CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 97 Panik



Nyonya Sandrina kaget, karena ketika membuka matanya dia dan Jennifer sudah berada di dalam mobil. Perempuan itu menoleh ke samping, terlihat Jennifer juga dalam keadaan yang sama. Gadis itu juga dalam keadaan tidur terlelap.


"Jen.., Jenny bangunlah..!!" Nyonya Sandrina membangunkan Jennifer. Perempuan paruh baya itu terlihat panik menyadari posisi mereka saat ini.


Jennifer perlahan mengerjapkan dan membuka matanya. Setelah mata gadis itu terbuka, Jennifer menoleh ke samping dan melihat ke arah Nyonya Sandrina.


"Tante... berarti upaya yang dilakukan Paramore itu sudah selesai Tante. Dengan kekuatannya, kita sudah dipindahkan ke mobil Tante. Coba Tante cari, barang apa yang dibawakan paranormal tadi untuk kita." Jennifer yang sudah hafal dengan sikap paranormal itu menjelaskan pada Nyonya Sandrina.


Setelah mendengar kata-kata Jennifer, Nyonya Sandrina mengedarkan pandangan ke dalam mobil. Terlihat sebuah kresek warna putih tiba-tiba ada di kursi tengah mobil Jennifer.


"Jenni.. apakah dalam tas itu berisi barang-barangmu?" karena penasaran, perempuan paruh baya itu bertanya pada gadis yang duduk di sampingnya itu.


Jennifer tidak menjawab, tapi gadis itu mengambil keresek dan terlihat ramuan dengan aroma Cempaka, dan beberapa rempah-rempah kering di dalam tas kresek tersebut. Melihat isi yang ada di dalam tas tersebut, Jennifer tersenyum.


"Tante.. kita bisa pulang sekarang, ini ramuan herbal dari paranormal sudah diletakkan di dalam mobil. Petunjuk cara menggunakannya ada di dalam tas juga." dengan ekspresi gembira, Jennifer mengajak perempuan paruh baya itu untuk pergi meninggalkannya tempat itu.


"Apakah dengan cara seperti itu, paranormal tadi memperlakukan tamu yang datang memberi uang kepadanya?" merasa tidak suka dengan cara penyambutan paranormal itu, Nyonya Sandrina bertanya dengan nada sinis.


"Bukannya begitu Tante, setiap penasehat spiritual memang punya style sendiri-sendiri dalam memberikan pelayanan pada para pelanggan. Nha kebetulan Ki Wiyoko punya style seperti itu, jika kita ingin hasrat kita terkabul ya kita harus menerimanya Tante." terdengar Jennifer mendukung Ki Wiyoko.


"Baik.. aku akan melihat bagaimana cara kerja dan hasil kerja dari supranatural itu. Apakah ada semacam garansi atau jaminan jika keinginan kita tidak segera terkabul." masih dengan nada sinis, Nyonya Sandrina masih mengejar tentang layanan yang diberikan paranormal itu.


Mendengar perkataan Nyonya Sandrina yang terkesan ketus, Jennifer merasa sebagai tertuduh. Gadis itu berpikir cara untuk mengambil hati perempuan paruh baya itu. Sambil menginjak pedal gas dengan hati-hati, karena rute jalanan yang agak berbelok-belok, Jennifer memikirkan beberapa cara.


"Tante... bukannya garansi Tante sebenarnya. Hanya saja, jika ada yang meleset jauh dari apa yang ingin mereka capai, paranormal itu akan memberikan potongan harga untuk kunjungan selanjutnya. Tapi beberapa kasus yang ada, hanya dan cukup sekali saja kita datang kesana, karena masalah sudah terselesaikan." dengan hati-hati Jennifer memberikan tanggapan.


Nyonya Sandrina tidak menanggapi perkataan Jennifer. Tampaknya perlakuan yang terkesan mengabaikan tadi, membuat perempuan itu tidak berkenan. Biasanya dimana pun, perempuan itu selalu mendapatkan pelayanan spesial dan privielege. Namun kali ini, tanpa seijin dirinya dan bahkan tanpa dia tahu, dirinya sudah dipindahkan ke dalam mobil. Jadi jika ada kejadian buruk yang menimpanya, perempuan itu tidak akan dapat membela diri.


