
Di pusat kota Inter Laken
Mengingat kebutuhan utama yang akan dicari Stevie adalah perlengkapan komestik, akhirnya Alexander membawa istrinya ke Swiss Luxury Beauty. Begitu pasangan suami istri itu masuk ke dalam, pandangan Stevie langsung berbinar. Di pusat kecantikan mewah Kirchhofer Swiss, Stevie dapat melihat rangkaian pilihan merek kosmetik kelas atas. Semua produk dari wewangian, perawatan kulit, dan produk makeup semuanya tertata dengan artistik dan memudahkan konsumen untuk memilih produk yang disukainya. Melihat pasangan suami istri itu, seorang pramuniaga berjalan mendekati mereka,
"Selamat datang di Swiss Luxury Beauty, saya bisa membantu nona dan tuan untuk menemukan produk yang diinginkan. Anda berdua juga bisa memilih bilik ruang dan merasakan perawatan kami yang menampilkan produk terkenal dari Cellcosmet dan Cellmen, dimana produk itu akan merevitalisasi kulit Anda dan memberikan rasa nyaman." pramuniaga itu melakukan promosi pada Stevie dan Alexander.
"Mana yang akan kamu pilih sayang, pramuniaga ini akan membantumu mencari produk mana yang akan kamu cari.." Alexander berbisik di telinga istrinya.
"Mmm.. gimana ya kak, jujur Stevie malah bingung. Selama ini, aku tidak pernah menggunakan make up, aku hanya menggunakan make up dasar saja, bedak tabur, pelembab dan juga lip balm. Jika ditawarkan dengan banyaknya pilihan, aku malah menjadi bingung kak.." bersikap apa adanya, Stevie tidak malu menceritakan dengan polos, sulit menentukan produk yang dicarinya.
"Ha.. ha.. ha.., istriku ini memang paling unik, setelah istri kak Andre.. Baiklah, tunggulah di kursi tunggu, aku yang akan konsultasi untuk menanyakan permasalahan kulitmu. Karena jika aku memintamu untuk konsultasi, kamu pasti malu, dan memilih untuk keluar dari tempat belanja ini bukan.." Alexander memberikan ciuman di pipi Stevie.
Tidak ada pilihan lain bagi Stevie, karena jika diminta untuk menjelaskan permasalahan kulit, atau mengatakan kebutuhan kosmetiknya pada pramuniaga itu, dia pasti tidak akan mau. Untungnya Alexander sangat mengetahui permasalahannya, sehingga laki-laki muda itu yang mengambil alih perannya. Alexander kemudian mengantarkan istrinya duduk di kursi tunggu.
"Tunggulah sebentar disini, jangan kemana-mana.." Alexander segera berjalan meninggalkan istrinya, dan laki-laki itu duduk di depan pramuniaga untuk menjelaskan kebutuhan kosmetik istrinya. Merasa jika istrinya Stevie sangat jarang menggunakan uangnya, Alexander meminta pada pramuniaga untuk menyediakan semua kebutuhan kosmetik perempuan, tetapi dengan tampilan elegan. Dari skin care, sampai make up rias minta untuk disiapkan semuanya.
"Untuk kulit dari istri tuan, masuk ke kategori apa.. Apakah berminyak, normal, kering ataukah kombinasi..? Biar kami sesuaikan produknya dengan kebutuhan kulitnya. Atau jika berkenan, mungkin istrinya bisa diajak kesini tuan, biar kita bantu untuk melakukan pengecekan.." dengan ramah, pramuniaga memberikan pelayanan pada laki-laki muda itu.
"Normal untuk kulit wajah istri saya, jika istriku aku minta kemari. Yang ada malah pembelian kosmetik ini akan menjadi batal.." pramuniaga tersenyum mendengar jawaban ketus Alexander.
"Baik tuan.. akan kami bantu untuk menyiapkannya. Tunggulah beberapa saat lagi... kami tidak akan lama melayani tuan dan istri.." Alexander ditinggalkan sebentar oleh pramuniaga itu, dan memberikan majalah pada laki-laki muda itu untuk mengisi waktu menunggunya.
