CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 216 Menyusun Strategi



Tanpa memperhatikan sekeliling, meskipun ditemani oleh dua pengawal, Cassandra dan Stevie terus berjalan. Beberapa saat, Cassandra akhirnya menyadari jika putrnya butuh istirahat, dan mengajak Stevie untuk kembali ke hotel. Memang putra Cassandra dan Andreas Jonathan itu tidak menangis, tetapi tampak kelelahan di wajah anak kecil itu. Untungnya karena selalu mendampingi keberadaan putranya, Cassandra bisa mendeteksi kelelahan yang saat ini dialami putranya.


"Stevie.. kita balik ke hotel yukk.. Altezz sudah lelah, juga untuk jaga-jaga siapa tahu kak Andre dan kak Alex, juga sudah kembali ke hotel setelah bertemu dengan collega.." setelah beberapa saat, dua perempuan muda itu beristirahat di cafe yang ada di lokasi tempatnya berjalan, Cassandra mengajak pulang Stevie.


"Ayo kak.. tanpa sadar memang kita sudah lebih dari dua jam berkeliling, dan berjalan di pinggiran sungai. Eksotika bangunan di kota Zurich ini tanpa sadar sudah membuai dan menyesatkan kita. Sejak tadi kita berjalan-jalan, sama sekali tidak ada kebosanan untuk melihat-lihat. Setiap sudut tempat memiliki nilai arsitektur tersendiri, dan sangat menarik untuk kita pelajari.." Stevie menyambut ajakan kakak iparnya.


Dua perempuan muda itu kemudian berdiri, agar Altezza tidak bosan, Cassandra menuntun putranya. Dengan sigap pengawal yang menemani mereka dalam perjalanan, mengambil stroller kemudian mendorongnya.


"Nona muda.., apakah nona berdua dengan tuan kecil, menunggu di tempat ini saja. Saya akan mengambil mobil dulu, nona muda dan tuan kecil naik dari sini, Jack akan tetap disini menemani nona muda berdua.." karena mobil diparkir di tempat yang agak jauh, salah satu pengawal menawarkan diri untuk mengambil mobil.


"Hmm... begitu juga bagus.. Tommy.. pergilah, kami akan menunggumu di tempat ini.." menimbang putranya yang bisa cepat merasa lelah karena berjalan jauh, tanpa berpikir Cassandra langsung mengiyakan.


"Baik nona muda.., Jack, aku akan ambil mobil. Jangan lelah, perketat penjagaan, aku akan membawa mobil ke tempat ini.." sebelum berlari, Tommy memberi tahu pada Jack.


"Okay.." Jack langsung memposisikan dirinya di tengah nona-nona muda dan tuan kecil yang dikawalnya. Agar pengawasannya lebih akurat, stroller di letakkan dulu.


Dua perempuan muda itu masih mengarahkan kamera ponsel untuk mengabadikan arsitektur kuno tetapi bergaya modern itu. Hal itu menjadi salah satu bukti, jika Zurich merupakan tempat atau lokasi yang sudah maju sejak dulu. Sentuhan modern pada bangunan tidak hanya berada di sekitar mereka berada saat ini, tetapi di setiap sudut tempat di Zurich semuanya menunjukkan konsep modern dan tertata. Bahkan ada bangunan gereja, yang sebagian tembok hanya berupa batu bata yang tidak ditutup semen, tetapi malah terlihat artistik.


"Bagaimana nona muda, apakah puas berjalan-jalan di kota Zurich nona..?" Jack yang sejak tadi memperhatikan ada sorot kekaguman pada dua perempuan muda itu, bertanya untuk mengisi kesunyian.


"Luar biasa Jack.., kami berdua betul-betul kagum dengan arsitektur kota ini. Semua tertata rapi dan tidak acak-acakan, dan melihat kantor dari berbagai negara berada di kawasan Zurich ini, menandakan jika kota ini memang menarik, dan juga memiliki daya tarik tertentu." Cassandra yang memang sudah lebih akrab dengan pengawal itu, menanggapi pertanyaan dari laki-laki itu.


Jack yang asli berasal dari negara Swiss, tentu saja bangga ketika ada yang memuji tentang bagian dari negaranya itu. Hampir semua pendatang yang pernah bertemu dengannya mengutarakan jawaban yang sama, ketika secara acak Jack menanyakan tentang pertanyaan itu.


*********


"Aku tidak boleh gegabah bertindak di kota ini, malah bisa-bisa aku berakhir di penjara. Keamanan di kota ini sangat ketat, dan aparat kepolisian tidak akan segan untuk menindak tindak kejahatan di kota ini." Armansyah berpikir sendiri. Kedua mata laki-laki itu terus mengamati keberadaan Cassandra dan Stevie.


"Padahal jika ini ada di kota lain, atau bahkan di negara lain, akan mudah untukku menculik putra dari Andreas Jonathan itu. Milliaran uang akan mudah untuk kita dapatkan dengan menyandera putra laki-laki sombong itu.. Tetapi apalah daya, apalagi saat ini aku juga hanya sendiri saja. Semua berada di apartemen Arron, dan aku memang hanya berniat untuk mencari mini market saja.." lanjut Armansyah.


Tiba-tiba Armansyah melihat, satu pengawal yang tadi pergi meninggalkan dua perempuan muda itu, sudah kembali dengan membawa mobil. Tampak pengawal lainnya memasukkan stroller ke dalam mobil, dan kedua perempuan muda itu segera masuk ke dalam mobil.


"Hemm..., aku harus mengikuti mobil itu. Paling tidak, aku sudah menemukan jejak keluarga Andreas Jonathan ,dan mengetahui dimana keluarga itu tinggal. Aku tidak menyangka akan menjadi hal yang semudah ini untuk menemukan mereka.." Armansyah berpikir jika Andreas Jonathan dan keluarganya tinggal di kota ini, sehingga laki-laki paruh baya itu terlihat sangat girang.


Melihat mobil yang membawa Stevie dan Cassandra sudah berlalu dari tempat mereka terakhir kali, Armansyah segera mengikuti mobil itu. Laki-laki tua itu dengan sabar dan dengan jeli mengikuti mobil itu, tidak mau kehilangan jejak untuk mengejarnya. Setiap belokan selalu diikuti dengan hati-hati oleh laki-laki tua itu, dengan tetap memperhatikan jarak pandang. Cassandra dan Stevie sangat tidak menyadari jika ada sebuah mobil yang mengikuti mereka. Di dalam mobil, kedua perempuan muda itu malah memejamkan mata, karena merasa mengantuk setelah lelah berjalan berkeliling kota.


"Hemm... ternyata keluarga Andreas Jonathan seperti biasa menginap di hotel termewah dan termahal di negara manapun. Hal itu menunjukkan betapa besarnya uang yang dimiliki oleh keluarga itu..." melihat mobil yang disopiri oleh pengawal ANdreas Jonathan berhenti di Baur Au Lac Hotel, Armansyah bergumam sendiri.


Laki-laki tua itu menghentikan mobilnya di pinggir jalan, tidak berani untuk mengikuti mobil yang membawa dua perempuan muda itu masuk ke dalam area hotel. Armansyah juga tahu, jika kamera CCTV akan mudah mendeteksi keberadaannya, jika dia tetap nekad masuk ke dalam.


"Aku dan anak-anak akan menyamar masuk ke hotel ini saja. Langkah pertama adalah kami harus menyewa mobil mewah, agar layak untuk masuk hotel ini dan mengelabui pengawal." dalam hati, Armansyah berpikir dan menyusun strategi.


*********