CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 248 Me Time



Cassandra merasa bahagia bisa merasakan perjalanan kembali hanya berdua, dan Andreas Jonathan mengemudikan mobil secara perlahan seperti menikmati juga kebersamaan mereka. Matahari bersinar cerah, sehingga rasa dingin cenderung berkurang, dan di jalanan banyak orang lalu lalang menikmati sinar matahari tersebut. Tidak beberapa lama, Andreas Jonathan sudah memasuki halaman parkir A & W Grill Restaurant, dan laki-laki muda itu mengerutkan dahinya.


"Ada mobil Alexander honey.. untuk apa anak muda itu kesini, dan tidak memberi tahu kita.." Andreas Jonathan memberi tahu istrinya.


"Mungkin saja ingin me time dengan Stevie kak... sama seperti kita hari ini bukan. Tapi lucu juga ya kak, seperti ada chemistry antara kak Andre dan kak Alex.. Sama-sama ingin pergi ke tempat yang sama, padahal tanpa janjian akhirnya ketemu juga disini." Cassandra tersenyum dan menanggapi kata-kata suaminya.


"Kan yang ingin ke tempat ini bukan aku, honey kan yang tadi mengajakku kesini. Siapa tahu, Alexander lagi gabut kali.. Tapi kita akan coba lihat, dengan Stevie tidak laki-laki itu datang kemari. Jika tidak.. kita akan habisi anak itu dengan memberi tahu Stevie.." seperti punya ide untuk mengerjai adik iparnya, Andreas Jonathan mengatakan idenya pada Cassandra.


"Hadeh kak.., kita ini sudah sama-sama dewasa. Kenapa juga harus bertingkah seperti anak kecil saja.. Biarlah kak, kak Alex juga punya privacy, mungkin kadang kala ingin sendiri. Atau bisa saja, sudah mengajak Stevie tapi gadis itu tidak mau menyertainya.." Cassandra terus berusaha mengingatkan suaminya.


"Tidak apalah honey.., untuk seru-seruan saja. Kapan lagi kita akan dapat mengerjai anak itu, he.. he.. he.." seperti anak kecil memiliki mainan baru, tumben-tumbenan Andreas Jonathan punya ide konyol.


Cassandra mempercepat langkahnya, gadis muda itu segera menuju ke arah pintu masuk restaurant. Sambil berlari, Andreas Jonathan mengikuti istrinya, kemudian laki-laki itu merangkul Cassandra dan membawanya masuk ke dalam restaurant. Baru saja masuk, pandangan Cassandra tertuju pada keberadaan Stevie dan Alexander di sudut ruangan. Keduanya tampak tengah berbincang.., tapi Cassandra tidak mau mengganggu keduanya..


"Selamat siang tuan.., nona, apakah ada yang bisa kami bantu.." tidak beberapa lama, waiters menyambut kedatangan pasangan suami istri itu.


"Siang.. siapkan tempat untuk kami berdua, yang private, dan tidak berbaur dengan pengunjung restaurant yang lain.." untuk menjaga privacy dan keamanan istrinya, Andreas Jonathan meminta tempat yang private.


Karena ada misi untuk menjaga kebersamaan Stevie dan Alexander, Cassandra langsung mengiyakan dan tidak ada protes darinya tentang pemilihan ruangan itu. Biasanya Cassandra akan memilih berada dalam ruangan, menyatu dengan para pengunjung yang lain. Tetapi kali ini, Cassandra menyetujui pilihan tempat untuk mereka.


"Baiklah tuan.., nona., mari ikuti saya. " Andreas Jonathan segera menarik Cassandra untuk mengikutinya. Tanpa sengaja, tatapan mata Cassandra beradu pandang dengan tatapan Stevie. Dengan cepat, Cassandra memberi isyarat pada gadis muda itu untuk melanjutkan aktivitas mereka. Cassandra segera mengikuti suaminya masuk ke dalam private room.


Sudah ada dua round table yang terisi dalam ruangan itu, tetapi ternyata ruangan itu bukan tempat yang dipilihkan untuk mereka. Waiters masih lurus ke dalam, dan tidak lama waiters tersebut membuka pintu dan berdiri di samping pintu tersebut.


"Silakan masuk tuan.., nona.., semoga merasa nyaman dengan ruangan ini.." sambil tersenyum, waiters mempersilakan pasangan suami istri untuk masuk ke dalamnya.


