CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 234 Penjaminan



Alexander dan Andreas Jonathan saling berpandangan dan tersenyum, keduanya tetap berdiri di tempat menunggu dua orang polisi yang datang ke arah mereka. Bagaimanapun mereka berada di negara Swiss, tidak bisa mempermainkan aparat seperti di Jakarta. Terkadang hanya dengan menawarkan iming-iming beberapa lembar uang, mereka bisa menjadi berpihak pada mereka. Namun.. hukum di negara tempat mereka tinggal ini berbeda, petugas polisi sangat konsisten dalam menjalankan tugas pengamanan.


"Siapa kalian, tanpa ijin mendarat sudah berani mendaratkan helikopter di depan markas kepolisian, Apakah kalian akan mencari masalah disini..?" dengan nada tinggi, salah seorang petugas polisi bertanya pada kedua anak muda itu.


"Semua ini salah paham pak, kami mohon maaf jika kedatangan kami berdua kemari telah mengusik keamanan di kantor polisi ini. tetapi semua terjadi, karena dilatar belakangi oleh kepanikan dari kami, dimana saudara saya yakni adik kandung saya disinyalir, telah diamankan dan berada di dalam kantor polisi ini. Tanpa berpikir panjang untuk mengurus perijinan mendarat, kami langsung mendaratkan helikopter di halaman kantor polisi.." Andreas Jonathan menjelaskan pada petugas tersebut.


Salah satu petugas memberi isyarat pada temannya, kemudian satu orang laki-laki mendatangi ALexander dan Andreas Jonathan. Tidak diduga, ternyata polisi itu melakukan pengecekan, apakah dua anak muda yang datang ke tempat itu, membawa senjata api atau senjata lainnya. Untungnya kedua anak muda itu bukan merupakan ornag yang bodoh, mereka sudah memperhitungkan segalanya sebelum mereka akan mendarat,


"Sasaran clear... sepertinya alasan yang digunakan mereka bisa kita katakan tidak ada kebohongan.." petugas polisi yang melakukan pemeriksaan, memberikan laporan.


"Okay..., temanku sudah mengatakan kalian berdua clear. Siapa saudara kandung yang kalian maksud, meskipun tubuh kalian berdua sangat tinggi, tetapi dari face, kalian ini seperti terlahir dari keturunan orang-orang Asia. Apakah seorang gadis kecil, yang sedang kalian cari ini.." tidak diduga, polisi tadi memberikan bocoran informasi.


"Yap... miss Stevie adalah adik kandungku, dan istri dari saudara iparku ini. Karena ada sedikit perselisihan, adikku pergi meninggalkan rumah tanpa pamit. Akhirnya terjadi kekacauan ini.." tidak mau membuat kebohongan, Andreas Jonathan menceritakan kejadian yang sebenarnya pada petugas polisi itu.


"Baik.. ikuti kami...!" salah satu polisi mengajak Andreas Jonathan dan Alexander untuk masuk ke dalam kantor. Satu polisi berjalan di belakang dua anak muda itu.


Tidak lama kemudian, polisi tadi meminta dua anak muda itu untuk duduk dan menunggu. sementara mereka akan memanggil perempuan muda yang dimaksud oleh keduanya.


"Tunggu sebentar.., kami akan mengajak Miss Stevie.. dan temannya untuk berbicara. Jika mereka mengiyakan, dan mengatakan jika kalian berdua bukan orang jahat, maka kami akan mengijinkan kalian berdua untuk membawa mereka kembali. Tentu saja setelah kalian berdua menyelesaikan urusan penjaminan, dan membayar beberapa denda yang wajib kalian bayarkan," sebelum meninggalkan dua anak muda itu, polisi banyak berbicara.


"Siap pak.., kami akan mengikuti ketentuan dan prasyarat yang berlaku.." merasa hanya sebagai tamu di negara ini, tidak ada keinginan untuk menjawab dan berdebat dengan petugas polisi tersebut. Kedua anak muda itu kemudian menyandarkan punggung mereka di sofa tempat mereka duduk,


"Terlalu sopan dan sangat percaya pada kita.., jika bertemu dengan orang jahat, apakah mereka juga akan bersikap lunak seperti ini..?" Andreas Jonathan bergumam.


