
Nyonya Sheilla dan Tuan Wijaya saling berpandangan, kedua orang tua itu seakan tidak percaya dengan apa yang diputuskan oleh mereka sesaat yang lalu. Namun.. tidak mungkin mereka akan menganulirnya, mereka sudah sepakat untuk memberi restu, dan akan segera menikahkan putri mereka Stevie dengan asisten pribadi putra pertama mereka. Beberapa saat kemudian, tuan Wijaya melakukan panggilan pada Andreas Jonathan putra mereka, untuk memberi tahukan tentang rencana besar dalam keluarga Wijaya.
"Tut.. tut.. tut..." suara panggilan keluar terdengar dari ponsel tuan Wijaya. Beberapa saat laki-laki itu menunggu, karena belum ada nada panggilan diterima. Laki-laki tua itu sampai harus mengulangi panggilan lagi, dan setelah panggilan keluar yang ketiga, barulah ada nada diterima dari seberang telpon.
"Ya papa..., what happend...?" nada bariton khas suara Andreas Jonathan menyapa papanya dari panggilan telpon.
"Hmm.. untung saja kamu segera menerima panggilan ini Andre.. Bagaimana, apakah kalian sudah sampai di Switzerland.. dan Altezz, apakah anak laki-laki cucuku itu dalam keadaan sehat.." sebagai basa basi tuan Wijaya, menanyakan kabar keluarga putra sulungnya.
"Masih di Frankfurt pa.., kami berencana dua hari alan stay dulu di negara ini, untuk menghilangkan jet lag dan juga rasa pegal dalam perjalanan. Lusa baru kami berencana untuk melanjutkan perjalanan menuju negara Switzerland. Altezz baik-baik saja, dan anak itu menikmati sekali perjalanan. Seperti tahu jika kedua orang tuanya sedang menghadapi suatu masalah, jadi tidak rewel dalam perjalanan." Andreas Jonathan menceritakan keadaan mereka.
"Baguslah kalau begitu Andre.. Begini, ada hal yang ingin papa dan juga mamamu ingin sampaikan kepadamu, kepada kalian beserta istrimu Cassandra. Alexander dan Stevie sudah sepakat, dan setuju untuk melakukan pernikahan Andre.., dan aku juga mamamu bingung bagaimana akan melakukannya. Apalagi kamu juga tahu sendiri, keadaan keluarga kita juga baru dalam keadaan gawat, akan sangat riskan jika kita menyelenggarakan sebuah perhelatan.." akhirnya tuan Wijaya masuk ke dalam pokok permasalahan yang akan mereka bicarakan.
"Syukur.. syukur yang tidak terhingga papa.. akhirnya Alexander sudah memutuskan untuk menikah dengan Stevie, Papa.. untuk apa sih sebenarnya perhelatan besar, haruskah itu diadakan.. Lihat Andre dan Sandra pa.., kami tetap bahagia menjalani hari-hari kami, meskipun papa tahu bagaimana pernikahan kami dilaksanakan. Bukan dimana, dan seberapa besar acara itu diadakan pa, yang akan menentukan kebahagiaan pasangan suami istri dalam mengayuh biduk sebuah perkawinan. tetapi bagaimana antara kedua pasangan, bisa saling memahami, saling mengerti hubungan antara keduanya.." mendengar kata-kata dari putranya terakhir, tuan Wijaya merasa tertotok dan tersindir. Tetapi saat ini, bukanlah saatnya mereka untuk larut dalam penyesalan, atas apa yang sudah terjadi di masa lalu.
"Hmm... papa setuju dengan apa yang kamu katakan Andre.. Barusan papa, juga sudah menyampaikan pada mamamu.. By the way.. untuk acara pernikahannya, kapan hal itu akan bisa dilaksanakan. Karena bagaimanapun, kamu adalah kakak kandungnya, dan Alexander adalah teman baik, dan juga asisten pribadimu. Tentunya, mereka akan sangat berharap jika dirimu akan hadir dalam pernikahan itu Andre.." seperti sebuah nada sarkasme, tuan Wijaya balik menyindir putranya.
