CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 66 Hati yang Bimbang



Satu bulan kemudian


Herlambang tertegun melihat Cassandra yang masih terdiam memandang hamparan sawah yang ada di depannya. Sejak kepergian Cassandra satu bulan yang lalu, dan memintanya untuk mengantarkan dan mencarikan tempat tinggal, gadis itu selalu terpekur dalam kesedihan. Seperti ada sesuatu yang hilang, dimana dalam kelopak matanya, tidak pernah lagi dapat ditemukan binar dan cahaya di dalamnya. Berbagai upaya sudah dilakukan laki-laki itu untuk menghiburnya, namun gadis itu masih diam terbisu dan belum menceritakan apa sebenarnya yang terjadi padanya.


"Sandra.. barusan ada Grab mart mengantarkan sayuran dan bahan mentah lainnya. Semua sudah aku susun di dalam kulkas, hanya saja aku belum sempat untuk membersihkannya." Herlambang memberi tahu Cassandra mengenai barang kebutuhan yang dipesan melalui aplikasi Grab,


"Terima kasih mas.., mau minum apa biar aku buatkan.?" tanpa senyuman, gadis itu mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu.


"Jika ada, buatkan aku kopi Cassandra. Kebetulan mengemudi dari Jakarta menuju kesini. aku sedikit mengantuk, dan juga sedikit lapar.." sambil menggoda gadis itu, Herlambang mencoba membuat gurauan,


Tetapi bukannya menanggapi kata-kata Herlambang, Cassandra malah meninggalkan laki-laki itu untuk menuju ke arah dapur. Sambil menyalakan kompor untuk menjerang air, gadis itu membuat bumbu nasi goreng. Tidak lama kemudian, nasi goreng lengkap dengan telur goreng dengan taburan bawang merah sudah siap dihidangkan gadis itu. Setelah semuanya siap, Cassandra membawa nasi goreng dan kopi hitam ke tempat Herlambang menunggunya.


"Hanya nasi goreng kak, sama satu cangkir kopi. Silakan mas Herlam menikmatinya." dengan ekspresi datar, Cassandra meminta laki-laki itu menikmati nasi goreng yang sudah dimasaknya. Meskipun tidak ada kata-kata keluar dari bibirnya, Cassandra duduk menemani Herlambang di kursi yang ada di sebelahnya.


Tanpa menunggu lama, Herlambang segera mulai menikmati makanan yang sudah disajikan oleh gadis itu. Sesaat, laki-laki menghentikan kunyahan pada makanan itu, mencoba menikmati rasa pas bumbu yang diracik oleh Cassandra. Tidak lama kemudian, laki-laki itu sudah menyelesaikan makannya, dan dilanjutkan dengan menyesap kopi panas.


"Bagaimana keadaanmu Sandra.. apakah kamu tidak tertarik lagi untuk bekerja di perusahaan. Kota ini juga banyak memiliki perusahaan Sandra.., jika kamu mau, aku akan membantumu mencari pekerjaan. Atau kamu bisa membuat lamaran ke perusahaan tempatku bekerja." Herlambang yang tidak tega melihat Cassandra hanya di rumah saja, menawarkan untuk mencarikan pekerjaan.


"Tidak perlu mas.. saya masih bisa memenuhi kebutuhan hidup, dengan bekerja secara online mas. Apalagi saya tidak memiliki keinginan macam-macam, hanya ingin ketenangan saja. Mungkin jika Sandra sudah siap, aku akan pulang ke rumah, ke Kalasan mas, untuk menemani mama di kota itu. Hanya saja, untuk kali ini aku belum siap." ujar Cassandra lirih. Pandangan gadis itu terlihat kosong melihat ke depan.


Herlambang terdiam, teringat ketika pada tengah malam, gadis itu menelpon dan meminta pertolongan kepadanya, untuk membawa keluar dari dalam apartemen. Hanya tangisan pilu yang menyayat, ketika gadis itu keluar apartemen dan masuk ke dalam mobil. Pertanyaan yang diajukan oleh Herlambang, tidak pernah dijawab Cassandra sampai dengan sekarang. Akhirnya dengan bantuan seorang teman, laki-laki itu bisa mencarikan tempat kontrakan sederhana di pinggir sebuah desa. Selama satu minggu sekali, Herlambang berusaha untuk menjenguk gadis itu, tetapi hanya diam yang selalu disuguhkan gadis itu.