"Semoga Tante Sandrina tidak marah padaku.." Jennifer menoleh ke samping, dan terlihat Nyonya Sandrina sudah memejamkan matanya. Jennifer mengambil nafas lega, dan terus mengarahkan mobil ke arah pulang.


********


"Baiklah Tante . Jenni akan langsung pulang ke apartemen. Tadi sebenarnya mau mampir untuk sekedar mencicipi kopi panas." sambil tersenyum kecut akhirnya Jennifer berpamitan.


"Lain waktulah Jenni.." nyonya Sandrina bergegas masuk ke dalam, dan Jennifer segera pergi meninggalkan halaman itu.


Tanpa melihat kanan kiri, Nyonya Sandrina bergegas masuk ke dalam rumah. Bahkan di ruang tengah pun, perempuan itu tidak melihat ke kanan dan ke kiri tapi langsung menuju ke arah kamar yang ditempatinya.


"Dari mana kamu mam..?" Nyonya Sandrina kaget karena tiba-tiba mendengar suaminya Tuan besar Wijaya bertanya kepadanya. Padahal seharusnya pada jam-jam segini, laki-laki itu belum terlihat batang hidungnya.


"Jalan-jalan pa.. sama Jennifer. Kayak papa tidak tahu saja, apa yang menjadi kesukaan mama." perempuan itu membuat alasan.


"Kemana, tumben kali ini tidak ada oleh-oleh di tangan mamah, apakah delivery order?" merasa bukan kebiasaan istrinya, Tuan besar Wijaya mencari tahu.


"Bosan pa, barang-barang yang dijual masih stock lama. Kapan-kapan saja tinggal terbang ke Singapura, jika memang niat mau shopping." perempuan itu membuat alasan.


"Hmmm.., tapi apa yang kamu bawa di belakang tanganmu itu." mendengar pertanyaan terakhir, Nyonya Sandrina speechless. Perempuan itu tidak menyangka jika suaminya akan sepeka itu.


"Bukan apa-apa pa.., tadi diberikan teman wedang uwuh. Minuman tradisional khas Yogyakarta, kebetulan beberapa waktu lalu teman habis pulang dari Jogja. Tadi kita ketemuan, dan mamah diberi oleh-oleh wedang uwuh." tadi Melihat sekilas jika kresek itu berisi daun-daunan, Nyonya Sandrina harap menjawab asal.


"Papa pikir oleh-olehnya gudeg Yu Djum, atau bakpia pathok. Karena hanya wedang uwuh, ya mamah minum sendiri saja." sahut tuan besar Wijaya, dan laki-laki itu kemudian berlalu dari tempat itu.


Melihat perginya suaminya keluar, Nyonya Sandrina bergegas meninggalkan ruangan itu dan segera masuk ke dalam kamarnya. Perempuan itu segera menyimpan kresek dari paranormal itu di atas meja riasnya. Karena merasa tubuhnya lengket dan kotor, Nyonya Sandrina kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tidak lama kemudian setelah selesai mandi, perempuan itu kemudian keluar dari dalam kamar dengan mengenakan piyama yang terbuat dari handuk.


"Masih jam.segini.., sepertinya aku masih bisa tidur dulu sebentar. Nanti aku akan keluar ketika bergabung dengan makan malam saja." belum mendengar suara adzan, perempuan itu memutuskan untuk memejamkan matanya sebentar saja.


Nyonya Sandrina melihat ke arah jam dinding yang ada di kamar itu, waktu menunjukkan sudah jam 17.35 menit. Perlahan nyonya Sandrina berjalan ke arah ranjang, dan tidak lama kemudian perempuan paruh baya itu sudah merebahkan tubuh di atas king size bed. Rasa dingin yang pas, akhirnya cepat membuat perempuan itu tertidur. Dan tidak lama kemudian suara dengkuran lirih terdengar, yang menandakan jika perempuan itu sudah terlelap.


*******