
Nyonya Sandrina dan Jennifer tersenyum pada Cassandra, tapi Cassandra malah bingung bagaimana akan bersikap. Perempuan muda itu merasa ragu, meskipun tidak ada kebencian sedikitpun dalam hatinya, namun tidak dengan suami dan juga mertuanya. Atas dasar itu, Cassandra sendiri merasa bingung bagaimana akan bersikap, apakah membiarkan keduanya masuk ke dalam, atau mengusir mereka untuk meninggalkan rumah itu.
"Siapa Sandra.. yang ada di depan pintu, kenapa kamu tidak segera memintanya untuk masuk ke dalam..?" dari dalam ruang tengah, terdengar suara mama mertuanya menkonfirmasi kepadanya.
"Iya ma.. sebentar lagi." sahut Cassandra singkat.
"Cassandra.., apakah kamu tidak mempersilakan kami masuk? Kami datang dengan niatan baik Sandra, tidak ada sedikitpun kami akan memberikan kejahatan pada keluarga yang sudah sangat baik memberikan pertolongan pada kami. Meskipun kami sadar, dosa-dosa kami mungkin akan sulit untuk dimaafkan.." sambil tersenyum kecut karena melihat bagaimana reaksi Cassandra menerimanya, Nyonya Sandrina bertanya pada perempuan muda itu.
Cassandra tergagap mendengar sindiran halus dari perempuan di depannya itu. Jennifer terlihat tidak berani bersuara, gadis muda itu hanya menundukkan kepala, mungkin merasa malu.
"Maafkan Sandra tante.. shock saja karena tidak mengira jika tante Sandrina dan Jenni akan mau datang ke rumah ini. Mari silakan masuk ke ruang tamu, bukankah tadi tante juga mendengar suara mama Sheilla, yang dengan berbesar hati meminta tamunya untuk masuk ke dalam." setelah berbicara, Cassandra mendahului untuk masuk ke dalam. Semua yang ada di ruang tengah, belum tahu siapa tamu yang datang berkunjung.
"Duduklah dulu tante. Jenni, Sandra akan sampaikan dulu pada mama tentang kedatangan kalian ke rumah ini." cassandra segera mempersilakan kedua tamu untuk duduk di sofa.
Nyonya Sandrina memberikan paper bag pada Cassandra, dan setelah menatap ke wajah perempuan paruh baya itu sebentar, Cassandra menerimanya kemudian membawanya masuk ke ruang tengah.
"Siapa yang datang Sandra.." nyonya Sheilla langsung bertanya pada putri menantunya, ketika gadis itu meletakkan paper bag di atas meja yang ada di depannya.
"Tante Sandrina dan Jenni.. mama. Mereka berdua datang berkunjung, karena tahu jika mama dan papa sudah berpindah ke rumah ini. Karena mendengar ucapan mama, jadi Sandra meminta mereka untuk masuk dan mempersilakan untuk duduk di sofa." cassandra berbicara dengan suara pelan, khawatir jika kedua tamu mendengar perbincangannya dengan nyonya Sheilla.
"Untuk apa dua perempuan jahat itu datang kesini, kenapa tidak kamu usir saja mereka dari rumah ini Cassandra?" tiba-tiba tuan Wijaya bereaksi keras.,
"Jangan salahkan Sandra papa, bukankan papa juga dengar sendiri, bagaimana mama bersuara meminta istri ANdre untuk membawa mereka masuk ke dalam." dengan nada datar, Andreas Jonathan membela istrinya, karena mendengar papanya sedikit ada nada menyalahkan istrinya.
"Sudah.., sudah.., hentikan semuanya, aku yang menyuruh mereka untuk duduk di meja tamu. Sekarang mama akan keluar untuk menemuinya, jika papa masih memiliki rasa dendam, meskipun sudah membagi asset kepadanya, papa tetap berada di dalam ruangan ini. Tidak perlu papa ikut keluar menemui kedua perempuan itu." dengan tegas, Nyonya Sheilla meminta suaminya untuk berhenti berbicara.
Tuan Wijaya kemudian berdiri, dan melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamar. Andreas Jonathan juga mengambil nafas dalam, kemudian laki-laki muda itu berjalan menuju ke halaman belakang untuk bergabung dengan putranya.