Alexander di sampingnya hanya tersenyum mengiyakan, pikiran anak muda itu ingin segera bertemu dengan istrinya, memeluk tubuhnya erat. Bahkan jika Stevie menginginkan dirinya meminta maaf, bersimpuh di kakinyapun akan laki-laki itu lakukan,


*********


Beberapa Saat Kemudian..


"Miss Stevie... apakah benar kedua anak muda yang duduk di sofa itu anggota keluargamu...?"     Andreas Jonathan dan Alexander yang sedang duduk sambil memejamkan mata, sontak terkaget mendengar suara polisi tampak sedang bertanya.


"Terima kasih pak, gadis ini adalah istri saya. Yang karena ketololan saya, akhirnya meninggalkan mansion untuk meninggalkan saya pak.." Alexander segera menarik tangan Stevie dan membawanya ke pelukannya.


"Hmm... untung nyadar kalau sudah berbuat salah.." seperti robot tanpa ekspresi, tubuh gadis muda itu sudah terjatuh di pelukan Alexander. tetapi sedikitpun Stevie tidak bereaksi, dan terlihat Alexander hanya memeluk sebuah tubuh yang tidak ada reaksi sama sekali.


Semua yang berada di dalam ruangan itu, hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Karena melihat dua pasangan itu masih terbilang muda untuk ukuran mereka, para polisi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Andreas Jonathan dengan ekspresi datar, segera berdiri dan mendatangi polisi tersebut.


"Berkas atau pernyataan mana yang harus segera kami lengkapi, sehingga kami bisa segera membereskan adminstrasi pembebasan adik dan sopir kami." dengan suara tegas, Andreas Jonathan segera mengajukan pertanyaan pada petugas polisi.


"Segera ikuti saya, kita ke meja di pojok sana. Ada beberapa berkas yang harus kamu isi, dan membayar sejumlah denda sebanyal 100 Franc Swiss." polisi itu mengajak Andreas Jonathan untuk mengikutinya, dan tanpa banyak bicara, suami Cassandra itu mengikuti polisi itu.


Tidak lama kemudian, polisi memberikan satu lembar kertas ukuran HVS kuarto, dan sebuah pulpen. Setelah membacanya sebentar, laki-laki muda itu segera mengisi dan menanda tanganinya. Setelah selesai melakukan pengisian, laki-laki muda itu mengeluarkan ponsel kemudian menstransfer sejumlah uang untuk denda atas pelanggaran yang dilakukan Stevie dan sopirnya.


"Mohon dicek, uang sudah kami transfer ke rekening.." Andreas Jonathan memberitahu jika uang sudah masuk.


"Johny... cek notifikasi perbankan..!" polisi di depan Andreas Jonathan memberi perintah pada rekan sesama polisi.


"Sudah masuk..., Miss Stevie sudah bisa untuk dibawa oleh pihak keluarganya.." polisi yang melakukan penegcekan memberikan laporan.


Tanpa berbicara lagi, Andreas Jonathan kemudian berdiri untuk meninggalkan tempat itu. Namun laki-laki muda itu mengulurkan tangan mengajak polisi di depannya untuk berjabat tangan. Tidak lama kemudian, Andreas Jonathan segera keluar dari kantor polisi, tanpa menyapa pada adik kandungnya. Stevie tampak ngeri melihat keangkuhan kakak kandungnya, karena dirinya merasa melakukan suatu kesalahan. Alexander segera membawa istrinya mengikuti langkah kaki kakak iparnya, dan di belakang sendiri, sopir mengikutinya.


"Tuan muda... saya pamit untuk kembali ke Inter Laken dengan mengendarai mobil.." di luar kantor polisi, sopir meminta ijin pada Andreas Jonathan.


"Baik.. hati-hati di jalan, atau karena hari sudah sangat malam, carilah hostel di sepanjang jalan. Kamu bisa menginap dulu, dan besok pagi baru kembali ke mansion." Andreas Jonathan memberikan jawaban.


"Siap tuan muda.."


*********