
Stevie menjadi serba salah ketika melihat Alexander sudah datang kembali ke dalam mobil. Tanpa kata, laki-laki itu segera menutup pintu mobil dengan kencang. Kata-kata yang tadi sudah disiapkan Stevie untuk meminta maaf, dan mengucapkan terima kasih tiba-tiba saja seakan lenyap dari pikirannya. Gadis itu malah hanya diam terpaku, namun ketika Alexander sudah mengenakan sabuk pengaman dan akan menginjak pedal gas, tiba-tiba saja Stevie memegang dan memeluk erat tangan kiri Alexander yang sudah memegang kemudi. Laki-laki muda itu terkejut dengan sikap impulsive yang dilakukan oleh Stevie, dan hanya diam memandangi gadis itu. Beberapa saat, mereka dalam posisi diam, dan Stevie mencium lengan Alexander, Mendapatkan perlakuan intim seperti itu, ada sesuatu dari dalam tubuh Alexander yang bangun, dan menginginkan perlakuan lebih intim dari itu.
"Apa yang kamu lakukan Stevie.. tidakkah kamu sudah merasa jenuh, dan mungkin merasa jijik berada di dekatku..?" dengan suara tercekat, Alexander bertanya dengan suara serak.
"Kak Alex.. jangan bicara seperti itu, Stevie menjadi malu. Maafkan Stevie kak.., dan terima kasih untuk semua yang sudah kak Alex lakukan untuk Stevie.." dengan mata sayu, Stevie menatap ALexander dan laki-laki muda itu juga menatap mata indah itu.
Tiba-tiba saja fokus penglihatan Alexander turun ke wajah Stevie, dan ketika melihat bibir mungil dan merah alami Stevie.. Alexander tiba-tiba saja meneguk ludahnya.
"Mmm... bibis Stevie sangat mungil, dan sangat seksi.. seakan menggodaku untuk **********.." sesaat perasaan dan hati Alexander merasa gusar, dan muncul godaan besar ketika melihat bibir mungil milik Stevie,.
"Kak.. kakak tidak mau memaafkan Stevie..?" kembali dengan tatapan puppy eyes, Stevie kembali meminta maaf pada Alexander. Gadis itu menundukkan wajahnya, kemudian menempelkan lengan Alexander ke arah wajahnya dan menciumnya beberapa kali. Mungkin saja Stevie tidak atau belum mengetahui apa dari efek perbuatan yang dilakukannya itu. Nafas Alexander menjadi tidak beraturan, dan tanpa menjawab dengan kata-kata. tiba-tiba laki-laki itu memegang dagu Stevie, kemudian menundukkan wajahnya ke bawah.
Stevie terkejut, dan seperti mendapatkan setrooman dari arus listrik, karena tiba-tiba bibir Alexander sudah menempel di bibirnya, dan sudah jauh masuk ke dalam mulutnya untuk mengeksplorasi. Lidah laki-laki muda itu dengan ganas terus membelit lidah, Stevie. Gadis itu tanpa sadar, ikut menikmati permainan yang dilakukan oleh laki-laki itu. Ciuman mesra antara dua orang berbeda jenis kelamin di dalam mobil itu, berlangsung untuk beberapa saat. Dan Stevie ternyata dengan mudah mengikuti arus yang diberikan oleh Alexander.,
"Ughhh... kak.. jangan.." Stevie seperti tersadarkan, ketika tiba-tiba bibir laki-laki muda itu sudah berada di lehernya. Lenguhan penolakan diberikan oleh gadis itu, meskipun dalam hatinya Stevie juga terbawa arus dalam ciuman itu.,
"Aaakh... kak..." de*sahan kesakitan keluar dari bibir Stevie, ketika tanpa diduga bibir Alexander mengisap lehernya, dan leher Stevie berwarna putih itu tiba-tiba saja sudah dihiasi dengan warna merah karena isapan dan ciuman yang diberikan oleh Alexander. Namun gadis itu sepertinya belum menyadari, jika ada bekas ***** di atas kulit lehernya, karena memang baru pertama kali ini Stevie melakukan hal tersebut.,
Alexander tersenyum dan menghentikan ciumannya, kemudian memeluk erat tubuh Stevie, dan entah disengaja satu tangan laki-laki itu tiba-tiba memegang dan meremas lembut salah satu bukit kembar gadis itu. Stevie memejamkan mata, seperti merasakan keenakan dari apa yang dilakukan oleh Alexander, dan kembali de**sahan keluar dari bibir Stevie. Namun untungnya.. gadis itu seperti tersadarkan dan mendorong dada Alexander ke depan.
