
Nyonya Sheilla hanya tersenyum mendengar perkataan suaminya. Perempuan paruh baya itu merasa jika hatinya sudah tidak lagi merasakan sakit dan perih, ketika mendengar maupun menyebut nama Sandrina. Karena bagaimanapun semua bisa terjadi, karena ijin dari Allah. Menyadari dan melihat keadaannya saat ini, Nyonya Sheilla hanya bisa bersyukur dan berterima kasih atas nikmat yang didapatkannya. Kekejaman yang sudah diskenario oleh Armansyah dan Sandrina di masa lalu seperti sudah lunas terbayar semuanya.
"Pa.. jika papa bertanya padaku, mama sudah mengikhlaskan semuanya pa. Mama ingin melupakan semua, toh.. keadaan sekarang sudah berbalik menjadi seperti ini. Tidak ada yang perlu untuk disesali pa, bahkan jika papa memberikan hak gono gini pada Sandrina, yang memang menjadi haknya, mama juga tidak akan melarangnya. Berikan hak Sandrina pa.., dan semoga semuanya akan menjadi berakhir semua dendam itu.." dengan berani dan lancar, Nyonya Sheilla mengatakan semua pada tuan Wijaya.
"Sheilla... hatimu sungguh baik istriku.., sama dengan istri Andreas Jonathan putra kita. Cassandra juga merupakan perempuan yang baik, yang memiliki hati seluas samudera. Mungkin ada karma baik dalam keluargaku sejak dulu, sehingga keturunannya mendapatkan istri yang berhati baik." dengan terharu, tuan Wijaya menanggapi apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Aku akan mempertimbangkan dulu Sheilla, ada beberapa asset yang memang sudah kusiapkan untuk aku berikan pada perempuan itu. Hanya saja, mengingat kekejamannya saat itu, berani berbohong di depanku hanya karena ingin bersama denganku dengan menyingkirkanmu, membuat hatiku menjadi kembali sakit. Akhirnya niat untuk memberikan bagian gono gini padanya, hilang sudah." lanjut tuan Wijaya berkata lirih.
Nyonya Sheilla hanya tersenyum, dan berusaha mengerti serta memahami suaminya. Laki-laki di sampingnya itu, memang merupakan laki-laki yang selalu tidak bisa menolak, jika ada seseorang siapapun itu meminta pertolongan padanya. Karena kelabilan hatinya itu, ketika Sandrina masuk dalam kehidupannya, dan membuat fitnah pada perempuan itu, tuan Wijaya langsung bereaksi keras. Nyonya Sheilla kembali tersenyum kecut, dan menghela nafas panjang.
"Sheilla tidak akan memaksamu pa.. lupakan. jika memang Sandrina sudah berubah menjadi baik, mama rela dan ikhlas jika papa akan menyerahkan pembagian asset pada perempuan itu. Semoga saja, pembagian asset itu, dapat menjadi modal untuknya memulai hidup baru lagi. Tapi dengan satu syarat, semua kepemilikan harus jelas, keluarkan nama papa pada hak Sandrina. Jika memang harus ada, maka gantikan dengan namaku dalam kepemilikannya." mencium ada aroma cemburu dalam kata-kata istrinya, tuan Wijaya tersenyum.
Laki-laki itu meraih pundak kanan Sheilla, kemudian menarik dan mendekatkan wajah perempuan itu pada dadanya. Laki-laki tua itu tanpa malu, seperti anak muda memperlakukan istrinya dengan sangat manis. Hujaman ciuman diberikan oleh tuan Wijaya ke wajah istrinya, yang tampak memerah malu.
"Sudah pa.., hentikan, saat ini kita sedang tidak ada di rumah. Malu.. jika sampai camera CCTV merekam adegan kita." merasakan suaminya tidak berhenti memberikan ciuman, nyonya Sheilla menolak, Perempuan itu mendorong dada Tuan Wijaya agar menjauh dari dirinya.
"Kamu semakin cantik Sheilla, dengan wajah memerah seperti buah cherry di pipimu.." tuan Wijaya malah semakin ngegombal, laki-laki itu malah berbisik pelan di telinga Nyonya Sheilla.
"Stop it..., sudahlah. Urusan kita sudah selesai bukan, jika sudah kita pulang sekarang. Jangan lanjutkan kegilaanmu di perusahaan ini, aku menjadi risih.." nyonya Sheilla langsung berdiri, kemudian berjalan meninggalkan suaminya. Tuan Wijaya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat perempuan itu berjalan meninggalkannya.
***********
Hari-hari sesudahnya
"Sandra bersyukur mama, papa, akhirnya kita bisa berkumpul lagi seperti dulu. Hanya saja, jika dulu kita berkumpul di Jakarta, kali ini kita berkumpul di Inter Laken negara Swiss. ALtezz menjadi semakin dekat, jika ingin berkunjung ke tempat oma dan opanya, demikian juga auntienya juga tidak jauh bertempat tinggal dari mansion ini.." Cassandra mengucap syukur pada WIjaya dan Sheilla.
Saat ini, dengan ditemani dengan suami dan putranya, Cassandra berkunjung ke rumah baru papa dan mama mertuanya. Stevie juga sudah berada di rumah itu untuk bergabung, dengan ditemani oleh Alexander.
"Iya Sandra.. mama terutama, tidak pernah menyangka di usia tua seperti ini, kebahagiaan hakiki datang menghampiri mama dan Stevie.. Kita bisa bersatu dan berkumpul lagi, bisa menghilangkan kepedihan dari kisah di masa lalu." dengan mata berkaca-kaca, nyonya Sheilla membalas komentar putri menantunya.
Untuk mencegah air mata keluar dari mata mama mertuanya, dengan sigap Cassandra berjalan mendekati perempuan paruh baya itu, kemudian memeluknya erat. Dari tempat duduknya tuan Wijaya dan Andreas Jonathan tersenyum melihat sikap Cassandra.
"Mama tidak boleh terlalu over thinking, semuanya sudah berlalu. Kita tidak boleh mengingat-ingat lagi kejadian buruk di masa lalu, karena hanya memberikan kita kesedihan mama. Lihatlah Altezz, dan sebentar lagi cucu mama juga akan bertambah lagi. Kita doakan semoga saja Stevie dan Alexander, juga segera memberikan momongan untuk kita semua .. mama." kata-kata yang diucapkan Cassandra bisa memberikan penghiburan pada perempuan tua itu.
Nyonya Sheilla segera menghapus genangan air mata dengan tissue yang diambilnya dari meja yang ada di depannya. Kemudian perempuan itu melepaskan pelukan yang diberikan menantunya.
"Ting tong... ting tong..." tiba-tiba bel pintu berbunyi. Semua yang sedang berada di ruang tengah saling berpandangan, karena Altezz dan Stevie serta ALexander sedang berada di halaman belakang., Jadi tidak mungkin, jika yang membunyikan bel pintu adalah salah satu dari mereka.
"Lihatlah keluar Sheilla, siapa tahu tetangga kita di samping rumah yang akan berkunjung ke rumah ini." meskipun ada keraguan, tetapi Tuan Wijaya meminta istrinya untuk membukakan pintu.
Merasa dirinya lebih muda, dengan sigap Cassandra berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu. Perempuan muda itu membukakan pintu, dan betapa terkejutnya Cassandra melihat siapa yang datang. Berada di depannya, Sandrina dan Jennifer dengan paper bag berisi makananĀ di dalamnya. Cassandra malah bengong tidak percaya, dan tidak segera memberikan ijin pada mereka untuk masuk ke dalam.
************