CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 268 Berita Mengejutkan



Di rumah Alexander


Dalam satu harian ini rumah yang ditempati berdua antara Stevie dan Alexander terlihat sepi. Setelah pasangan suami istri itu kembali dari rumah tuan WIjaya dan Nyonya Sheilla, Stevie tiba-tiba saja merasa malas beranjak dari dalam kamar. Perempuan muda itu merasakan pusing hebat, dan rasa mual ingin muntah. Tetapi sudah sampai di wastafel, tidak jadi ada yang keluar dari mulut perempuan muda itu. Alexander terlihat sangat bingung, dan berusaha untuk menghubungi dokter agar datang ke rumah mereka,.


"Minumlah dulu beberapa teguk sayang... siapa tahu jika perutnya mulai terasa hangat, rasa mual akan segera pergi dan menghilang!" dengan penuh rasa khawatir, Alexander memberikan satu cangkir teh manis panas pada istrinya. Stevie menolak, dengan mengangkat satu tangannya ke atas.. Tetapi Alexander malah mendekatkan cangkir tersebut ke bibir istrinya, dan mau tidak mau akhirnya Stevie mencecap dua teguk air teh panas tersebut, Rasa hangat mulai mengalir di kerongkongannya, dan sama seperti yang diucapkan suaminya, ada rasa hangat yang mulai menyebar.


"Kak.. tolong pijat tengkuk Stevie di tempat ini... Rasanya pegal banget, padahal di rumah mama dan papa, Stevie juga tidak melakukan pekerjaan apapun. Tiba-tiba saja, selain rasa mual, pusing, di hampir sekujur tubuh Stevie terasa pegal banget kak.." dengan suara lirih, Stevie kembali menyuruh suaminya,


Dengan sabar, Alexander segera mengambil minyak kutus-kutus yang dibawa mereka dari Indonesia. Dengan telapak tangannnya, laki-laki itu menuangkan minyak oels tersebut, kemudian perlahan mulai mengusap tengkuk dan pundak serta punggung istrinya. Perlahan pijatan pelan mulai memijat tengkuk, pundak dan punggung Stevie.


"Tok.. tok.. tok..., tuan muda.., nona muda.., dokter yang dipesan tuan muda sudah menunggu di ruang tamu. Di tempat mana, tuan dan nona akan menemuinya" tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar. Ternyata ART rumah tersebut memberi tahu jika dokter sudah berada di rumah ini.


"Minta untuk menunggu sebentar suster.." Alexander segera merapikan kembali pakaian atas Stevie yang dibiarkannya terlepas karena untuk dipijatnya. Setelah beberapa saat..


"Tidurlah dulu Stevie.. aku akan menemui dokter dan membawanya untuk ikut masuk ke dalam kamar." setelah memberikan kecupan di kening istrinya, Alexander segera melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar.


Stevie yang ditinggalkan suaminya. kemudian gadis itu berbaring, dan menarik selimut untuk menutupi kaki sampai sebatas pinggangnya. Tangan kanan Stevie, perlahan memijat pelipis kepalanya, sambil menunggu suaminya kembali ke dalam kamar. Tidak berapa lama.., terdengar ketukan pelan di pintu kamar, kemudian Alexander masuk dengan membawa dokter di belakangnya.


'Segera periksa istri saya Dokter Stewart.. aku khawatir terjadi apa-apa padanya.. Karena gejala yang dirasakan mendadak munculnya, karena kami baru saja datang dari berkunjung ke rumah papa dan mama kami.." Alexander segera meminta dokter untuk mendekat pada istrinya.


"Baiklah.., akan saya lihat dulu.." dokter kemudian mengeluarkan stetoskop kecil dan senter dari dalam tas yang dibawanya. Tidak berapa lama, dokter melakukan pemeriksaan rutin untuk membaca gejala awal kesehatan seseorang.


"Ijin saya periksa dulu ya nona.." dokter menyinari kelopak mata dan lidah Stevie, dan juga melakukan pengecekan suhu tubuh perempuan muda itu. Tetapi sepertinya dokter tidak menemukan apa-apa,..


