang ada di meja, Andreas Jonathan malah menyelonjorkan kaki duduk di atas sofa. Dengan penuh tanya, Alexander hanya menatap tuan mudanya dengan perasaan ingin tahu.
"Alex.. siapa tadi malam yang membawaku masuk ke rumah..?" teringat perkataan Tuan besar Wijaya, tiba-tiba Andreas Jonathan bertanya pada laki-laki itu.
"Saya dan Iwan yang membawa tuan muda ke dalam rumah, tetapi di ruang tengah ternyata sudah ada tuan besar Wijaya dan Nyonya besar Sandrina. Akhirnya tuan besar yang memapah tuan muda masuk ke dalam kamar. Saya baru akan bertanya pada tuan muda, kenapa tuan muda merahasiakan keberadaan nyonya besar dan tuan besar pada saya.." jawaban yang diucapkan Alexander, ternyata sama dengan apa yang dikatakan papanya tadi pagi.
"Jika aku tahu, papa dan mama datang ke Jakarta, aku pasti sudah pergi dari kota ini Alex. Kamu mengenalku dengan baik bukan.. dan perbincangan apa yang selalu dikatakan oleh papa dan mama ketika mereka bertemu denganku. Jangankan perbincangan rasa kangen orang tua yang lama berpisah dengan putranya, pasti hanya tuntutan-tuntutan lain, yang bagiku tidak penting.." sambil memejamkan mata, Andreas Jonathan yang masih merasa sedikit pusing tanpa sadar mengutarakan kekesalannya.
Alexander berpikir sejenak, dan laki-laki itu menuju pada satu nama yaitu Jennifer. Alasan Andreas Jonathan mengalokasikan sumber daya untuk membesarkan nama Jennifer di kancah industri film, karena tuntutan dari Nyonya Besar Sandrina. Dan tanpa diminta, gadis itu dengan rela menyerahkan semua kehormatannya pada tuan mudanya. Hanya saja, sampai selama ini tuan mudanya belum memiliki keinginan untuk berkomitmen, dan hanya menganggap Jennifer sebagai perempuan mainan saja.
"Hal ini sepertinya ada kaitannya dengan nona Jennifer ya tuan muda.. Apakah apa yang saya katakan itu benar.." Alexander langsung menebak hal yang membuat pusing tuan mudanya.
"Bukk.." bukannya menjawab, Andreas Jonathan malam melempar bantal kursi ke arah Alexander.
Alexander tersenyum, kemudian laki-laki itu melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu. Tuan mudanya hanya butuh istirahat.
***********
Senayan City Mall
Untuk mengobati kekecewaan yang dirasakan Jennifer, Nyonya besar Sandrina mengajak gadis itu untuk menemaninya shopping di mall yang khusus menjual barang-barang branded itu. Dengan cepat, mendapat tawaran itu, Jennifer merasa kembali mood baiknya. Tanpa mengajak tuan besar Wijaya, nyonya besar Sandrina meminta sopir untuk mengantar ke Senayan City mall.
"Baik nyonya besar, itu new arrival dari Hermes. Dari sales marketing nya mengatakan, jika tas itu limited edition, dan hanya ada tiga buah yang ditawarkan di Indonesia. Saya akan segera mengambilnya," dengan ramah, karena mengetahui jika yang datang adalah istri pengusaha konglomerat, dan satunya adalah artis terkenal, pelayan itu segera memenuhi permintaan Nyonya besar Sandrina.
Dengan wajah berbinar, Jennifer mencermati tas burgundy itu. Tangannya masuk ke dalam tas, kemudian membolak balik tas, yang banyak dihiasi oleh batu swarozky pilihan di sekelilingnya. Setelah puas mencermati, Jennifer mengenakan tas itu di tangannya..
"Cantik sekali Jenni tas itu di tubuhmu.., ambillah sayang. Tante yang akan membayarnya untukmu.." Nyonya besar Sandrina menawarkan pada gadis itu.
"Oh iya Nyonya besar.. nona Jenni.. selain tas, Hermes juga mengeluarkan sepatu yang dipasangkan dengan tas ini. Jika nyonya besar dan Nona berminat untuk melihatnya, saya tidak keberatan untuk mengambilnya di dalam." melihat minat besar dari kedua perempuan itu, pelayan menawarkan sesuatu yang lain.
"Kenapa mesti bertanya.., bawa kesini barang itu, cepat.." dengan tegas, nyonya besar Sandrina meminta pelayan untuk membawa sepatu itu keluar.
Tanpa berpikir panjang, pelayan butik segera meninggalkan dua perempuan itu, kemudian masuk ke dalam untuk mengambil sepatu yang bisa dipasangkan dengan tas limited edition itu. Nyonya besar Sandrina melihat koleksi-koleksi tas yang lain. Tanpa perempuan itu sadari, ada sepasang mata yang mengamati keberadaan perempuan paruh baya, kemudian masuk ke dalam mendatangi nyonya besar.
"Jeng Sandrina.. is that you.." perempuan itu menyapa perempuan paruh baya itu dengan ramah,
Mendengar namanya dipanggil, Nyonya besar Sandrina menoleh, dan terlihat teman sosialitanya jika berada di Jakarta, tampak datang menghampirinya.
"Nancy... hai apa kabar.." kedua perempuan itu kemudian saling berpelukan, dan melakukan cipika cipiki.
"Kabarku baik Jeng Sandrina, sedang apa disini. Bukankan di Canada, barang-barang branded ini lebih banyak koleksinya, kenapa malah mencari di Jakarta.." mengetahui jika lawan bicaranya, sudah lama berada di Canada, Nancy bertanya.
"Bukan untukku Nancy.. itu buat artis ibukota,, Jennifer." Nyonya besar Sandrina menunjuk ke arah Jennifer yang masih mengamati tas yang ada di tangannya itu.
"Wow.. hunting menantukah.., sampai membawa nona Jennifer bersamamu. Gimana sudah ada kecocokan belum nona Jennifer dengan tuan muda Andreas Jonathan. Jika belum ada kecocokan, bisa nih kapan-kapan dikenalkan juga dengan putriku. Kebetulan minggu depan akan kembali dari Victoria, Australia, karena studinya sudah selesai, dan ingin menghabiskan waktu sementara di Jakarta." dengan wajah berbinar, Nancy menawarkan putrinya.
"Bisa diaturlah nanti.. untuk saat ini biar Jennifer yang mendekati putraku terlebih dulu.." sahut Nyonya besar Sandrina mengalihkan pembicaraan.
*********