Pandangan Cassandra terpukau melihat tiga puncak gunung sangat jelas dari tempatnya berada. Ruangan ini memiliki view yang paling bagus dibandingkan dengan ruangan lainnya. Andreas Jonathan segera menarik kursi, dan meminta istrinya untuk segera duduk di kursi tersebut.


********


Sandrina baru menyadari ketika siang hari, perempuan itu tidak melihat keberadaan Armansyah. Sudah diputarinya semua ruangan yang ada di dalam ruangan apartemen Arron, namun belum juga berhasil menemukan saudara sepupunya itu. Di luar apartemen pun, di balkon tempat biasa Armansyah menghabiskan waktu sambil merokok juga tidak bisa ditemuinya.


"Thanom... Arron.., apakah kalian melihat keberadaan Armansyah. Sejak bangun tidur, sampai siang ini aku belum melihat keberadaan saudara sepupuku itu.." Sandrina bertanya pada orang-orang yang sedang berbincang di meja makan.


"Tidak Sandrina.. akupun juga belum melihatnya. Mungkin saja, laki-laki itu sedang keluar mencari sesuatu, seperti yang biasa dilakukannya ketika berada di apartemen ini.." Thanom menanggapi pertanyaan dari istrinya, tetapi fokus laki-laki itu pada gadget yang ada di tangannya.


Mendengar perkataan Sandrina yang keras itu, Jennifer yang baru saja keluar dari dalam kamar, berjalan masuk ke dalam kamar yang sering digunakan oleh Armansyah untuk beristirahat. Tetapi tidak ada barang apapun yang berhasil ditemukan oleh perempuan muda itu. Bahkan trolly bag yang sering digunakan untuk membawa pakaian, dan perlengkapan lainnya juga tidak bisa ditemukannya. Dahi perempuan muda itu berkerenyit...


"Tidak mungkin jika hanya berada di sekitar tempat ini, paman Arman sampai membawa semua perlengkapan dan juga semua bajunya. Pasti paman sudah pergi dari tempat ini.." menyadari pemikirannya, gadis muda itu segera berlari keluar menuju ke arah dapur.


"Tante.. tante.., sepertinya paman Arman sudah pergi meninggalkan apartemen ini deh. Karena Jenni lihat, sudah tidak ada satupun baju paman Arman, maupun perlengkapan lainnya yang masih ada. Semuanya sudah dibawa pergi olehnya." Jennifer akhirnya memberi tahu pada Sandrina dan juga yang lainnya.


Ketiga orang yang berada di meja makan itu saling berpandangan, tetapi kemudian...


"Ada apa ini, kenapa Armansyah berkhianat pada kita. Meninggalkan apartemen, tanpa ada pembicaraanpun sebelumnya. Apa mau laki-laki itu.." terlihat kemarahan di wajah Sandrina. Perempuan paruh baya itu, segera mengambil ponsel dan mulai melakukan panggilan pada saudara sepupunya itu. Panggilan pertama, terdengar nada sambungan masuk, tetapi diabaikan oleh laki-laki itu. Sandrina mencobanya lagi, ternyata panggilan yang kedua dinyatakan sedang tidak aktif.


"Arron.., bagaimana ini, apakah kita bisa melacak kemana perginya pamanmu Armansyah. Dua kali aku melakukan panggilan kepadanya, tetapi di reject nya panggilan pertamaku, dan panggilan kedua nomor ponselnya sudah tidak diaktifkan.." Sandrina terdengar heboh. Perempuan paruh baya itu segera memerintah ada Arron, keponakan suaminya Thanom.


"Sebentar Tante.. Arron akan mencari tahu terlebih dahulu, karena kita juga tidak tahu. Dengan siapakah paman Arman pergi meninggalkan apartemen ini, apakah pergi sendirian atau membawa salah satu dari anak buah Arron.." Arron menjawab pertanyaan istri baru pamannya itu.


Tidak lama kemudian, Arron terlihat sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel yang dimilikinya.Terlihat anak muda itu tampak serius berbicara dengan seseorang di seberang ponselnya. Tidak lama kemudian..


"Ternyata Armansyah pergi dengan Chakram. Anak muda bernama Chakram itu belum lama menjadi anak buahku, jadi statusnya agak misterius. Aku tidak bisa mencari informasi lebih lanjut tante.." Arron menjelaskan hasil komunikasi dengan salah satu anak buahnya.


********