CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 168 Jaminan



Di sebuah tempat, terlihat nyonya Sandrina dan Jennifer tengah duduk di sebuah kursi. Kondisi dua perempuan itu tampak baik-baik saja, dan ternyata uang bisa merubah segalanya. Duduk di depan dua perempuan itu adalah Armansyah, suami nyonya Sheilla ketika di Singapura. Namun kali ini, dengan kekuasaan Andreas Jonathan, hubungan keduanya sudah dipisahkan dengan selembar kertas akta cerai. Entah bagaimana caranya, Armansyah dan Nyonya Sandrina bisa bertemu di tempat itu.


"Jenni... kamu tidak perlu bersikap sinis pada Armansyah. Laki-laki ini masih memiliki hubungan keluarga denganku, dan peran penting memisahkan hubungan mama Andreas Jonathan dengan Wijaya di masa lalu. Akhirnya kita bisa bertemu dan berkumpul, meskipun dalam keadaan yang seperti ini, ha.. ha.. ha.." melihat Jennifer yang merasa jijik, sejak tadi dilihati Armansyah, nyonya Sandrina berusaha mendekatkan mereka.


"Hmm... iya tante.." Jennifer hanya menjawab singkat, namun gadis itu menjauhkan kakinya dari kaki Armansyah. Rupanya laki-laki itu malah seperti memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati gadis itu, dan sejak tadi berusaha merangsek ke arah Jennifer duduk.


"Bagaimana bang.. apakah pembekuan rekening bankku yang ada di Canada, bisa diproses unfreezing?? Kondisi keuanganku di Indonesia sudah menipis. Semua asset perhiasan yang berhasil aku bawa, sudah semuanya aku cairkan." Nyonya Sandrina melihat ke arah laki-laki itu.


"Aku sudah usahakan Sandrina.. orang-orangku sedang berupaya untuk itu. Namun mereka meminta pembagian 40% untuk mereka, sedangkan kamu hanya menerima 60%. Jika kamu sepakat dengan syarat itu, aku akan katakan pada mereka. Namun jika kamu tidak sepakat, aku akan berusaha mencari cara lain meskipun akan terasa sulit, apalagi lintas peraturan." sambil melirik dan mengedipkan mata pada Jennifer, Armansyah menanggapi perkataan nyonya Sandrina.


Ketiga orang itu akhirnya terdiam, dan Jennifer tiba-tiba berdiri kemudian berpindah tempat. Armanyah menengadahkan wajahnya ke atas, melihati gadis itu, yang akhirnya berpindah dan mengambil tempat duduk di samping nyonya Sandrina,


"Bang Arman.. kesampingkan dulu hasratmu pada Jennifer, kamu malah menakuti gadis ini. Saat ini, kita sedang bicara serius, jangan alihkan fokus pembicaraan kita." melihat sikap Armansyah, nyonya Sandrina memberi teguran pada laki-laki itu.


"Hmm.. iya, iya.. Anak buahku sudah gagal untuk menyakiti Stevie, gadis itu berhasil diselamatkan oleh anak buah Andreas Jonathan yang bernama Alexander. Bahkan sampai sekarang, keberadaan anak buahku belum berhasil aku lacak keberadaanya. Terakhir kali, di stasiun Gambir padahal dia sudah berhasil melarikan diri ketika dikejar oleh Alexander, tetapi setelah itu menghilang tidak ada jejaknya." akhirnya setelah mengambil nafas panjang, Armansyah bercerita.


"Stevie.., Stevie.., itu anak Sheilla dan Wijaya yang berhasil kita pisahkan dulu ya.."


"Benar.., tapi saat ini sepertinya Wijaya sudah mengetahui jika gadis itu adalah putrinya. Namun.. karena tidak berada di samping putrinya sejak Stevie terlahir ke dunia ini, hubungan gadis itu dengan Wijaya tidak pernah akrab. Malah mungkin, lebih dekat ke aku daripada ke Wijaya." sambil tersenyum  kecut, Wijaya menjawab.


"Apa.., lebih ke akrab ke kamu Wijaya? Sejak kapan kamu bermimpi. bisa bersikap lunak pada anak perempuan orang, dan malah bisa mengakrabkan diri kepadanya."