*******
Di kursi tunggu, terlihat seorang pramuniaga datang menghampiri Stevie, dengan membawakan minuman hangat dan sebuah box berisi makanan. Rupanya merchant memberikan layanan untuk penunggu, dan juga konsumen yang sedang mencari kebutuhan barangnya.
"Silakan dinikmati nona muda.." dengan ramah pramuniaga mempersilakan Stevie untuk menikmati menu yang disajikan.
Tanpa disadari oleh Stevie, di depan perempuan muda itu tampak laki-laki muda yang melihatnya sejak tadi. Melihat keunikan wajah Stevie yang berbeda dengan orang-orang kebanyakan di negara itu, wajah unik Stevie seperti memiliki point of interest. Banyak laki-laki yang sedang sama-sama menunggu di ruangan itu, mencuri pandang kepadanya. Namun sejak tadi, Stevie menghabiskan waktu dengan membuka-buka majalah, sehingga tidak ada ruang bagi laki-laki untuk mendekatinya.
"Hi.. apakah anda dari Asia..?" tiba-tiba laki-laki yang duduk di depan Stevie itu bertanya kepadanya.
Stevie merasa bingung, dan gadis muda itu malah menoleh ke kanan dan kirinya, namun tidak ada yang duduk di sebelahnya. Karena bingung, Stevie malah menunjukkan jarinya ke arahnya sendiri.
"Hmm.. benar Miss, aku bertanya padamu. Wajahmu khas dan unik, jadi aku yakin kamu pasti dari negara-negara yang ada di wilayah Asia.." mendengar kata-kata yang diucapkan oleh laki-laki itu, Stevie menganggukkan kepala.
"Dari mana, Indonesia, MAlaysia, Singapura, atau Thailand... " laki-laki muda itu berhidung panjang itu malah semakin penasaran.
"Indonesia.." jawab Stevie singkat. Gadis muda itu menengok lagi, merasa khawatir jika suaminya ALexander melihatnya sedang berbincang dengan orang asing. Bisa-bisa akan menjadi masalah nantinya, karena suaminya ALexander seperti makhluk satu jenis dengan kakak kandungnya. Sangat pencemburu berat, dan sangat sulit untuk menerima penjelasan darinya jika sudah menyangkut masalah laki-laki lain.
"Oh ya.. kenalkan namaku Smith... aku juga wisatawan disini. Asliku dari Amerika, tepatnya aku tinggal di Canada. Jika diijinkan, mungkin aku diperbolehkan untuk mengenal namamu juga.." laki-laki muda itu mengulurkan tangannya, mengajak Stevie bersalaman.
Mendengar laki-laki muda itu menyebut Canada, Stevie teringat dengan rumah papa dan mamanya di negara itu. Tiba-tiba tidak tahu kenapa, muncul keingin tahuan dari gadis muda itu.
"Canada.. mama dan papaku tinggal di pinggiran kota Ottawa. Apakah anda tahu George Weston Limited, dan Giant Tiger di negara itu.." Stevie menanggapi perkataan Smith.
"Of course.. keluargaku selalu berurusan dengan kedua perusahaan itu untuk memenuhi kebutuhan itu sehari-hari, Bagaimana anda tahu dengan dua perusahaan itu, atau jangan-jangan kamu putra dari tuan Wijaya, pemegang saham terbesar di dua perusahaan itu.." dengan mata terbelalak, Smith mengejar Stevie dengan pertanyaan.
"Really... by the way benar yang kamu katakan Smith. Tuan Wijaya adalah papaku.." sahut Stevie dengan mata berbinar,
Kedua orang itu kemudian asyik berbincang, Stevie yang memang pada dasarnya gadis muda yang suka bergaul, dengan cepat bisa berpadu mengimbangi pembicaraan Smith. Mereka banyak berbicara dan bercerita tentang banyak hal. Bahkan tanpa sadar, keduanya berbincang sambil tergelak, tertawa bersama. Tanpa dua anak muda itu sadari, ada tatapan kemarahan dari seorang laki-laki muda yang tengah menenteng paper bag berisi belanjaan kosmetik. Melihat kedua anak muda itu berbincang dengan seru tanpa menyadari kedatangannya, pandangannya semakin marah.
*********