"Untuk keluhannya, tidak ada suhu tubuh yang naik nona.. kemudian mulai dirasakan kapan?" sambil tersenyum, dokter bertanya pada Stevie.


"Hemmm... sebentar ya nona.. tuan.. Tidak perlu panik, tidak ada apa-apa dengan nona Stevie, nona baik-baik saja." dokter segera mengambil sesuatu dari dalam tasnya, kemudian..


"Silakan sekarang juga nona Stevie ke kamar mandi, kemudian buang air kecil, dan tampung dalam sebuah wadah. Celupkan test pack ini, tunggu beberapa menit, kemudian kita lihat hasilnya secara bersama-sama..!" pasangan suami istri itu bengong mendengar kata-kata yang diucapkan oleh dokter. Tetapi keduanya segera berjalan bersama, dan ketika Alexander akan mengikuti Stevie ke kamar mandi, perempuan muda itu mendorongnya. Dokter Stewart geleng-geleng kepala melihat hal tersebut.


***********


Beberapa saat kemudian, Stevie dengan dituntun suaminya berjalan mendekati dokter Stewart yang masih menunggu di sofa, yang ada di dalam kamar mereka. Dengan tangan gemetar Alexander menyerahkan test pack, dan senyuman mengembang dari mulut dokter.


"Silakan duduk dulu tuan Alex, dan nona Stevie.." dokter Stewart meminta pasangan suami istri untuk duduk, dan Alexander segera mengajak istrinya duduk di sampingnya.


"Sebelumnya saya mengucapkan selamat untuk tuan dan nona berdua, istri anda nona Stevie.. sudah mengandung sebuah janin yang untuk berapa usianya, saya belum bisa memastikan. Saya harus membawa peralatan USG untuk memeriksa lebih lanjut. Jika tuan Alex dan nona Stevie menginginkan, saya akan menghubungi tim dalam klinik saya untuk membawakan peralatan itu kemari." mendengar suara Dokter Stewart, pasangan suami istri itu saling memandang dengan tidak percaya. Sampai akhirnya...


Alexander memeluk erat tubuh Stevie yang duduk di depannya, tiba-tiba air mata sudah menggenang di pelupuk mata laki-laki itu. Sedangkan Stevie yang masih belum connect dan on, malah terbengong menghadapi sikap yang ditunjukkan oleh suaminya.


"Stevie sayang... kita akan memiliki bayi sayang... Selamat dan terima kasih, kamu sudah mau hamil anak buah dari cinta kita. Selamat sayang.. dan terima kasih.." dengan suara bergetar, Alexander mengucapkan selamat dan terima kasih pada istrinya. Barulah Stevie tahu dan menyadari apa yang terjadi padanya saat ini. Air mata ikut menggenangi kelopak mata perempuan muda itu.., sampai akhirnya..


"Tuan muda.., nona muda.., cukuplah dulu rasa euforia yang kalian berdua lakukan. Jalan masih panjang, masih cukup waktu untuk mempersiapkan kehamilan sehingga bayi bisa lahir secara normal." suara Dokter Stewart mengejutkan pasangan suami istri itu.


Alexander segera mengalihkan pandangan dari Stevie, kemudian melihat ke arah Dokter Stewart. Terlihat laki-laki itu fokus mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh dokter tersebut. Stevie pun juga melakukan hal yang sama, karena bagaimanapun mereka memang harus mempersiapkan kehamilan  mereka, sampai terlahir dari rahimnya. DOkter Stewart menyampaikan larangan, dan anjuran yang harus dilakukan oleh seorang ibu hamil. Sampai beberapa saat, ketiga orang dewasa itu berbincang.


"Baiklah nona Stevie.. tuan Alex, karena sudah sangat lama saya berada di rumah ini, saya harus kembali ke rumah sakit tempat saya bertugas. Pada kunjungan lain, jika memang kalian berdua tidak ada waktu untuk datang ke klinik, kami dan tim akan berkunjung kemari dengan peralatan yang dibutuhkan," akhirnya Dokter Stewart berpamitan.


*********