"Jangan salah paham kepadaku Sandrina.. Aku mendampingi Sheilla sejak dia mengandung Stevie, menunggui bayi itu lahir, dan meskipun hubungan kami tidak baik, kita tumbuh bersama. Stevie pasti akan merasakan kedekatan emosional kepadaku, yang tidak bisa dirasakan oleh papanya, Wijaya.."


Mendengar pembicaraan dua orang itu, sedikit demi sedikit Jennifer mulai mengerti bagaimana carut marut hubungan dua orang itu dengan keluarga Tuan Wijaya.


********


Di sebuah gudang


"Buka penutup mata dua orang itu, aku ingin menatap mata dan melihatnya jika kedua orang itu menahan sakit." suara Andreas Jonathan dengan lantang terdengar di gudang tersebut.


"Siap tuan muda.." dua orang anak buah berlari ke depan, kemudian membuka penutup mata dua orang itu.


Tidak lama kemudian, dua laki-laki yang sudah dibuka penutup matanya itu tampak terlihat mengamati dua orang yang berdiri dengan gagah di depan mereka. Namun, ketika salah satu dari mereka melihat ke arah Alexander, terlihat wajahnya kembali pucat. Laki-laki itu mengingat ketika berada di stasiun Gambir, pernah beradu kekuatan dengan Alexander, dan akhirnya dia memilih untuk melarikan sendiri.


Andreas Jonathan dan Alexander berjalan mendekati kedua laki-laki itu, kemudian sambil menyeringai meletakkan ujung pisau di pipi laki-laki itu. Wajah salah satu dari laki-laki itu terlihat pucat, merasa cemas jika sampai ujung pisau menoreh pipinya.


"Kamu adalah laki-laki, bagaimana perasaanmu jika pisau ini menyayat pipi atau bagian lain dari wajahmu.. Hal ini bukan yang kamu  rencanakan untuk melakukannya di pipi adik perempuanku," masih dengan menyeringai, Andreas Jonathan bertanya pada laki-laki itu.


"Ja... jangan lakukan tuan muda.., saya mengakui kesalahan." laki-laki itu semakin pucat, ketika ujung pisau menekan ke dalam kulit pipinya.


"Huh... jangan.., gampang anak muda.. Katakan, atas perintah siapa kamu melakukan tindakan itu, aku akan memberikan ampunan kepadamu jika bisa aku ajak kerja sama. Tetapi jika kamu menolaknya, semula pisau ini akan menoreh pipi, dan mengoyak daging sambil mengulitinya dari tulang-tulangmu." Andreas Jonathan membuat kalimat ancaman,


"Jangan mudah terpedaya Bahar... laki-laki itu hanya mengancammu. Kita akan mendapatkan hukuman yang lebih kejam, jika kita berani mengkhianati tuan kita.." teman laki-laki yang ada di sampingnya memberikan peringatan pada anak muda itu.


"Dor.. aaawww...." tiba-tiba laki-laki itu menjerit kesakitan sambil memegangi tangannya. Darah mengucur deras, mengalir keluar dari telapak tangan laki-laki itu.


"Ingat kalian berdua.., itu baru peringatan awal dariku. Aku akan bisa bertindak lebih kejam pada kalian berdua, jika kalian tidak mau memberi tahu pada kami, siapa yang menyuruh kalian berani bertindak culas kepada kami. Hutang nyawa.., harus dibayar pula dengan nyawa.. Jangan berani-berani, untuk berurusan dengan kami..." Alexander berteriak, memberikan penegasan pada tindakannya dengan Andreas Jonathan,


"Ampun.. ampun tuan, saya akan memberi tahu pada kalian berdua, tetapi saya minta jaminan agar tidak mendapatkan hukuman dari tuan saya.." laki-laki yang sempat bertarung dengan Alexander di stasiun, berusaha melakukan negosiasi.


"Hmm.. apa katamu, jaminan..?? Siapa yang bisa memberikanmu hak pilih, dan apakah kamu terlalu percaya diri, akan bisa melarikan diri dari tempat ini.. Hey... sadarlah kalian, orang yang mempekerjakan kalian, mungkin sudah lupa jika memiliki anak buah seperti pengecut." Alexander berteriak.


*********