CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 80 Sepi



Mendengar pengakuan Andreas Jonathan yang meskipun diucapkan tanpa sadar, tentu saja membuat Alexander semakin terkejut. Laki-laki itu dengan segera menyambungkan benang merah, sampai perginya Cassandra dari pandangan mereka. Rupanya laki-laki yang saat ini bersamanya itu, sudah melakukan sebuah perbuatan yang sulit dimaafkan oleh gadis itu, sehingga Cassandra memilih pergi,


"Ikuti saya tuan muda.." Alexander segera berdiri dan melangkahkan kaki keluar dari ruangan. Andreas Jonathan mengikuti laki-laki itu di belakangnya.


Tidak lama kemudian, kedua laki-laki tampan incaran laki-laki itu, tampak memasuki mobil dan langsung menuju keluar dari perusahaan. Setelah hampir satu jam berkendara, Alexander membawa mobil memasuki sebuah halaman kosong, dan kemudian memarkirkan mobil di halaman tersebut, Kedua laki-laki itu bergegas keluar dari dalam mobil, kemudian mereka bersama-sama langsung masuk ke rumah tersebut.


"Selamat datang tuan muda.., tuan Alex..:" beberapa orang tampak menyambut kedatangan mereka berdua.


"Dimana driver taksi yang tadi pagi membawa nona Cassandra. Antar laki-laki itu kemari, aku dan tuan muda akan menginterogasinya." Alexander segera membuat pengaturan. laki-laki itu kemudian mengajak tuan mudanya untuk duduk dan menunggu,


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya terlihat satu laki-laki tua yang tampak bingung datang menuju ke ruang dimana dua laki-laki tampan itu berada. Dengan tatapan bingung, karena banyaknya orang di ruangan itu, driver itu memberanikan diri menatap Alexander untuk berusaha mencari tahu.


"Tuan.. apakah ada yang akan membantu menjawab rasa bingungku ini. Kenapa tiba-tiba taksiku yang sedang berjalan mencari penumpang, tiba-tiba tadi pagi diberhentikan, kemudian saya dibawa ke tempat ini? Tempat apakah ini?" driver bersuara dengan nada datar.


"Maafkan atas ketidak nyamanan ini pak. Alasan beberapa anak buahku menangkap dan membawamu kesini, karena kami mendapatkan rekaman CCTV di stasiun Bandung, jika tadi pagi kamu membawa seorang perempuan hamil. Apakah benar itu kamu pak..?" dengan tegas, Alexander mengajukan pertanyaan pada laki-laki itu.


Laki-laki itu berusaha mengingat karena ketika mencari penumpang, kebetulan hari ini ada tiga perempuan hamil yang sudah diantarkannya. Namun ketika laki-laki itu menyebut stasiun Bandung, barulah driver taksi online itu mengingat Cassandra.


"Benar tuan.. tadi pagi saya mendapatkan pesanan taksi untuk mengantarkan perempuan hamil yang bernama Cassandra. Waktu itu saya juga bertanya, dalam keadaan hamil dan hampir melahirkan, kenapa perempuan muda itu bepergian jauh sendiri. tetapi perempuan itu menjawab, jika suaminya sedang sibuk bekerja mencari uang untuk biaya persalinan. Gadis muda itu memilih untuk melahirkan di kampung halamannya saja." dengan lancar driver menerangkan.


"Hmmm begitukah.. apakah bapak tahu, kemana tujuan gadis itu. Apakah nona Cassandra membeli tiket jurusan untuk menuju ke Yogyakarta..?" Andreas Jonathan yang sejak tadi terdiam, akhirnya bersuara mendengar nama perempuan yang dicarinya disebut oleh laki-laki itu.


"Bukan Jogja tuan.., karena tadi saya sempat membaca tiket yang dipesannya. Non Cassandra tadi pagi menaiki kereta api eksekutif Argo Wilis dengan jurusan ke Solo tuan.. Tapi saya juga tidak tahu persis, tujuan sebenarnya yang akan didatangi gadis itu. Saya hanya driver online, yang mendapatkan penghasilan dari lakunya taksi saya, Dan saya juga tidak pernah terbiasa untuk mengetahui urusan customer saya.." driver online menjelaskan.


