
Sebuah kamar dengan tipe Presidential Suites, yang dilengkapi dengan box baby menyambut kedatangan pasangan suami istri itu. Semua perabotan dengan bahan dasar dari kayu, tampak elegan dan menyatu dengan interior dan bangunan hotel. Kamar itu betul-betul sebuah kamar yang didesain sangat klasik, namun terlihat sisi modern yang membingkai di sepanjang fasilitas yang digunakan di dalamnya.
Sir Stamford Raffles, kamar yang dipilihkan Alexander untuk mereka, terletak di Gedung Utama, menghadap ke Palm Court yang tenang dan porte-cochère legendaris hotel. Secara arsitektur tampilan kamar itu sangat menakjubkan, yang dilengkapi dengan beranda pribadi. Ruang yang luas - dari ruang tamu hingga ruang makan dan kamar tidur - dihiasi dengan barang antik dan karya seni yang dikuratori dengan cermat. Area fungsional meliputi lemari pakaian walk-in dan dapur pribadi yang diciptakan untuk pelayanan sendiri.
"Kak Andre.. kenapa kamarnya didesain sangat mewah, mesti kak Andre menghabiskan banyak uang untuk pelayanannya." melihat room service yang ternyata disiapkan untuk mereka selama 24 jam, Cassandra bertanya pada suaminya.
"Jangan khawatir honey.. tidak ada kata mahal untuk sebuah pelayanan yang prima untuk keluarga kita. Alexander sudah menyiapkan untuk kita.. nikmatilah.." Andreas Jonathan tersenyum, dan menjelaskan semua pada istrinya. Bahkan kamar tempat mereka beristirahat ini, juga dilengkapi dengan private ruang tamu sendiri, sehingga mereka tidak perlu untuk menuju ke lobby jika karus menerima tamu.
"Tapi kita terlalu wasting money kak.. harusnya uangnya bisa digunakan untuk kepentingan yang lainnya." Cassandra masih terlihat belum ikhlas, dan masih merasa keberatan dengan fasilitas mewah yang disediakan untuk mereka.
"Honey.. aku memiliki saham untuk hotel ini juga, kamu jangan terlalu khawatir dan memusingkan masalah biaya. Ada tarif khusus bagi para pemegang saham, jika akan menginap di beberapa fasilitas milik hotel. Kita masih bisa menghemat hotel honey... tenanglah." lagi-lagi Andreas Jonathan harus menjelaskan pada istrinya.
Cassandra akhirnya terdiam, dan ketika suaminya membaringkan Altezza di box bayi, gadis itu segera mendatangi king size bed kemudian mulai membaringkan tubuhnya di atas bed tersebut. Meskipun mereka menempuh perjalanan untuk waktu yang tidak lama, namun gadis itu masih merasakan lelah. Untuk menghilangkan rasa pegal yang tampak mengganggu di pinggangnya, akhirnya Cassandra kemudian membaringkan tubuhnya di atas bed.
"Bagaimana.. apakah honey merasa capai. Jika iya, kita bisa minta pelayanan makan malam di kamar saja, kita akan undang Alexander untuk datang ke kamar kita. Seharusnya kamar anak itu juga tidak jauh dari kamar kita.." melihat istrinya yang tampak kelelahan, akhirnya Andreas Jonathan merubah rencana.
"Mmm.., Sandra ikut saja kak.. Tapi memang malas sih kak.. sudah sampai di kamar harus turun lagi ke restaurant. Belum lagi jika chef, memasaknya lama untuk kita.." sudah merasa nyaman berbaring di dalam kamar, akhirnya gadis itu meminta suaminya untuk membuat pengaturan dengan melakukan makan malam di kamar ini saja. Selain dapur pribadi, kamar yang mereka tempati ini, juga sudah dilengkapi ruang makan pribadi, sehingga mereka tidak akan khawatir jika bau makanan akan masuk ke dalam kamar tidur mereka.
"Baiklah honey.. istirahatlah dulu di king size bed. Aku akan memberi tahu Alexander, agar membuat pengaturan untuk kita. Malam ini kita bisa menggunakan fasilitas meja makan di kamar kita, untuk melakukan makan malam. Istirahatlah dulu.. bersama ALtezza.." melihat istrinya yang terlihat sudah nyaman dalam posisi tidurnya, akhirnya Andreas Jonathan membuat pengaturan baru.