*********


Sepeninggalan Herlambang, tiba-tiba Cassandra merasa pusing dan mual. Berkali-kali gadis itu merasa ingin muntah, namun ketika sudah berada di dalam kamar mandi, tidak ada yang keluar dari dalam perutnya. Hal itu terjadi berkali-kali, sampai Cassandra merasa lelah. Tiba-tiba saja, gadis itu tersentak teringat sesuatu..


"Ya Tuhan.. apakah aku hamil..?" gadis itu mengusap pelan perutnya ke bawah. Tanpa sadar air mata kembali mengalir deras melalui pipinya, teringat kembali kejadian malam jahanam, sehingga dia harus kehilang kehormatannya.


Beberapa waktu berlalu dalam keheningan, gadis itu menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya. Hal yang ditakutkan adalah jika dia mengalami kehamilan karena insiden itu, dan melahirkan bayi tanpa memiliki suami. Cassandra membayangkan wajah mamanya di Kalasan, dan hanya air mata kembali mengalir membasahi pipinya.


"Aku tidak boleh berputus asa, meskipun kejadian itu tidak aku kehendaki, dan terjadi karena suatu kecelakaan, aku tidak boleh menyerah. Kamu harus tetap hidup Cassandra, carilah dokter atau klinik untuk memastikan kondisimu. Barulah kamu akan bisa memikirkan apa yang akan dilakukannya di masa depan." satu sisi hati Cassandra berpikiran lain.


Tidak mau berlarut dalam kesedihan dan kegalauan, Cassandra meraih ponsel kemudian menelusuri alamat dokter spesialis kandungan terdekat. Setelah menemukannya, gadis itu langsung melakukan temu janji secara online. Untungnya pada pukul lima sore, dokter ada jadwal konsultasi sehingga Cassandra langsung bisa menentukan jadwal untuk berkonsultasi.


"Aku harus segera bersiap, karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul tiga lebih sepuluh menit." begitu melihat jarum jam, Cassandra segera bangkit dari duduknya.


Gadis itu segera masuk kembali ke dalam rumah untuk bersiap-siap, dan tidak lupa memesan ojek online untuk mengantarkannya pergi ke klinik. Tidak lama kemudian, gadis itu sudah selesai bersiap, dan setelah mengambil tas selempang, Cassandra berjalan keluar dari dalam rumah.


Setelah beberapa saat menunggu di teras, akhirnya terlihat pengendara motor yang ternyata ojek online datang ke halaman rumahnya.


"Mbak Cassandra ya..?" dengan ramah, pengendara ojol itu bertanya pada gadis itu.


"Iya mang.. tunggu sebentar.." Cassandra segera mengunci semua pintu dan jendela. Setelah memastikan tidak ada yang terlewat, gadis itu segera turun ke halaman.


"Jl. RE. Marta dinata mas.. tempat Dokter Ridwan.." Cassandra menyampaikan arah tujuannya pada pengendara ojol.


"Baik mbak.. mohon maaf ini helmnya." pengendara itu memberikan helm pada gadis itu, dan tanpa banyak bicara Cassandra langsung mengenakan helm di kepalanya. Setelah itu, Cassandra segera naik ke atas motor, dan pengendara segera menjalankan motornya perlahan. Mereka berkendara dalam diam, karena melihat kegundahan gadis yang ada dalam boncengannya, pengendara ojol merasa sungkan untuk mengajak gadis itu berbicara. Akhirnya setelah sepuluh menit perjalanan, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Gadis itu segera turun dari atas motor.


"Terima kasih mas.." ucap Cassandra pelan, sambil menyerahkan helm pada pengendara itu.


"Sama-sama mbak," Cassandra segera melangkah pelan menuju pada petugas jaga. Sambil membuka aplikasi Hallo dokter, gadis itu mencari nomor antri yang diperolehnya untuk ditunjukkan pada customer service.


**********