CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 85 Otorisasi



Dokter kemudian memberikan penanganan standar minimal dulu, sambil menunggu Tutik selesai membayarkan uang jaminan. Namun meskipun standar minimal, pelayanan yang diberikan di rumah sakit ini masih melebihi pelayanan rata-rata di rumah sakit lainnya. Tutik bergegas meninggalkan kamar perawatan, dan bergegas dengan membawa dompet Cassandra, menuju ke ruang untuk mengurus keuangan pembayaran uang jaminan pasien.


"Selamat pagi mbak.. ada keperluan di ruang apa ya..?" seorang security menghampiri Tutik yang terlihat kebingungan.


"Mmmm... ini pak, saya diminta teman saya untuk membayarkan uang jaminan perawatan di rumah sakit ini, bagaimana ya pak caranya." dengan senyum malu, Tutik menjawab pertanyaan petugas security tersebut.


"Baik mbak.., mbaknya bisa datang ke loket yang ada di ujung. Loket itu khusus melayani pasien yang akan dilakukan tindakan dokter, dan diminta untuk menitipkan sejumlah uang tertentu untuk jaminannya." security muda itu menunjukkan loket yang berada di paling ujung ruangan.


"Baiklah pak terima kasih..." Tutik segera menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh security tersebut. Untungnya pada loket tersebut, tidak terlihat ada antrian sehingga Tutik langsung menuju ke depan, dan seorang petugas mendatanginya.


"Apa yang bisa kami bantu mbak.." dengan ramah, petugas loket menanyakan keperluan.


Tutik menjelaskan apa yang tadi diperintahkan Cassandra, dan dia juga mendengarkan sendiri apa yang dikatakan oleh dokter pada Cassandra. petugas loket itu tersenyum,.


"Baik mbak, mau bayarnya cash atau cashless ya. Jika menurut saya sih, karena uang jaminan yang harus dititipkan senilai lima belas juta rupiah, ada baiknya dibayarkan secara cashless.." dengan ramah petugas jaga menjelaskan.


Tutik tidak menjawab, namun kemudian membuka dompet Cassandra. Hanya ada beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah, dan tadi dia lupa menanyakan pada gadis itu, akan menggunakan apa untuk membayar biaya rumah sakitnya. Tiba-tiba pandangan mata Tutik menatap black card yang diberikan Andreas Jonathan pada Cassandra. Karena penampilan dari kartu tersebut, yang terlihat eksklusif mata Tutik tidak mau berpindah untuk memandangnya. Dengan sekali tarik, perempuan itu menyerahkan black card pada petugas tersebut.


"Mbak.. tapi mohon maaf ya sebelumnya. Saya ini hanya orang suruhan, pasien yang membawakan kartu ini ke saya, sedang terbaring di kamar rawat inap. Saya hanya menolongnya saja, jadi jika saya ditanya masalah PIN dari kartu ini, mohon maaf.. saya tidak bisa menjawabnya. Mbaknya nanti bisa tanya pada teman saya jika sudah sembuh ya.." dengan khawatir, Tutik menjelaskan bagaimana posisinya.


Petugas itu kaget ketika memegang black card yang diberikan Tutik, sampai keningnya berkerut. Hanya ada beberapa orang di Indonesia yang bisa memiliki black card, itupun menggunakan prosedur yang sangat rumit, Tetapi perempuan di depannya itu menyerahkan black card itu kepadanya, dengan santai dan seolah tanpa beban.


"Mohon tunggu sebentar ya mbak.., kita akan melakukan konfirmasi sebentar, karena mbaknya tidak bisa memasukkan PIN." terlihat petugas itu seperti memperlama urusan Tutik.


Tutik tidak memiliki pilihan, selain hanya menganggukkan kepala menyetujui perkataan petugas kasir. Sambil menunggu, Tutik kemudian duduk di kursi tunggu yang ada di pinggir dinding pelayanan. Terlihat petugas itu membalikkan badan, kemudian berjalan meninggalkan Tutik sendiri.


