
Merasa sudah melebihi waktu lima menit memberikan waktu pada Herlambang untuk bertanya padanya, akhirnya Alexander segera meninggalkan laki-laki muda itu. Alexander segera masuk ke dalam ruang kerja, karena harus memantau sampai dimana persiapan pernikahan yang akan dilakukan secara tertutup dengan Stevie. Setelah kejadian malam itu, dimana Alexander memberanikan diri melamar Stevie di hadapan Nyonya Sheilla dan tuan besar Wijaya, anak muda itu sudah tidak diperbolehkan lagi untuk berjumpa dengan Stevie sampai pada hari H pernikahan. Hal itulah yang menjadikan mood anak muda itu berubah-ubah, apalagi dengan perginya tuan muda Andreas Jonathan ke Switzerland, pekerjaan dan aktivitas di perusahaan harus di tackle sendiri olehnya.
"Hmm.. aku harus melakukan pemantauan, apakah di hari Jum.at pagi, pihak KUA berkenan datang untuk menikahkanku dengan Stevie. Jika tidak bisa, aku akan melakukan nikah siri dulu, karena aku sudah tidak tahan untuk membawa gadis itu untuk tinggal bersamaku." Alexander terlihat sudah tidak sabar, laki-laki itu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Siap tuan Alex.. apa yang bisa kami bantu lagi.." terdengar sapaan dari penerima telpon.
"Jangan mengalihkan fokus pembicaraan kamu Arya.., satu tugas saja belum kamu laporkan bagaimana hasilnya. Terkait tugasmu di KUA, apakah pada hari itu pihak KUA bersedia hadir dalam acara pernikahanku, jika tidak bawa dia atau kamu harus bertugas membawa seorang Kiyai datang dalam acara pernikahanku.." dengan nada agak tinggi, terdengar anak muda memaksakan kehendaknya.
"Semua sudah terkendali tuan Alex, meskipun belum ada jawaban resmi, pihak KUA sudah menunjukkan apresiasi mereka, dan akan datang. Tetapi setelah ini, dengan Rahman, akan kami datangi langsung KUA sekarang juga tuan Alex.. Apa lagi yang bisa saya bantu.." dengan siaga, Arya menjawab pertanyaan Alexander.
"Okay.. bagaimana masalah fitting baju, apakah bisa diatur agar aku bisa bertemu dengan nona muda Stevie sebelum akad berlangsung. Kalian tahu bukan, bagaimana aku hampir mati menahan rasa rinduku pada gadis itu.. Jangan hanya bicara akan kami usahakan tuan Alex, siap, siap.. Aku tidak butuh jawaban, aku butuh aksi nyata dari kalian semua." kata-kata tidak sabaran terdengar dari kata-kata Alexander.
"Jika terkait hal itu, sudah ditegaskan oleh Nyonya besar Sheilla tuan Alex. Sebelum akad nikah berlangsung, nona muda Stevie tidak boleh keluar dari hotel, karena untuk memastikan keamannya. Proses fitting untuk nona muda, juga sudah selesai dilakukan tuan Alex, tinggal tuan sendiri yang belum. Dan nanti malam, dari pihak penyedia baju sudah akan mengantarkan baju ke apartemen tuan Alex.." Aryo menanggapi pertanyaan dari anak muda itu.
"Damn it.., bisa-bisanya kalian seperti memanggangku dalam api yang panas. Akal-akalan siapa ini, membuatku hampir mati gaya tidak bisa bertemu dengan gadis itu. Mana ponselnya juga tidak bisa dihubungi lagi, apa harus begini dulu sih orang untuk melakukan pernikahan. beberapa sepertinya juga tidak begini-begini amat, tetapi betapa teganya kalian semua, memperlakukanku seperti ini.." Alexander langsung mematikan ponsel secara sepihak, setelah mengungkapkan kemarahannya.
Setelah melakukan panggilan telpon, Alexander duduk bersandar di kursi kerjanya. Laki-laki itu terlihat seperti gemas, dan meremas kertas HVS yang ada di atas mejanya, kemudian membuatnya bulatan dan melemparkannya langsung ke tempat sampah yang ada di ruang tersebut. Namun karena tempat sampah tersebut dalam keadaan tertutup, kertas itu berceceran.
********
Sore Harinya
"Tuan Alex mau kemana, apakah perlu saya siapkan mobil di depan lobby perusahaan.." ternyata di dalam lift, sudah ada petugas keamanan yang baru saja dari lantai atas.
"Tidak perlu, wasting time.., aku akan langsung ambil mobil langsung di parkiran basement. Aku tergesa-gesa harus segera menuju ke bandara Halim Perdana Kusuma." dengan tegas, Alexander menolak tawaran dari security tersebut.
"Siap tuan Alex." dua laki-laki itu terdiam, dan lift meluncur turun ke bawah. Sesampainya di lantai L atau lobby, ternyata pintu lift tidak berhenti tetapi langsung menuju ke lantai B1 atau basement, tempat parkiran mobil karyawan perusahaan. Tanpa menyapa security yang bersama dengannya dalam lift, Alexander bergegas menuju ke mobil yang diparkir di tempat parkir VIP.
Tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai Alexander sudah meluncur keluar dari dalam ruang basement, dan tanpa melewati depan lobby langsung lurus menuju jalan raya.
"Aku harus segera menjemput tuan muda, dan membawanya pulang ke hotel. Hmm, siapa tahu aku bisa bertemu dengan Stevie disana, ada banyak hal yang perlu aku bicarakan dengan gadis itu. Nyonya Sheilla membuat aturan yang memisahkan kami akhirnya.." sambil bergumam, Alexander terus menginjak pedal gas, dan langsung masuk ke pintu gerbang toll untuk mempercepat perjalanan.
"Tapi aku akui, respon positif dari tuan muda Andreas Jonathan, aku merasa tersanjung. Baru saja sampai di Switzerland mengantarkan nona muda dan tuan kecil, langsung meluncur kembali ke Indonesia karena kabar akan diadakannya pernikahanku dengan Stevie. Dan syukurnya, dari para pengawal yang aku sebar, sepertinya dari Nyonya Sandrina, dan juga Armansyah belum melakukan gerakan yang dapat merugikan kami. Tetapi aku juga harus lebih berhati-hati, tidak boleh menyepelekan keadaan ini.." Alexander terus berpikir sendiri.
Laki-laki muda itu ternyata baru menyadari, jika ternyata merupakan beban besar ketika tidak ada partner diskusi dalam menjalankan sebuah perusahaan besar. Meskipun dalam sehari-hari, hampir semua aktivitas perusahaan lebih banyak laki-laki itu yang memantaunya, namun ternyata peran dari tuan mudanya Andreas Jonathan juga sangat vital dan melengkapi semua keputusan manajerial yang selama ini dihasilkan,
Sekitar lima belas menit perjalanan di jalan tol, kemudian keluar dan masuk di jalan yang tidak begitu macet, laki-laki itu tersenyum karena sudah masuk di area jalan utama menuju bandara Halim Perdana Kusumah.
"Syukurlah.. waktu berpihak padaku, tuan muda tidak sampai menunggu kedatanganku di bandara..." sambil menginjak pedal gas, setelah mengambil kartu parkir di gerbang masuk bandara, kembali Alexander bergumam sendiri. Ternyata hanya bertemu dengan tuan mudanya, seperti diibaratkan bertemu dengan orang penting dalam hidupnya. Alexander sendiri merasakan ketergantungan itu.
*****