
Mansion Inter Laken
Cassandra masuk menuju kamarnya, karena baru saja menemani putranya Altezza membacakan cerita sebelum tidur. Sebenarnya suster pengasuh yang masih menemani sampai di usianya saat ini, mau membacakan. Tetapi anak kecil itu menolak, dan meminta mamanya untuk membacakannya. Agar tidak menjadi rewel, dan sudah diijinkan oleh suaminya, akhirnya Cassandra mengabulkan permintaan putranya. Tapi setelah Altezza tertidur, perempuan muda itu segera kembali ke dalam kamarnya.
"Bagaimana honey..., apakah Altezz sudah tidur..?" sebelum masuk ke kamar, cassandra berpapasan dengan Andreas Jonathan.
"Sudah kak.. baru saja. By the way.., jam segini mau kemana kak, apakah mau ke ruang kerja..?" melihat suaminya keluar dari dalam kamar, gadis itu balik bertanya.
"Iya.. manajer divisi mengajak untuk meeting menggunakan video conference. Tidak masalah bukan jika aku tinggalkan sebentar honey... Sepertinya ada konflik kecil di antara mereka, sehingga akan konsultasi dan bertanya dari perspektifku. Sebelum konflik itu menjadi besar, aku harus berbicara pada mereka. Alexander juga ikut join dalam conference kali ini.." Andreas Jonathan menanggapi pertanyaan dari istrinya.
"Oh itu... ga masalah kak. Sandra tidur duluan yah.. tiba-tiba saja mengantuk. Jadi tidak bisa menemani kak Andre malam ini.. Mungkin kebawa suasana menidurkan Altezz tadi, jadi bawaan Sandra ikut mengantuk sejak tadi.." Cassandra malah memanfaatkan hal itu untuk lebih dulu tidur.
"Ga pa pa, tidur nyenyak ya. Sweet dream.." Andreas Jonathan mendekati istrinya, kemudian memberikan kecupan selamat malam pada perempuan itu. Cassandra hanya tersenyum, kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan suaminya. Laki-laki muda itu tersenyum dan melihat istrinya sampai masuk ke dalam kamar, barulah Andreas Jonathan melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kerja.
*********
Sesampainya di kamar, sebelum merebahkan tubuh di atas ranjang, Cassandra mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Hampir seharian, karena menemani Altezz dan suaminya, gadis muda itu tidak membuka ponselnya. Baru kali ini, Cassandra memiliki kesempatan untuk mengecek apakah ada kabar yang masuk. Begitu menggulir layar ponsel, dahi Cassandra berkerenyit ketika melihat ada tiga panggilan masuk dari Sandrina.
"Mama Sandrina melakukan panggilan padaku, apa maksudnya ini. Apakah aku salah menyimpan nomor seseorang, dan memberinya nama mama Sandrina..?" otak perempuan muda itu berpikir sendiri, Beberapa saat tidak ada aktivitas apapun, Cassandra hanya tercengang tidak percaya melihat nomor yang menghubungi ponselnya.
"Perlukah aku menelpon balik mama Sandrina.., tetapi jika itu adalah jebakan bagaimana. Aku dan putraku Altezza akan menjadi hal yang dipertaruhkan, dan pasti kak Andre akan marah jika mengetahuinya. Tapi.. jujur dalam hatiku, kepo juga jika beneran ini nomor ponsel mama Sandrina. Ketika masih bersama dengan papa Wijaya saja, belum pernah sekalipun mama dan aku komunikasi, baik via chat, pesan, apalagi panggilan. Setelah hubungan keluarga pecah, sesuatu yang aneh bukan jika mama Sandrina menelponku.." banyak pertanyaan berputar-putar di pikiran Cassandra,
"Sudahlah aku abaikan saja, aku tidak boleh terlalu positive thinking hingga sampai menelpon balik. Jika memang benar itu mama Sandrina yang melakukan panggilan, aku yakin pasti perempuan itu akan menghubungiku lagi." akhirnya Cassandra berada dalam keputusannya.