"Stevie.. jangan menjauh dariku sayang. Jujur.. aku ingin memakanmu sekarang juga, .. menikahlah denganku.." sambil mengecup tangan gadis itu, Alexander meminta Stevie untuk menjadi istrinya.
Gadis itu merasa malu mendengar kata-kata yang diucapkan oleh laki-laki itu, apalagi belum ada satu minggu mereka saling mengenal. Stevie menggunakan bantal kursi untuk menutup wajahnya, dan laki-laki yang duduk di sampingnya itu tersenyum kemudian perlahan mulai menginjak pedal gas, dan mobil yang mereka bawa itu segera melaju meninggalkan tempat itu.
********
"Honey.. sedang apa sayang..?" melihat istrinya tidak menyadari kedatangannya, Anndreas Jonathan segera mendatangi gadis itu, dan ciuman di kening Cassandra membuat gadis muda itu mengangkat wajahnya ke atas.
"Maaf kak Andre.. Sandra tidak menyadari kedatangan kakak kesini. Sejak beberapa waktu lalu, Sandra melihat-lihat Instagram kak.., senang banget bisa melihat foto dan video para wanita career.:" tanpa bermaksud menyampaikan keinginannya, Cassandra mengatakan apa yang sejak tadi dilihat dan diamatinya,
"Hmmm... really., apakah hanya lihat-lihat saja honey..?" sambil tersenyum, Andreas Jonathan bertanya pada istrinya sambil mempermainkan anak rambut di kepalanya.
"Iya kak.. menarik sekali bukan.. Lihatlah.., pakaiannya, tas, sepatunya.. sangat matching ketika para perempuan ini melakukan meeting, melakukan negoisasi, dan meyakinkan collega-collega mereka." tanpa sadar, Cassandra menunjukkan foto dan video di Instagram melalui layar gadgetnya pada Andreas Jonathan,
Laki-laki muda itu mendekat, kemudian duduk di samping istrinya, sambil satu tangannya memegang bahu Cassandra kemudian menyandarkan kepala dan punggung gadis itu ke arah dadanya, Sambil lalu, Andreas Jonathan melihat foto dan video yang ditunjukkan kepadanya itu dengan sekilas saja, kemudian kembali memberikan ciuman di pucuk kepala Cassandra.
"Apakah hanya itu saja honey..., memintaku untuk melihat foto dan video ini..?? Tidak adakah hal lain yang ingin kamu minta atau sampaikan pada suamimu ini." sambil tersenyum, Andreas Jonathan menatap manik mata istrinya.
Cassandra terkejut dengan respon suaminya, padahal ketika tadi dia menunjukkan gambar dan video itu, betul-betul tidak ada maksud yang ingin disampaikan pada suaminya. Namun rupanya, Andreas Jonathan menatap dan menemukan keinginan di hati istrinya. Memang.. terkadang Cassandra merindukan untuk kembali ke ruang kerja, karena sejak dirinya menjadi mahasiswa, Cassandra masuk kategori perempuan yang tidak pernah hanya duduk diam, berpangku tangan. Namun ketika suaminya menanyakan hal ini kepadanya, Cassandra tidak berani menjawab jujur, karena ada kekhawatiran jika pertanyaan itu hanya merupakan jebakan untuknya.
"Kenapa kamu tidak menjawab sayang...?" Andreas Jonathan menundukkan wajahnya ke bawah, dan tanpa permisi bibir laki-laki itu langsung menyergap bibir Cassandra yang tampak merekah di bawahnya. Kedua orang pasangan suami istri itu seperti terlupakan dengan pembicaraan mereka, keduanya saling meraup dan mereguk manis dalam ciuman mereka,
**********