********
Di penjara
Nyonya Sandrina menjadi bulan-bulanan di penjara, sampai perempuan paruh baya itu tidak berani kemana-mana. Kebetulan tiga teman satu sel dengan perempuan itu, karena mereka terkena kasus yang mengharuskan mereka untuk melakukan tindakan kejahatan. Ada yang kasus karena membela diri ketika akan diperkosa, sehingga tanpa sengaja membunuh pemerkosanya. Kasus penganiayaan karena membela keluarga, dan lain-lain. Sedangkan kasus yang menghantarkan Sandrina masuk ke dalam penjara, dinilai teman-temannya karena keserakahan dan ambisi dari perempuan itu,
Ketiga teman satu sel Sandrina segera menghambur keluar, seperti merasakan kebebasan. Namun tidak dengan perempuan itu. Nyonya Sandrina terlihat ketakutan dan merasa jijik untuk melakukan kegiatan bersih-bersih di sekitar penjara. Karena pada minggu lalu, perempuan itu muntah-muntah dan tidak mau makan hampir satu minggu, hanya gara-gara diminta untuk membersihkan kamar mandi. Perempuan yang tidak pernah mengerjakan pekerjaan seperti itu di rumahnya, merasa tersiksa ketika harus membersihkan kamar mandi.
"Bu Sandrina.. keluar, jangan hanya ngumpet di dalam sel. Cepat.." teriakan sipir penjara mengejutkan perempuan itu. Nyonya Sandrina segera bergegas, dan tanpa menatap wajah sipir penjara itu, perempuan itu segera berjalan cepat untuk menuju ke halaman tengah penjara.
"Hai kamu yang baru datang... masuk ke dalam barisan, dan segera gerakkan badanmu. Cepat.." melihat kedatangan Sandrina, beberapa nara tahanan yang menjadi ketua kelompok berteriak memanggil Sandrina.
Dengan badan menggigil ketakutan, dan menundukkan kepala ke bawah, Nyonya Sandrina segera bergabung dengan teman-temannya yang lain. Para nara pidana yang lain melihatnya dengan tatapan jijik. dan bergeser menyingkir ketika perempuan itu lewat.
"Lelet... cepat... brakk... aduh.." tiba-tiba Sandrina menjerit kesakitan karena didorong oleh sesama nara pidana yang lain. Perempuan itu hanya meringis kesakitan, tetapi tidak berani untuk berteriak untuk meminta pertolongan.
"Ha.. ha.. ha.., jangan pernah berpikir jika kamu itu nyonya besar dalam penjara ini. Kita semua ini sama, ingat NARAPIDANA, camkan itu dalam otakmu perempuan sombong..." seseorang meneriaki nyonya Sandrina dari belakang,
"Ha.. ha.. ha..." nara pidana yang lain ikut mentertawakan perempuan itu
Nyonya Sandrina kembali berdiri, dan tidak mempedulikan lututnya yang mengeluarkan darah karena terantuk conblock yang ada di bawah kakinya. Instruktur senam segera memimpin para nara pidana berolah raga pagi. Karena jarang mendapatkan hiburan selama di penjara, para nara pidana terlihat menikmati musik dangdut yang digunakan untuk mengiringi gerakan senam mereka. Bahkan beberapa di antara mereka, tidak melakukan gerakan senam, melainkan malah berjoged ria. Dalam keadaan seperti itu, Nyonya Sandrina tidak dapat mengikuti mereka.
"Jika kamu mau selamat, setelah senam kamu ikuti saya.." tiba-tiba tanpa disadari oleh perempuan itu, Jennifer tiba-tiba merapat ke belakang tubuhnya, dan berbisik pada perempuan itu.,
Sebenarnya Nyonya Sandrina masih merasa jengkel dengan gadis itu, tetapi kondisi yang dialaminya saat ini, dia membutuhkan teman untuk menyelamatkannya dari keadaan tersebut. Namun ketika Nyonya Sandrina, mau menjawab, Jennifer sudah pergi dari dekatnya.
**********