"Pasti Andre akan datang pa.. atur pernikahan satu minggu dari hari ini. Pasti Andre segera akan meluncur ke Indonesia kembali.. tetapi Sandra dan Altezz untuk sementara akan bermukim dulu di Switzerland, Andre tidak akan bisa membawanya pulang pa.."
"Selalu yang terbaik untuk kalian Andre.., aku juga akan melarangmu membawa menantu dan cucuku untuk pulang. Keadaan di kota ini, masih belum begitu baik.. aku percaya kepadamu." akhirnya ditemukan kesepakatan antara tuan Wijaya dan Andreas Jonathan.
*********
"Sheilla..., apakah ada yang mengganjal pikiranmu saat ini Sheilla. Kamu ini tidak pandai berbohong, meskipun sejak tadi bibirmu selalu bicara jika semuanya baik-baik saja, tidak ada satu apapun. Namun mata jernihmu tidak akan pernah berbohong kepadaku Sheilla.. Aku mengenalmu luar dalam.." tuan Wijaya mencoba menggali apa yang dirasakan oleh perempuan paruh baya itu.
Nyonya Sheilla mengangkat wajahnya, kemudian senyum pahit muncul dan terbit dari bibirnya.
"Aku bisa menebak apa yang berada dalam pikiranmu Sheilla.. jangan pernah merasa sendiri. Masih ada aku Sheilla, Wijaya yang akan selalu menunggumu sampai kapanpun itu. Ikutlah denganku ke Canada, dan biarkan Stevie merajut dan memperdalam hubungannya dengan Alexander suaminya. Mereka harus berlatih bagaimana harus membina sebuah rumah tangga yang baik Sheilla.." tuan Wijaya berusaha masuk menjadi penolong untuk perempuan itu.
"Hmm.. tidak baik Wijaya, ingat jika kita saat ini bukan lagi pasangan suami istri. Kamu ingat bukan, lebih dari dua puluh tahun lalu, kamu telah mengusir dan menceraikanku.." kata-kata nyonya Sheilla kembali mengingatkan kejadian di masa lalu.
Mendengar hal itu, senyuman tuan Wijaya terasa pahit. Tetapi laki-laki itu hanya menelannya saja, dan memang Wijaya mengakui akan kesalahannya di masa lalu, sehingga menerima kembali cemoohan atau hujatan bahkan sindiran dari mantan istrinya itu.
"Sheilla... aku memahami betapa besar kesalahanku di masa lalu, sehingga aku tidak akan memaksamu untuk kembali padaku lagi, Namun.. aku akan selalu menunggumu, sampai dirimu siap untuk bersama kembali kepadaku. Ataupun jika saat itu tidak akan datang, aku akan membawa perasaanku ini sampai ajal menjemputku.. Sheilla.. kamu masih memiliki banyak hak atas asset kekayaanku di luar negeri, meskipun kita sudah tidak lagi bersama, ikutlah denganku ke Canada. Aku akan berbagi hak denganmu Sheilla.." akhirnya dengan nada pasrah, tuan Wijaya kembali berkata-kata.
Nyonya Sheilla kembali berpikir, seperti ada pertentangan dalam hati perempuan paruh baya itu. Kali ini, nyonya Sheilla merasa sendiri, apalagi kedua putranya sudah memutuskan untuk memiliki keluarga sendiri-sendiri. Tidak lama kemudian..
"Baiklah Wijaya.. aku akan mengikutimu ke Canada. Tetapi aku ingin kamu berbaik hati sesampainya di negara itu Wijaya, tempatkan aku sendiri tidak satu rumah denganmu. Karena aku tidak mau, kenangan buruk masa lalu kembali datang menerpa kehidupanku.." akhirnya nyonya Sheilla memutuskan untuk mengalah.
Rona kebahagiaan terbit di wajah tuan Wijaya, mendengarkan kabar baik dari mantan istrinya itu. Tidak berpikir apa yang akan mereka lakukan berdua di Canada, tetapi yang penting mereka bisa berangkat bersama.
*********