"Aku harus segera tidur, sudah malam rupanya. Makanya dari tadi aku menguap terus.." melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 23.00 p.m, Cassandra akhirnya memutuskan untuk tidur. Tetapi sebelum meletakkan ponsel di atas meja, Cassandra membuka aplikasi whattsapps karena ada notifikasi pesan masuk, yang belum sempat untuk dilihatnya.
"Sandra.. ini mama Sandrina.. Maafkan semua kesalahan mama selama ini nak.., tolonglah mama saat ini. Mama terjebak masuk dalam lingkungan yang sangat memprihatinkan, dan hanya dirimu dan Andrelah yang akan bisa melepaskan mama dari tempat ini." membaca satu chat yang dikirimkan mama Sandrina, menjadikan Cassandra menjadi penasaran. Rasa kantuk perempuan muda itu tiba-tiba hilang, dan muncul rasa ingin tahu.
"Mmmm... berarti yang tadi melakukan panggilan, benar-benar mama Sandrina. Buktinya mama mengirimkan chat padaku. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mama Sandrina..?" otak Cassandra kembali berpikir. Perempuan muda itu memutuskan untuk membaca lagi chat yang ada di bawahnya.
"Mama tidak bisa bercerita banyak, karena ruang gerak mama terbatas Cassandra. Di bawah, mama lampirkan share location apartemen tempat mama berada di kota Zurich. Mamah siap untuk mempertanggung jawabkan semua kesalahan mama di masa lalu, bahkan jika Andreas akan menjebloskan mama ke dalam penjarapun, mama akan menerimanya nak.. Itu masih lebih baik, dari pada kenyataan yang akan mama dapatkan, jika mama masih berada di tempat ini..." membaca barisan kata-kata pada chat kedua, mata Cassandra menjadi terbelalak. Tiba-tiba saja, di hati kecil Cassandra muncul rasa iba.
"Ya Tuhan... apa sebenarnya yang terjadi dengan mama... apakah aku perlu untuk memberinya pertolongan. Tetapi aku yakin, kak Andre pasti akan menolak keras permintaanku. Tetapi jika ini hanya kebohongan, aku sendiri yang akan rugi.." kembali Cassandra seperti dilanda kebimbangan, antara untuk memberikan respon balik ataukan mengabaikan chat itu.
Perlahan jari tangan Cassandra menekan google map yang dikirimkan oleh Sandrina, dan dengan jelas terlihat titik keberadaan perempuan paruh baya itu. Hal itu malah menjadikan perasaan Cassandra menjadi semakin bimbang, karena satu sisi hatinya menolak untuk tidak memberikan pertolongan.
"Orang lain saja, mereka tidak minta tolong aku akan memberikan bantuan jika mereka sedang kesusahan. Kali ini, mama Sandrina sampai merendahkan dirinya seperti ini, berarti perempuan itu mungkin benar-benar membutuhkan pertolongan. Bagaimana sikap buruk mama Sandrina, bagaimanapun perempuan itu pernah ikut merawat kak Andre di masa kecilnya, bahkan sampai kak Andre melupakan mama Sheilla sebagai mama kandungnya. Ibaratkan saja jika aku menolongnya, untuk balas budi kebaikan mama Sandrina pada kak Andre..." pikiran Cassandra ingin membantu perempuan paruh baya itu.
"Google map yang dikirimkan juga sangat mudah untuk ditelusuri, aku akan bicara dengan kak Andre. Jika kak Andre sampai menolak, aku harus meyakinkannya, dan bisa mengirimkan pengawal untuk melakukan penyelidikan sebelum membawa mama Sandrina. Hal itu juga untuk melihat, apakah mama Sandrina melakukan kebohongan atau tidak." akhirnya Cassandra sudah menghasilkan keputusan.
Perempuan muda itu kemudian meletakkan ponselnya, dan mengambil majalah sambil menunggu suaminya masuk kembali ke dalam kamar, setelah melakukan video conference. Apapun pernyataan yang akan dikeluarkan oleh suaminya, gadis muda itu sudah siap untuk menjawab dan memberikan suaminya pengertian.
*********