*********


Petugas yang ada di keuangan itu bergegas masuk ke dalam, dan menemui atasan yang bertanggung jawab dengan divisi keuangan rumah sakit Medika. Perempuan itu menceritakan apa yang baru saja dialaminya, kemudian memberikan black  card itu pada atasannya.


"Makanya itu pak, saya tidak berani untuk melakukan swipe apalagi melakukan scanning, khawatir jika terdeteksi oleh pemilik akunnya." petugas pelayanan customer menjelaskan.


"Minta identitas diri dari pasien yang akan dijamin dengan black card ini mbak. Karena kita juga harus hati-hati, dan nanti kita bisa contact bank penerbitnya untuk dilakukan klarifikasi." kepala bagian keuangan berusaha untuk mencari aman.


"Baik pak.." petugas pelayanan itu kemudian kembali keluar dari ruang kepala bagian.


Petugas itu kembali berjalan menuju ke depan loket, dan setelah melihat customer yang tadi menunjukkan black card tersebut sedang duduk, petugas itu melambaikan tangan memanggil Tutik. Dengan tanpa merasa takut dan ragu karena hanya disuruh oleh Cassandra, Tutik berjalan kembali mendekati loket.


"Mbak.. apakah mbaknya ini yang bernama Cassandra?" dengan suara hati-hati, petugas pelayanan bertanya pada Tutik.


"Hadeh mbak.. apakah saya harus mengulanginya sepuluh kali. Mbak Cassandra saat ini sedang mempertaruhkan nyawanya di ruang perawatan, karena diperkirakan akan dilakukan operasi caesar. makanya saya diminta untuk membayarkan uang jaminan, sehingga mbak Sandra bisa segera dilakukan operasi." dengan nada nyolot, Tutik berbicara dengan nada keras.


"Bukan begitu mbak, saya disini hanya pelayan yang harus melaksanakan tugas yang disampaikan atasan saya. Jika mbaknya bukan yang bernama Cassandra, apakah mbaknya memiliki kartu identitas mbak Cassandra. Karena tanpa adanya pihak yang namanya ada di dalam black  card, kami tidak diperkenankan untuk swipe dan melakukan otorisasi sembarangan." masih dengan sopan, petugas itu menjelaskan pada Tutik.


Tutik tidak menjawab, perempuan itu kemudian mengambil dompet Cassandra, kemudian mengeluarkan KTP dari dalam dompet, dan menyerahkannya pada petugas yang memintanya.


"Terima kasih atas kerja samanya mbak, saya akan lakukan otorisasi penggesekan kartu. Nanti setelah mbak Cassandra sudah pulih, nanti bisa membantu kami untuk memasukkan nomor PIN kartu tadi." petugas itu kemudian berjalan meninggalkan Tutik, untuk kembali menemui kepala bagian keuangan.


"Ini pak, kartu identitas mbak Cassandra. Namanya sama persis dengan yang tertera di black card, apakah bisa saya swipe kartunya bapak, dan untuk PIN kita menanyakan pada mbak Sandra setelah yang bersangkutan sudah ditangani." petugas itu meminta jawaban kepastian dari atasannya.


Kepala bagian keuangan itu juga diselimuti berbagai pertimbangan. Namun di satu sisi, yang dihadapinya saat ini terkait dengan nyawa manusia, sehingga harus segera mengambil keputusan yang cepat. Setelah mengambil nafas dalam..


"Baiklah swipe saja kartunya mbak.., nanti jika ada resiko di belakang, saya siap untuk menanggungnya. Tidak mungkin kita akan menelantarkan pasien yang sudah ada di ruang perawatan. Karena sebelum ada uang jaminan ini, pasien belum akan dilakukan tindakan lanjutan." akhirnya dengan sedikit berat hati, kepala bagian keuangan mengijinkan bawahannya untuk melakukan otorisasi.


"Siap pak, saya kembali ke depan.." petugas loket itu kemudian kembali ke depan, tempat dimana Tutik sudah menunggunya sejak tadi dengan pikiran penuh tanda tanya.


********