"Tidak ma, ayo kita ke depan. Cassandra akan menemani mama, biarlah para laki-laki terpuruk sendiri berpikir tentang rasa marah mereka." sambil tersenyum, Cassandra segera merangkul bahu nyonya Sheilla, kedua perempuan itu segera berjalan menuju ke arah ruang tamu.
**********
Di ruang tamu
Terlihat nyonya Sandrina dan Jennifer tersenyum malu melihat kedatangan nyonya Sheilla dan Cassandra yang menemui mereka di ruang tamu. Baru kali ini, setelah mereka memutuskan untuk berdamai, kedua perempuan itu berkesempatan untuk melihat wajah Nyonya Sheilla. Dan terlihat dengan ramah, nyonya Sheilla datang dan tersenyum pada mereka berdua.
"Terima kasih atas kunjungan kalian ke gubukku Sandrina., Jennifer. Njanur gunung, itu istilah orang Jawa.. jika diibaratkan pada kalian berdua." dengan ramah sambil duduk di depan dua perempuan itu, Nyonya Sheilla menyapa dua tamu itu.
"Iya Sheilla, sebenarnya aku sudah tidak punya muka untuk bertemu denganmu. Terlalu banyak kesalahan dan keculasan yang aku lakukan denganmu di masa lalu. Tetapi kamu malah berbesar hati memberikan pertolongan kepadaku, demikian juga dengan menantumu Cassandra. Aku dan Jenni sangat berutang maaf dan juga budi pada kalian berdua." dengan tersenyum malu, nyonya Sandrina mengutarakan isi hatinya.
"Sudah lupakan itu semua Sandrina, kita ini sudah sama-sama tua. Kita lupakan kejadian buruk di masa lalu, agar kehidupan kita di masa depan dapat menjadi lebih cerah. Oh iya.., by the way kapan rencanamu akan pergi ke Canada. Kamu sudah bisa menjalankan sendiri kegiatan operasional perusahaanmu, dan mengontrolnya setiap saat." nyonya Sheilla mengalihkan pembicaraan.
"Menurut rencana sih, hari minggu besok Sheilla. Mendengar dirimu dan Wijaya pindah ke Inter Laken, dan memiliki rumah di area sini, kami menyempatkan diri untuk bertemu denganmu. Kami datang untuk mengucapkan terima kasih atas kebesaran hatimu, dan juga mohon maaf atas semua kesalahanku di masa lalu. kami harus menyampaikan sendiri dan secara langsung." ucap Sandrina pelan.
Perempuan paruh baya itu kemudian mengulurkan telapak tangan ke arah nyonya Sheilla, dan diikuti oleh Jennifer yang melakukan hal yang sama. Setelah diam beberapa saat, akhirnya perempuan paruh baya itu menerima uluran tangan, dan keduanya berjabat tangan kemudian diakhiri dengan berpelukan. Cassandra tidak bisa berbicara banyak melihat hal itu, perempuan itu hanya menatap keakraban itu dengan berkaca-kaca.
"Maafkan tante juga Cassandra, tante sudah banyak salah kepadamu.." setelah selesai bermaaf-maafan dengan nyonya Sheilla, akhirnya Sandrina meminta maaf pada Cassandra. Perempuan paruh baya itu memeluk tubuh Cassandra beberapa saat, dan kemudian diikuti pula oleh Jennifer.,
Setelah beberapa saat kemudian, ke empat perempuan yang sudah menghilangkan semua dendam di masa lalu itu, akhirnya berbincang. Tetapi karena menjaga bagaimana perasaan suami mereka masing-masing, Cassandra dan nyonya Sheilla tidak berani untuk mengundang kedua perempuan itu untuk bergabung makan di rumah itu. Mereka masih menjaga hati pasangan mereka masing-masing, yang karena rasa khawatir dan alasan keamanan belum bisa dengan sepenuh hati membuka diri untuk kedua perempuan itu.
"Baiklah Sheilla, Sandra.. karena sudah beberapa saat di rumah ini, ijinkan kami untuk segera pamit. Sampaikan salam dan maaf dari kami berdua untuk suamimu Sheilla, dan juga suamimu Cassandra. Semoga masih ada maaf dari mereka untuk kami berdua.." akhirnya nyonya Sandrina mengucapkan kata pamit pada dua perempuan itu.
***********