"Alexander.. buat pengaturan secepatnya, kita akan mendatangi mamanya Cassandra di Kalasan." tanpa bertanya lagi, Andreas Jonathan segera membuat pengaturan.


"Siap tuan muda.." sahut Alexander, yang tidak memiliki pilihan lain lagi. Menuruti tuan mudanya hanya merupakan satu-satunya cara. Laki-laki itu juga turut merasa panik, mendengar keadaan yang dialami oleh mantan sekretaris eksekutifnya itu.


*********


Tidak sampai satu jam perjalanan, akhirnya pesawat pribadi yang membawa mereka sudah landing di Adi Sutjipto Airport. bandara ini memang termasuk berukuran kecil, hampir sama dengan bandara Halim perdana kusumah. Oleh sebab itu tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai di depan terminal kedatangan. Sebuah mobil mewah tipe SUV sudah menunggu Alexander dan Andreas Jonathan di depan terminal kedatangan, dan keduanya langsung masuk ke dalam mobil itu.


"Selamat malam tuan muda.., tuan Alex.." driver dan pengawal yang menyambut mereka, menyapa dua penumpang itu.


"Malam.. antarkan kami sekarang juga menuju Kalasan, ke rumah mamanya nona Cassandra." Alexander segera memberikan perintah pada driver dan pengawal.


"Baik tuan Alex.., segera kita akan langsung menuju ke lokasi sasaran.." driver dan pengawal segera menyanggupi. Tidak mau terlalu lama membuang waktu, driver segera menjalankan mobil dengan kekuatan sedang. Karena di Jogja. jalanan ramai dan tidak begitu lebar, sehingga akan sangat berbahaya jika orang-orang menyetir dengan mengebut.


Di dalam mobil, Andreas Jonathan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, kemudian memejamkan mata perlahan. Alexander hanya menoleh sebentar melihat apa yang dilakukan tuan mudanya, tetapi kemudian kembali mengarahkan pandangan ke depan. Laki-laki itu bisa menghitung jika tidak akan butuh waktu lama, menempuh perjalanan dari bandara Adi Sutjipto sampai ke rumah Nyonya Dhini, mamanya Cassandra,


Sesuai dengan yang sudah diperkirakan, hanya lima belas menit perjalanan, mobil yang dibawa driver sudah memasuki sebuah halaman luas, kemudian menghentikan mobil di halaman. Alexander mengambil nafas, melihat keluar mobil, dan tampak beberapa tempat masih terlihat gelap karena tidak ada sinar lampu. Banyaknya pohon-pohon besar di pekarangan rumah, menjadikan tempat itu terkesan gelap dan menyeramkan jika malam hari.


"Tuan muda.. bangunlah kita sudah sampai di rumah Nyonya Dhini.." Alexander bersuara pelan, mencoba membangunkan Andreas Jonathan.


Laki-laki muda CEO perusahaan itu membuka matanya, kemudian meluruskan punggung, dan menoleh ke arah Alexander. Melihat tuan mudanya melihat ke arahnya, Alexander menganggukkan kepala kemudian membuka pintu mobil secara perlahan. Tidak lama kemudian, Andreas Jonathan mengikuti laki-laki itu untuk keluar juga dari dalam mobil. Keduanya sudah berdiri di halaman, dan kedua pengawal yang menyertai mereka tampak stand by melihat ke sekitar lokasi.


"Kenapa terlihat sepi sekali Alex, sepertinya tidak ada tanda-tanda orang di sekitar tempat ini.." dengan suara perlahan, Andreas Jonathan mengedarkan pandangan ke sekeliling.


"Pasti sepi tuan muda.. berbeda dengan suasana di Jakarta. Apalagi ini sudah jam sepuluh malam, aku yakin orang-orang sudah berangkat tidur. Kita segera menuju ke depan pintu saja, kita bisa mengetuk dan bertanya langsung pada mereka." Alexander menanggapi perkataan tuan mudanya.


Akhirnya kedua anak muda itu, dengan dikawal dua orang pengawal di belakang mereka, segera bergegas menuju ke arah teras. lampu yang menyala di teras tersebut, sedikit memberikan sinar yang menyinari perjalanan mereka.


*********